Sunday, June 7, 2026

SIJUNDAI: Dendam Cinta dari Bukik Sambuang part V





Part 5: Kejadian Aneh Mulai Terjadi

Malam-malam di Desa Bukik Sambuang tidak lagi terasa sama.

Sejak beberapa minggu terakhir, ketenangan yang selama ini menyelimuti desa perlahan berubah menjadi rasa takut yang sulit dijelaskan.

Orang-orang mulai menutup pintu rumah sebelum magrib.

Anak-anak dilarang bermain hingga senja.

Bahkan suara cengkerik yang biasanya memenuhi malam kini terasa kalah oleh bisikan-bisikan yang muncul dari balik kabut.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang terjadi.

Namun semua orang merasakan satu hal yang sama.

Ada sesuatu yang sedang bangun.

---

Sari mulai kehilangan ketenangan hidupnya.

Setiap malam ia bermimpi buruk.

Setiap pagi tubuhnya terasa lemah.

Wajahnya yang dulu cerah kini terlihat pucat.

Bahkan ibunya mulai khawatir.

"Kau sakit?"

"Tidak, Mak."

"Lalu kenapa wajahmu seperti orang tidak tidur?"

Sari hanya tersenyum tipis.

Ia tidak sanggup menceritakan mimpi-mimpi mengerikan yang terus menghantuinya.

Mimpi tentang kuburan.

Tentang perempuan tua berambut panjang.

Dan tentang Dajon yang selalu muncul di akhir mimpi dengan mata merah menyala.

---

Keadaan Riki juga tidak jauh berbeda.

Suatu sore saat sedang bekerja di sawah, ia tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya.

"Riki..."

Suara itu terdengar jelas.

Tepat di belakangnya.

Ia segera menoleh.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Sawah itu kosong.

Hanya hamparan padi yang bergerak tertiup angin.

Riki mencoba kembali bekerja.

Namun beberapa menit kemudian suara itu terdengar lagi.

"Riki..."

Kali ini lebih dekat.

Lebih jelas.

Bulu kuduknya langsung berdiri.

Dengan cepat ia meninggalkan sawah dan pulang ke rumah.

Sejak hari itu, suara misterius tersebut mulai sering muncul.

---

Sementara itu, Dajon semakin sering menghilang pada malam hari.

Ibunya beberapa kali mendapati kamar anaknya kosong saat tengah malam.

Namun ketika pagi tiba, Dajon sudah berada di tempat tidur seolah tidak pernah pergi ke mana-mana.

Hal itu membuat wanita tua tersebut semakin cemas.

Suatu malam, ia memutuskan mengikuti Dajon diam-diam.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Dajon keluar rumah.

Langkahnya pelan.

Matanya menatap lurus ke depan.

Seolah sedang mengikuti seseorang yang tidak terlihat.

Ibunya mengikuti dari kejauhan.

Melewati jalan desa.

Melewati sawah.

Hingga akhirnya menuju bukit tua.

Namun ketika sampai di kaki bukit, tiba-tiba kabut turun sangat tebal.

Wanita tua itu kehilangan jejak anaknya.

"Dajon!"

Tidak ada jawaban.

Hanya suara angin yang berembus dingin.

Malam itu ia pulang dengan hati penuh ketakutan.

---

Di bawah pohon tua, Dajon kembali bertemu sosok berjubah hitam.

Kali ini sosok itu tidak sendirian.

Di belakangnya berdiri bayangan-bayangan gelap yang tidak memiliki wajah.

Jumlahnya puluhan.

Mereka diam.

Namun kehadiran mereka membuat udara terasa berat.

"Aku datang."

Sosok berjubah itu mengangguk.

"Kau mulai menerima jalanmu."

"Aku hanya ingin rasa sakit ini hilang."

"Tidak."

Suara itu terdengar tegas.

"Kau ingin lebih dari itu."

Dajon terdiam.

Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu perkataan itu benar.

Ia tidak hanya ingin melupakan Sari.

Ia ingin Sari merasakan kehilangan yang sama.

Ia ingin Riki merasakan luka yang sama.

Dan pikiran itu membuat dirinya sendiri takut.

