Sunday, June 7, 2026

SIJUNDAI: Dendam Cinta dari Bukik Sambuang part lll






Part 3: Dajon yang Patah Hati

Sejak kejadian-kejadian aneh mulai menimpa Sari dan Riki, suasana Desa Bukik Sambuang perlahan berubah.

Warga yang biasanya berkumpul hingga larut malam kini memilih masuk rumah lebih awal.

Beberapa orang mengaku mendengar suara tangisan perempuan dari arah bukit tua.

Ada pula yang melihat bayangan hitam berdiri di tepi sawah saat kabut turun menjelang magrib.

Namun tidak ada yang berani memastikan kebenarannya.

Mereka hanya saling berbisik.

Lalu diam.

Karena di desa itu, ada beberapa hal yang lebih baik tidak dibicarakan.

---

Sementara itu, keadaan Dajon semakin memburuk.

Ia jarang keluar rumah.

Nafsu makannya hilang.

Tubuhnya semakin kurus.

Bahkan ibunya mulai khawatir melihat perubahan anak semata wayangnya itu.

Suatu pagi, wanita tua itu masuk ke kamar Dajon.

Ia menemukan anaknya duduk di pojok ruangan.

Tatapannya kosong mengarah ke dinding.

"Dajon..."

Tidak ada jawaban.

"Dajon, kau belum makan sejak kemarin."

Pemuda itu perlahan menoleh.

"Ibu pernah kehilangan seseorang yang sangat dicintai?"

Pertanyaan itu membuat wanita tua tersebut terdiam.

"Tentu pernah."

"Bagaimana cara melupakannya?"

Wanita itu tersenyum sedih.

"Bukan dilupakan."

"Lalu?"

"Diterima."

Namun jawaban itu justru membuat wajah Dajon semakin muram.

"Aku tidak bisa menerima."

---

Malam harinya, Dajon kembali mendatangi bukit tua.

Entah mengapa ada dorongan kuat yang memaksanya datang ke sana.

Langkahnya terasa ringan.

Seolah seseorang sedang memandu jalannya.

Kabut malam turun lebih tebal dari biasanya.

Bahkan cahaya bulan nyaris tidak terlihat.

Ketika tiba di bawah pohon tua, udara terasa sangat dingin.

Tiba-tiba suara yang selama ini menghantuinya kembali terdengar.

"Kau datang lagi..."

Dajon langsung menoleh.

"Siapa kau?"

Suara itu tertawa kecil.

"Orang yang mengerti rasa sakitmu."

"Aku tidak mengenalmu."

"Tapi aku mengenalmu."

Jantung Dajon berdegup keras.

Kabut di depannya perlahan bergerak.

Membentuk sosok manusia.

Tinggi.

Kurus.

Berjubah hitam.

Wajahnya tetap tidak terlihat.

Namun kali ini Dajon tidak lari.

Entah karena takut.

Atau karena penasaran.

"Kau mencintai Sari."

"Iya."

"Kau ingin memilikinya."

Dajon tidak menjawab.

Sosok itu melangkah mendekat.

"Cinta yang direbut orang lain adalah luka yang sulit sembuh."

Dajon mengepalkan tangan.

Luka di dalam hatinya kembali terasa.

"Apa yang harus kulakukan?"

Sosok itu tersenyum.

Meskipun wajahnya tidak terlihat, Dajon bisa merasakan senyum mengerikan tersebut.

"Tunggu waktunya."

---

Keesokan paginya Dajon terbangun di rumah.

Ia tidak ingat bagaimana bisa pulang.

Yang lebih aneh lagi, telapak tangannya dipenuhi tanah hitam.

Padahal sebelum tidur ia sudah membersihkan diri.

Ia mencoba mengabaikannya.

Namun sejak malam itu, kejadian-kejadian aneh semakin sering terjadi.

Kadang ia mendengar suara langkah kaki di atas atap rumah.

Kadang ada suara orang berbisik dari balik dinding.

Kadang terdengar suara perempuan menangis tepat di samping telinganya.

Tetapi ketika dicari, tidak ada siapa-siapa.

---

Di sisi lain, Sari mulai mengalami mimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia selalu berada di tengah hutan.

Kabut tebal menyelimuti seluruh jalan.

Lalu dari kejauhan muncul seorang perempuan tua.

Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah.

Pakaiannya compang-camping.

Matanya hitam pekat.

Perempuan itu selalu mengatakan kalimat yang sama.

"Pergilah..."

"Pergilah sebelum terlambat..."

Kemudian mimpi itu berakhir dengan suara jeritan yang sangat mengerikan.

