Part 2: Sari Memilih Riki
Kabut pagi masih menggantung di lereng Bukik Sambuang ketika suara ayam berkokok bersahutan dari berbagai penjuru desa.
Hari itu terlihat seperti hari biasa.
Namun bagi Dajon, hidupnya tidak lagi sama sejak malam di bawah pohon tua itu.
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak pertunangan Sari dan Riki.
Selama itu pula suara misterius yang pernah didengarnya terus muncul.
Kadang terdengar saat ia sendirian di kebun.
Kadang muncul saat menjelang tidur.
Kadang bahkan terdengar di tengah keramaian.
"Cinta yang hilang bisa dipanggil kembali..."
Awalnya Dajon mencoba mengabaikannya.
Tetapi semakin hari suara itu semakin jelas.
Semakin nyata.
Seolah ada seseorang yang terus mengawasinya dari balik kabut.
---
Di rumah keluarga Sari, suasana justru dipenuhi kebahagiaan.
Riki semakin sering datang membantu pekerjaan keluarga calon istrinya.
Ia membantu memperbaiki atap rumah.
Mengangkat hasil panen.
Bahkan menemani ayah Sari ke pasar.
Semua orang memuji sikapnya.
"Anak itu baik," kata Mak Eni suatu sore.
"Tak salah Sari memilihnya."
Sari hanya tersenyum malu.
Namun jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa tidak nyaman.
Bukan karena Riki.
Melainkan karena Dajon.
Sejak pertunangan itu, Dajon seperti menghilang.
Tak pernah lagi menyapa.
Tak pernah lagi terlihat di jalan desa.
Tak pernah lagi datang ke pasar pada hari yang sama.
Seolah sengaja menghindari semua orang.
Dan itu membuat hati Sari terasa tidak enak.
---
Suatu sore, Sari memberanikan diri mendatangi rumah Dajon.
Ia menemukan ibunya sedang menyapu halaman.
"Assalamu'alaikum, Mak."
"Wa'alaikum salam, Sari."
"Apakah Dajon ada?"
Wajah wanita tua itu tampak murung.
"Ada. Tapi akhir-akhir ini dia sering mengurung diri."
Sari terkejut.
"Sakit?"
"Tidak tahu. Dia jarang bicara sekarang."
Sari semakin khawatir.
Ketika masuk ke dalam rumah, ia menemukan Dajon sedang duduk di dekat jendela.
Wajahnya pucat.
Matanya cekung.
Seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.
"Dajon..."
Pemuda itu perlahan menoleh.
Tatapan matanya membuat Sari merinding.
Kosong.
Dingin.
Berbeda dari Dajon yang dikenalnya selama ini.
"Kau datang untuk apa?" tanya Dajon.
Sari terdiam sesaat.
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik."
"Kau terlihat tidak baik."
Dajon tersenyum tipis.
Senyum yang terasa aneh.
"Sekarang kau sudah punya Riki."
Kalimat itu membuat suasana menjadi canggung.
"Dajon, aku..."
"Tidak perlu menjelaskan apa-apa."
Sari menunduk.
Ia tahu Dajon terluka.
Tetapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
"Aku berharap kau bahagia."
Dajon menatap keluar jendela.
Lama sekali.
Lalu berkata pelan.
"Bahagia?"
Suaranya terdengar seperti bisikan.
"Kadang orang tidak diberi kesempatan untuk bahagia."
---
Malam itu hujan turun deras.
Petir menyambar berkali-kali di atas perbukitan.
Dajon kembali bermimpi.
Ia melihat dirinya berdiri di bawah pohon tua.
Kabut hitam memenuhi seluruh bukit.
Lalu muncul sosok berjubah hitam dari balik kegelapan.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun suaranya sangat jelas.
"Kau masih mencintainya?"
"Iya."
"Kau ingin memilikinya?"
"Iya."
"Walaupun harus mengorbankan segalanya?"
Dajon terdiam.
Entah mengapa tubuhnya terasa berat.
Namun bibirnya bergerak sendiri.
"Iya."
Sosok itu tertawa.
Suara tawanya menggema ke seluruh bukit.
Membuat tanah bergetar.
Kemudian dari balik kabut muncul ratusan bayangan hitam.
Mereka berbisik bersamaan.
"Sijundai..."
"Sijundai..."
"Sijundai..."
Dajon terbangun dengan napas memburu.
Tubuhnya basah oleh keringat.
Di luar rumah hujan masih turun.
Tetapi ada sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di lantai kamarnya terdapat jejak kaki berlumpur.
Jejak itu mengarah ke pintu.
Padahal seluruh pintu dan jendela masih terkunci.
---
Keesokan harinya, kejadian aneh mulai menimpa Sari.
Saat sedang menyisir rambut di depan cermin, ia menemukan sehelai rambut putih yang sangat panjang tersangkut di sisirnya.
Padahal rambutnya hitam pekat.
Ia mengira itu hanya kebetulan.
Namun malam berikutnya, rambut putih itu muncul lagi.
Kali ini berada di atas bantal.
Lalu di dalam lemari.
Lalu di bawah meja makan.
Semakin hari jumlahnya semakin banyak.
Sari mulai merasa takut.
---
Di sisi lain, Riki juga mengalami hal yang tak kalah aneh.
Saat pulang dari sawah menjelang magrib, ia melihat seorang wanita berdiri di tengah jalan.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya putih lusuh.
Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut.
Riki mengira itu salah satu warga desa.
"Permisi..."
Wanita itu tidak bergerak.
"Permisi, apakah Anda baik-baik saja?"
Tetap tidak ada jawaban.
Ketika Riki melangkah mendekat, sosok itu perlahan mengangkat kepala.
Dan saat itulah Riki melihat wajahnya.
Kosong.
Tidak memiliki mata.
Tidak memiliki hidung.
Tidak memiliki mulut.
Hanya kulit pucat tanpa bentuk.
Riki berteriak dan mundur.
Namun ketika berkedip sekali saja, sosok itu sudah menghilang.
Menyisakan jalan kosong yang diselimuti kabut.
---
Malamnya, Riki menceritakan kejadian itu kepada Sari.
Mereka sama-sama ketakutan.
"Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres," kata Sari.
Riki mengangguk.
"Aku juga."
Untuk pertama kalinya sejak bertunangan, mereka merasa ada bayangan gelap yang mengawasi hubungan mereka.
Bayangan yang tidak mereka pahami.
---
Sementara itu, jauh di pinggir hutan, lelaki tua yang sama kembali duduk di pondoknya.
Di depannya terdapat mangkuk tanah liat berisi air keruh.
Permukaan air memperlihatkan wajah Dajon.
Kemudian berubah menjadi wajah Sari.
Lalu wajah Riki.
Lelaki tua itu tersenyum puas.
"Benihnya sudah tumbuh."
Ia mengambil segenggam tanah hitam lalu menjatuhkannya ke dalam mangkuk.
Air keruh itu langsung berubah merah seperti darah.
"Sekarang tinggal menunggu rasa sakit itu berubah menjadi kebencian."
Di luar pondok, angin tiba-tiba bertiup kencang.
Pepohonan bergoyang keras.
Dan dari dalam hutan terdengar suara tawa yang tidak menyerupai suara manusia.
Malam di Bukik Sambuang semakin gelap.
Sementara Dajon belum menyadari bahwa dirinya perlahan sedang ditarik menuju sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada patah hati.
Sesuatu yang selama puluhan tahun hanya menjadi bisikan menakutkan di kalangan warga desa.
Sijundai.
Dan kutukan itu baru saja dimulai.
BERSAMBUNG KE PART 3: DAJON YANG PATAH HATI