---

Hari-hari berikutnya kejadian aneh semakin sering terjadi.

Seekor ayam milik warga ditemukan mati tanpa sebab.

Keesokan harinya kambing milik tetangga menghilang.

Lalu terdengar kabar bahwa beberapa orang melihat bayangan perempuan berambut panjang berjalan di dekat sungai saat tengah malam.

Desa mulai dipenuhi cerita-cerita menyeramkan.

Tetapi puncaknya terjadi tiga hari kemudian.

---

Malam itu keluarga Sari sedang makan malam.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari atap rumah.

Brak!

Semua orang terkejut.

Ayah Sari segera mengambil lampu minyak lalu keluar memeriksa.

Saat cahaya lampu menerangi halaman, tubuhnya langsung membeku.

Di depan pintu rumah terdapat bangkai burung gagak.

Jumlahnya tujuh ekor.

Semua dalam keadaan mati.

Leher mereka patah.

Dan di atas bangkai-bangkai tersebut terdapat tanah hitam yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

"Astaghfirullah..."

Ayah Sari mundur perlahan.

Perasaan tidak enak langsung memenuhi dadanya.

---

Keesokan paginya, Pak Jaman kembali datang.

Setelah melihat bangkai-bangkai itu, wajahnya menjadi pucat.

"Ini pertanda buruk."

"Pertanda apa?"

Pak Jaman menatap keluarga Sari satu per satu.

"Leluhur kami dulu percaya, jika tanda-tanda seperti ini muncul, berarti ada seseorang yang sedang membuka jalan menuju ilmu terlarang."

"Ilmu apa?"

Pak Jaman tidak langsung menjawab.

Namun semua orang sudah mengetahui jawabannya.

Sijundai.

Nama itu kembali membuat suasana menjadi sunyi.

---

Di sisi lain, lelaki tua di pondok hutan sedang menyiapkan sesuatu.

Di hadapannya terdapat beberapa benda aneh.

Sehelai rambut panjang.

Tanah hitam.

Dan sebuah boneka jerami.

Ia meletakkan semuanya di atas tikar tua.

Kemudian tersenyum.

"Waktunya hampir tiba."

Angin malam berembus masuk melalui celah-celah dinding pondok.

Api lampu minyak bergoyang-goyang.

Dan untuk sesaat, bayangan lelaki tua itu di dinding berubah menjadi sosok yang jauh lebih besar.

Bukan manusia.

Sesuatu yang membuat kegelapan di dalam pondok terasa hidup.

---

Malam berikutnya, Sari kembali bermimpi.

Namun kali ini berbeda.

Ia melihat dirinya berdiri di tengah jalan desa.

Kabut memenuhi seluruh tempat.

Lalu dari kejauhan muncul seseorang berjalan mendekat.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Itu Dajon.

Tetapi wajahnya tidak seperti biasanya.

Matanya hitam pekat.

Kulitnya pucat seperti mayat.

Dan ketika berada tepat di depannya, Dajon berkata dengan suara yang bukan suaranya.

"Jika aku tidak bisa memilikimu..."

Kalimat itu terputus.

Namun tiba-tiba seluruh desa berubah gelap.

Tanah di bawah kaki Sari retak.

Jeritan terdengar dari segala arah.

Dan sebelum mimpi berakhir, ia melihat sesuatu berdiri di belakang Dajon.

Sosok tinggi berjubah hitam dengan mata merah menyala.

Sari langsung terbangun sambil berteriak.

Tubuhnya gemetar hebat.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ancaman itu bukan lagi sekadar mimpi.

Sesuatu sedang mendekat.

Dan waktunya semakin sedikit.

Sementara itu, di atas bukit tua, Dajon berdiri seorang diri di bawah pohon besar yang bergoyang diterpa angin malam.

Bisikan-bisikan itu kembali terdengar.

Lebih banyak.

Lebih keras.

Lebih jelas.

Dan kali ini, ia tidak lagi menolak mendengarnya.

Karena tanpa disadari, hatinya yang patah mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Sesuatu yang bahkan mungkin tidak bisa dihentikan lagi.

BERSAMBUNG KE PART 6: WARGA BUKIK SAMBUANG MULAI KETAKUTAN