Part 6: Warga Bukik Sambuang Mulai Ketakutan
Kabar tentang bangkai tujuh ekor gagak di depan rumah Sari menyebar cepat ke seluruh Desa Bukik Sambuang.
Dalam hitungan hari, hampir semua warga membicarakannya.
Di warung kopi.
Di sawah.
Di surau.
Bahkan di pasar.
Nama yang selama puluhan tahun hanya berani disebut dalam bisikan kini mulai terdengar kembali.
Sijundai.
Sebagian warga menolak mempercayainya.
Namun sebagian lainnya mulai dihantui ketakutan.
Karena tanda-tanda yang muncul semakin banyak.
Dan semakin mengerikan.
---
Tiga malam setelah kejadian gagak itu, seorang petani bernama Ujang pulang dari sawah menjelang magrib.
Jalan setapak menuju rumahnya melewati pemakaman tua di pinggir desa.
Biasanya ia tidak pernah merasa takut.
Namun sore itu suasananya berbeda.
Kabut turun terlalu cepat.
Udara terasa dingin menusuk.
Ketika melewati gerbang pemakaman, ia melihat seseorang berdiri di antara nisan-nisan tua.
Sosok itu mengenakan pakaian putih kusam.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Awalnya Ujang mengira itu warga desa.
Namun ketika diperhatikan lebih dekat, tubuh sosok tersebut tidak menyentuh tanah.
Melayang beberapa senti di atas permukaan.
Ujang langsung berlari tanpa berani menoleh.
Sesampainya di rumah, wajahnya pucat seperti mayat.
Dan sejak malam itu ia jatuh sakit.
---
Keesokan harinya, kejadian lain kembali terjadi.
Seekor kerbau milik warga ditemukan mati di dekat sungai.
Tidak ada luka.
Tidak ada bekas gigitan hewan buas.
Namun kedua matanya terbuka lebar seolah melihat sesuatu yang sangat menakutkan sebelum mati.
Peristiwa itu membuat warga semakin resah.
Mereka mulai percaya bahwa sesuatu memang sedang mengganggu desa.
---
Di rumahnya, Pak Jaman tampak semakin gelisah.
Sebagai salah satu orang tertua di Bukik Sambuang, ia masih mengingat cerita lama yang pernah hampir menghancurkan desa itu.
Malam itu ia memanggil beberapa tetua kampung.
"Kita tidak bisa diam."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya salah seorang warga.
Pak Jaman menghela napas panjang.
"Dulu pernah ada kejadian serupa."
Semua orang langsung terdiam.
Puluhan tahun lalu, seorang pemuda patah hati karena gadis yang dicintainya menikah dengan orang lain.
Karena tidak sanggup menerima kenyataan, ia mencari bantuan seseorang yang tinggal di dalam hutan.
Seorang lelaki yang dikenal menguasai ilmu-ilmu gelap.
Beberapa bulan kemudian, gadis itu jatuh sakit.
Suaminya kehilangan akal.
Dan akhirnya keduanya meninggal secara misterius.
Namun yang paling mengerikan bukan itu.
Pemuda yang meminta bantuan tersebut akhirnya ditemukan berkeliaran tanpa pakaian di tengah hutan.
Matanya kosong.
Pikirannya hilang.
Ia menjadi gila hingga akhir hayatnya.
Ruangan itu langsung sunyi.
Karena semua orang memahami pesan dari cerita tersebut.
Tidak ada yang benar-benar menang dalam jalan kegelapan.
---
Sementara itu, keadaan Dajon semakin sulit dikenali.
Ia semakin jarang berbicara.
Tatapannya kosong.
Kadang ia terlihat tersenyum sendiri.
Kadang berbicara seolah ada seseorang di sampingnya.
Ibunya mulai menangis diam-diam setiap malam.
Ia merasa sedang kehilangan anaknya sedikit demi sedikit.
Suatu malam, wanita tua itu memberanikan diri bertanya.
"Dajon, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Pemuda itu diam cukup lama.
Kemudian menjawab pelan.
"Kalau seseorang mengambil kebahagiaan kita, apa yang harus kita lakukan?"
Ibunya terkejut.
"Tidak ada yang mengambil kebahagiaanmu."
"Ada."
"Dajon..."
"Dia seharusnya bersamaku."
Kalimat itu membuat hati ibunya semakin takut.
Karena ia belum pernah melihat Dajon seperti ini.
---
Di sisi lain, Sari dan Riki mulai mempersiapkan pernikahan mereka.
Namun kebahagiaan yang seharusnya mereka rasakan terus terganggu oleh kejadian-kejadian aneh.
Suatu malam, Riki mendengar suara ketukan dari jendela kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Awalnya ia mengabaikannya.
Namun suara itu terus berulang.
Akhirnya ia membuka tirai.
Dan jantungnya hampir berhenti berdetak.
Di luar jendela berdiri seorang perempuan tua.
Wajahnya sangat keriput.
Matanya hitam pekat.
Rambutnya menjuntai hingga tanah.
Perempuan itu tersenyum.
Senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia.
Riki mundur ketakutan.
Namun saat ia berkedip, sosok itu telah menghilang.
---
Keesokan harinya ia langsung menemui Sari.
Sari pun mengaku mengalami hal serupa.
"Aku merasa kita sedang diawasi."
Riki mengangguk.
"Aku juga."
Untuk pertama kalinya mereka benar-benar percaya bahwa sesuatu sedang mengincar mereka.
---
Sementara itu, jauh di dalam hutan, Dajon akhirnya bertemu langsung dengan lelaki tua yang selama ini hanya muncul dalam mimpi.
Pondok itu berdiri di tengah pepohonan besar.
Tampak tua.
Reot.
Namun entah mengapa terasa hidup.
Lelaki tua itu duduk di depan lampu minyak.
Matanya tajam menatap Dajon.
"Jadi kau yang bernama Dajon."
Dajon mengangguk.
"Apakah kau yang memanggilku?"
Lelaki tua itu tersenyum.
"Bukan aku."
"Lalu siapa?"
"Hatimu sendiri."
Jawaban itu membuat Dajon terdiam.
Lelaki tua tersebut kemudian menunjuk sebuah mangkuk tanah liat berisi air hitam.
"Lihatlah."
Saat Dajon menatap permukaan air itu, ia melihat bayangan Sari.
Kemudian bayangan itu berubah.
Sari menangis.
Sari memanggil namanya.
Sari berjalan menjauh ke dalam kabut.
"Dapatkah aku mendapatkannya kembali?"
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.
"Setiap keinginan memiliki harga."
"Aku siap membayarnya."
Ucapan itu keluar begitu saja.
Bahkan sebelum Dajon sempat memikirkannya.
Dan saat kalimat itu terucap, api lampu minyak tiba-tiba menyala lebih terang.
Angin dingin memenuhi seluruh pondok.
Senyum lelaki tua itu semakin lebar.
---
Di luar pondok, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin.
Burung-burung malam mendadak terbang menjauh.
Seolah seluruh hutan mengetahui sesuatu yang mengerikan baru saja dimulai.
Karena untuk pertama kalinya, Dajon tidak lagi sekadar mendengar bisikan.
Ia mulai menerima ajakannya.
Dan di tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun, bayangan hitam mulai bergerak mendekati Desa Bukik Sambuang.
Perlahan.
Diam-diam.
Menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan wujudnya.
Sementara warga desa hanya bisa merasakan ketakutan yang semakin besar dari hari ke hari.
Ketakutan yang sebentar lagi akan berubah menjadi teror.
BERSAMBUNG KE PART 7: RAHASIA GELAP DAJON TERUNGKAP