Sari terbangun setiap malam dengan tubuh gemetar.

---

Suatu sore, Sari menceritakan semuanya kepada Riki.

Riki yang biasanya tenang kini mulai terlihat cemas.

"Ini bukan kebetulan."

"Kau juga berpikir begitu?"

Riki mengangguk.

"Ada sesuatu yang sedang mengganggu kita."

Mereka sempat mempertimbangkan untuk meminta bantuan seorang ustaz dari desa tetangga.

Namun sebelum sempat melakukannya, kejadian yang lebih menakutkan terjadi.

---

Malam itu listrik di desa padam.

Hujan turun sangat deras.

Angin kencang mengguncang jendela rumah-rumah warga.

Saat sedang duduk di ruang tengah, Sari mendengar suara ketukan dari pintu depan.

Tok.

Tok.

Tok.

Ia mengira Riki datang berkunjung.

"Sebentar."

Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa.

Hanya hujan dan kegelapan.

Sari hendak menutup pintu kembali.

Namun matanya menangkap sesuatu di tanah.

Sebuah boneka kecil dari jerami.

Boneka itu diikat dengan benang merah.

Dadanya tertusuk duri panjang.

Sari langsung menjerit.

---

Jeritan itu membuat seluruh keluarga berlari keluar.

Ayah Sari mengambil boneka tersebut.

Wajahnya langsung pucat.

"Siapa yang menaruh ini?"

Tidak ada yang tahu.

Namun seorang tetua desa yang kebetulan melihat benda itu langsung beristighfar.

"Lemparkan ke sungai."

"Kenapa?"

Tetua itu menatap boneka tersebut dengan wajah tegang.

"Aku pernah melihat benda seperti ini puluhan tahun lalu."

"Di mana?"

"Lupakan saja."

Tetapi nada suaranya menunjukkan ketakutan yang nyata.

---

Keesokan harinya kabar itu menyebar ke seluruh Bukik Sambuang.

Orang-orang mulai membicarakan satu nama yang sudah lama tidak disebut.

Sijundai.

Sebagian warga menganggapnya hanya cerita lama.

Namun sebagian lainnya percaya bahwa ilmu itu benar-benar ada.

Dan kini mungkin telah kembali.

---

Sementara itu, Dajon kembali mengalami mimpi aneh.

Ia melihat dirinya berjalan di tengah kuburan tua.

Kabut hitam memenuhi seluruh area.

Di setiap batu nisan tertulis nama yang tidak dikenalnya.

Lalu tiba-tiba semua nisan itu retak bersamaan.

Dari dalam tanah muncul tangan-tangan pucat.

Jumlahnya ratusan.

Mereka berusaha meraih kaki Dajon.

Ia mencoba berlari.

Namun langkahnya terasa berat.

Kemudian suara yang sama kembali terdengar.

"Kau ingin Sari kembali?"

"Iya..."

"Kau rela melakukan apa saja?"

Dajon terdiam.

Suara itu terdengar semakin dekat.

"Rasa sakitmu adalah pintu."

"Kemarahanmu adalah kuncinya."

"Dan dendammu akan membuka semuanya."

Tiba-tiba seluruh tangan yang keluar dari tanah menunjuk ke satu arah.

Di sana berdiri sosok lelaki tua yang pernah muncul dalam mimpinya.

Matanya merah menyala.

Senyumnya membuat darah membeku.

"Aku akan menunggumu."

---

Dajon terbangun dengan napas terengah-engah.

Matahari belum terbit.

Namun ada satu hal yang membuatnya membeku.

Di lantai kamarnya terdapat jejak tanah basah.

Jejak itu membentuk jalur menuju jendela.

Dan di bawah jendela terdapat sebuah benda.

Seikat rambut panjang yang diikat benang merah.

Dajon menatap benda itu dengan tubuh gemetar.

Untuk pertama kalinya ia mulai percaya.

Semua ini bukan mimpi.

Seseorang.

Atau sesuatu.

Sedang mendekatinya.

Dan jauh di dalam hatinya, rasa sedih yang selama ini ia pendam mulai berubah menjadi kemarahan.

Kemarahan yang perlahan tumbuh.

Kemarahan yang suatu hari nanti mungkin akan menghancurkan segalanya.

Di luar rumah, kabut pagi turun menutupi Bukik Sambuang.

Sementara dari kedalaman hutan, seseorang sedang mengawasi.

Menunggu.

Karena waktu yang tepat hampir tiba.

BERSAMBUNG KE PART 4: BISIKAN ILMU SIJUNDAI