Sunday, June 7, 2026

SIJUNDAI: Dendam Cinta dari Bukik Sambuang part lV






SIJUNDAI: Dendam Cinta dari Bukik Sambuang

Part 4: Bisikan Ilmu Sijundai

Kabut yang menyelimuti Desa Bukik Sambuang pagi itu terasa lebih tebal dari biasanya.

Warga yang hendak pergi ke sawah mengaku sulit melihat jalan meski matahari sudah terbit.

Beberapa orang tua mulai saling berpandangan cemas.

Mereka pernah merasakan suasana seperti ini puluhan tahun lalu.

Sebuah masa yang tidak ingin mereka ingat kembali.

Masa ketika nama Sijundai terakhir kali disebut di desa itu.

---

Dajon duduk seorang diri di beranda rumah.

Di tangannya masih tergenggam seikat rambut panjang yang ditemukan di kamarnya.

Semalaman ia tidak tidur.

Pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Siapa yang meletakkan rambut itu?

Mengapa semua kejadian aneh selalu berhubungan dengannya?

Dan siapa sebenarnya sosok tua dalam mimpinya?

Ketika matahari mulai meninggi, ibunya datang membawa sarapan.

"Dajon, makanlah."

"Aku tidak lapar."

"Kau harus menjaga kesehatanmu."

Dajon hanya diam.

Wanita tua itu memandangi wajah anaknya yang semakin pucat.

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan hanya kesedihan.

Tetapi sesuatu yang jauh lebih gelap.

---

Malam berikutnya, suara itu kembali datang.

Lebih jelas dari sebelumnya.

"Kau masih menderita..."

Dajon yang sedang berbaring langsung membuka mata.

Suara itu berasal dari luar rumah.

Tanpa sadar ia bangkit.

Lalu berjalan keluar.

Kabut malam telah menutupi seluruh desa.

Namun langkahnya seolah mengetahui tujuan.

Ia terus berjalan menuju bukit tua.

Menuju pohon besar yang menjadi pusat semua mimpi buruknya.

Ketika sampai, sosok berjubah hitam telah menunggu.

Berdiri diam di bawah pohon.

"Akhirnya kau datang."

"Apa yang kau inginkan dariku?"

Sosok itu tertawa pelan.

"Bukan aku yang menginginkan sesuatu."

"Lalu siapa?"

"Kau sendiri."

Dajon mengepalkan tangan.

"Aku hanya ingin melupakan semuanya."

"Bohong."

Suara itu terdengar tajam.

"Kau ingin Sari kembali."

Dajon terdiam.

"Kau ingin Riki merasakan sakit yang sama."

Dajon menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.

---

Kabut di sekitar mereka bergerak perlahan.

Membentuk bayangan-bayangan aneh.

Dajon melihat wajah Sari.

Tersenyum kepada Riki.

Tertawa bersama Riki.

Berjalan bergandengan tangan dengan Riki.

Pemandangan itu membuat dadanya terbakar.

"Kau lihat?"

Suara misterius itu kembali terdengar.

"Semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu."

"Diam!"

Dajon berteriak.

Namun bayangan itu tidak menghilang.

Sebaliknya, semakin jelas.

Semakin menyakitkan.

"Kau masih bisa mengubah semuanya."

Dajon menatap sosok berjubah hitam itu.

"Bagaimana caranya?"

Sosok itu tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya mengucapkan nama yang selama ini hanya menjadi bisikan.

"Sijundai."

---

Di tempat lain, Sari kembali mengalami mimpi buruk.

Kali ini lebih mengerikan.

Ia melihat dirinya berdiri di tengah pemakaman tua.

Semua nisan dipenuhi lumut.

Kabut hitam bergerak di antara kuburan.

Kemudian dari kejauhan muncul seorang perempuan tua.

Perempuan yang sama seperti dalam mimpi-mimpinya sebelumnya.

Namun kali ini perempuan itu menangis.

Air mata hitam mengalir dari matanya.

"Lari..."

"Kenapa?"

"Lari sebelum semuanya terlambat."

"Terlambat apa?"

Perempuan itu menunjuk ke belakang Sari.

Dengan perlahan Sari menoleh.

Dan ia melihat Dajon berdiri di sana.

Namun wajahnya berbeda.

Matanya merah.

Kulitnya pucat.

Dan di belakangnya berdiri ratusan bayangan hitam.

Sari menjerit.

Lalu terbangun.

---

Keesokan paginya, ia langsung menemui Riki.

"Aku bermimpi tentang Dajon."

Riki mengernyit.

"Dajon?"

Sari mengangguk.

Kemudian menceritakan semuanya.

Wajah Riki berubah serius.

"Aku juga merasa ada sesuatu yang tidak beres."

"Maksudmu?"

"Sudah tiga kali aku melihat bayangan seseorang mengawasi rumahku."

Sari merinding.

"Kau mengenalnya?"

Riki menggeleng.

"Tidak."

"Tapi setiap kali aku mencoba mendekat, bayangan itu menghilang."

Mereka mulai sadar.

Kejadian-kejadian aneh ini mungkin bukan kebetulan.

---

Sore harinya, salah seorang tetua desa bernama Pak Jaman mendatangi rumah Sari.

Usianya hampir delapan puluh tahun.

Ia termasuk sedikit orang yang masih mengetahui cerita-cerita lama Bukik Sambuang.

Setelah mendengar semua kejadian yang dialami Sari dan Riki, wajahnya langsung berubah pucat.

"Kalian harus berhati-hati."

"Kenapa, Pak?"

Pak Jaman menarik napas panjang.

"Dulu pernah ada pemuda yang patah hati di desa ini."

Lalu ia mulai bercerita.

Puluhan tahun lalu, seorang lelaki mencintai seorang gadis.

Namun gadis itu menikah dengan orang lain.

Karena tidak sanggup menerima kenyataan, lelaki tersebut mencari jalan gelap.

Ia mendatangi seseorang di hutan.

Seseorang yang dikenal menguasai ilmu terlarang.

Sejak saat itu kejadian mengerikan mulai terjadi.

Sang gadis jatuh sakit tanpa sebab.

Suaminya kehilangan akal.

Dan akhirnya keduanya meninggal dalam keadaan mengenaskan.

"Orang-orang menyebut ilmu itu Sijundai."

Sari dan Riki saling berpandangan.

Bulu kuduk mereka meremang.

---

Malam itu, Dajon kembali mendatangi bukit.

Kali ini ia tidak lagi merasa takut.

Justru ada rasa penasaran yang semakin besar.

"Apa sebenarnya Sijundai?"

Sosok berjubah hitam berdiri di depannya.

"Jalan bagi mereka yang hatinya hancur."

"Apakah bisa membuat seseorang kembali mencintaiku?"

"Tidak ada yang mustahil."

"Dan apa yang harus kubayar?"

Sosok itu diam beberapa saat.

Lalu menjawab.

"Setiap keinginan memiliki harga."

"Harga seperti apa?"

"Kau akan mengetahuinya nanti."

Jawaban itu membuat Dajon ragu.

Namun bayangan Sari dan Riki kembali muncul di hadapannya.

Tertawa.

Bahagia.

Bersama.

Dan rasa sakit di hatinya kembali membara.

---

Di pondok tua di pinggir hutan, lelaki tua yang selama ini muncul dalam mimpi Dajon sedang tersenyum.

Di depannya terdapat mangkuk tanah liat berisi air hitam.

Permukaan air memperlihatkan wajah Dajon.

Lalu perlahan berubah menjadi kobaran api.

"Sedikit lagi."

Ia mengambil sebuah kantong kecil berisi tanah kuburan.

Kemudian menaburkannya ke dalam mangkuk.

Api dalam air itu semakin besar.

"Rasa sakit telah berubah menjadi kemarahan."

"Dan kemarahan akan segera berubah menjadi dendam."

Angin malam berembus kencang.

Lampu minyak di pondok berkedip-kedip.

Lalu padam dengan sendirinya.

Dalam kegelapan terdengar suara tawa.

Tawa yang tidak berasal dari manusia.

---

Sementara itu, jauh di Desa Bukik Sambuang, Dajon berdiri sendirian di bawah pohon tua.

Kabut bergerak mengelilinginya.

Suara-suara bisikan datang dari segala arah.

Ratusan suara.

Ribuan suara.

Mereka semua mengucapkan satu kata yang sama.

"Sijundai..."

"Sijundai..."

"Sijundai..."

Dan untuk pertama kalinya, Dajon tidak lagi menutup telinganya.

Ia mendengarkan.

Karena jauh di dalam hatinya, benih kegelapan mulai tumbuh.

Tanpa ia sadari, satu langkah lagi dan jalan untuk kembali mungkin akan tertutup selamanya.

BERSAMBUNG KE PART 5: KEJADIAN ANEH MULAI TERJADI