Sunday, June 7, 2026

SIJUNDAI: Dendam Cinta dari Bukik Sambuang part Vll



Part 7: Rahasia Gelap Dajon Terungkap

Malam setelah pertemuan Dajon dengan lelaki tua di tengah hutan, suasana Desa Bukik Sambuang berubah semakin mencekam.

Tidak ada hujan.

Tidak ada angin.

Namun dedaunan di halaman rumah warga bergerak sendiri.

Anjing-anjing kampung melolong hampir sepanjang malam.

Bahkan ayam jantan yang biasanya berkokok menjelang subuh mendadak mati tanpa sebab yang jelas.

Warga mulai enggan keluar rumah setelah matahari terbenam.

Ketakutan telah menyelimuti desa.

Dan di balik semua itu, ada satu rahasia yang perlahan mulai terbongkar.

Rahasia tentang Dajon.


---

Pagi itu, Riki menemui Pak Jaman.

Wajahnya tampak lelah.

Sudah beberapa malam ia tidak bisa tidur nyenyak.

"Pak, saya merasa semua kejadian ini ada hubungannya dengan seseorang."

Pak Jaman mengangguk pelan.

"Aku juga mulai memikirkannya."

"Siapa?"

Orang tua itu tidak langsung menjawab.

Ia memandang ke arah bukit yang berdiri di belakang desa.

"Aku berharap dugaanku salah."

"Tapi siapa?"

Pak Jaman menatap Riki.

"Dajon."

Nama itu membuat tubuh Riki menegang.

Ia sebenarnya sudah memikirkan hal yang sama.

Namun selama ini ia berusaha mengusir pikiran tersebut.

Bagaimanapun juga, Dajon adalah teman masa kecil mereka.


---

Di tempat lain, Sari mulai mengalami kejadian yang lebih mengerikan.

Saat sedang menyapu halaman rumah, ia menemukan segumpal tanah hitam tepat di depan pintu.

Di dalamnya terdapat bunga layu yang terikat benang merah.

Sari langsung memanggil ibunya.

Wajah wanita tua itu berubah pucat.

Karena ia mengenali benda tersebut.

Meskipun tidak berani mengatakannya secara langsung.

Dalam cerita orang-orang tua dahulu, benda seperti itu sering dikaitkan dengan ilmu hitam.

Ibunya segera membakar tanah dan bunga tersebut.

Namun malam harinya, benda serupa kembali muncul.

Kali ini jumlahnya tiga.


---

Ketakutan mulai menguasai keluarga Sari.

Mereka akhirnya meminta bantuan Pak Jaman.

Setelah melihat sendiri benda tersebut, wajah lelaki tua itu tampak semakin serius.

Ia mengumpulkan beberapa tetua kampung di surau.

Malam itu, mereka berbicara hingga larut.

Dan dari pembicaraan itulah sebuah fakta lama muncul kembali.

Fakta yang selama ini disembunyikan.


---

Beberapa tahun lalu, ayah Dajon pernah mengalami nasib tragis.

Ia meninggal secara misterius di hutan.

Menurut cerita resmi, pria itu tersesat dan jatuh ke jurang.

Namun ada versi lain yang hanya diketahui oleh sebagian orang tua desa.

Konon sebelum meninggal, ayah Dajon pernah mencari seseorang yang tinggal jauh di dalam hutan Bukik Sambuang.

Seseorang yang dikenal sebagai penjaga ilmu-ilmu terlarang.

Setelah pertemuan itu, hidupnya berubah.

Ia menjadi pendiam.

Sering berbicara sendiri.

Dan akhirnya meninggal dalam keadaan mengenaskan.

Pak Jaman selama ini menyimpan cerita tersebut.

Karena tidak ingin membuka luka lama keluarga Dajon.

Namun sekarang semuanya terasa terlalu mirip.

Terlalu banyak kesamaan.


---

Sementara itu, Dajon mulai mengalami sesuatu yang aneh.

Setiap malam ia bermimpi berjalan di sebuah jalan berkabut.

Di ujung jalan berdiri seorang perempuan berpakaian putih.

Awalnya ia mengira perempuan itu adalah Sari.

Namun ketika mendekat, wajah perempuan tersebut berubah menjadi sosok yang mengerikan.

Kulitnya pucat.

Matanya hitam.

Senyumnya terlalu lebar.

"Sudah terlambat untuk kembali."

Kalimat itu terus terngiang dalam mimpinya.

Malam demi malam.

Tanpa henti.


---

Meski begitu, Dajon tidak lagi merasa takut.

Justru sebaliknya.

Ia mulai menikmati bisikan-bisikan yang datang.

Bisikan yang mengatakan bahwa semua penderitaannya akan segera berakhir.

Bahwa Sari tidak akan pernah bisa hidup bahagia bersama Riki.

Bahwa keadilan akan datang.

Walaupun dengan cara yang mengerikan.

Sedikit demi sedikit, kebencian dalam hatinya tumbuh semakin besar.

Mengalahkan rasa cinta yang pernah ada.


---

Pada suatu malam, seorang pemuda desa bernama Iwan melihat sesuatu yang membuatnya merinding.

Saat pulang dari rumah kerabatnya, ia melewati jalan dekat hutan.

Dari kejauhan ia melihat seseorang berjalan menuju bukit.

Karena penasaran, ia mengikuti dari jauh.

Orang itu ternyata Dajon.

Namun yang membuat Iwan ketakutan bukanlah keberadaan Dajon.

Melainkan sosok yang berjalan di belakangnya.

Sosok tinggi berambut panjang.

Tubuhnya kurus.

Dan langkahnya tidak menyentuh tanah.

Iwan langsung berlari pulang tanpa berani melihat ke belakang.

Keesokan harinya ia menceritakan kejadian tersebut kepada warga.

Desas-desus pun semakin berkembang.


---

Kini nama Dajon mulai disebut-sebut oleh penduduk.

Awalnya hanya bisikan.

Kemudian menjadi pembicaraan terbuka.

Sebagian warga percaya bahwa Dajon sedang terjerumus ke dalam sesuatu yang gelap.

Sebagian lagi merasa kasihan.

Karena mereka tahu betapa besar cinta Dajon kepada Sari.

Namun semua orang sepakat pada satu hal.

Apa pun yang sedang terjadi, hal itu sudah melewati batas kewajaran.


---

Malam berikutnya, Pak Jaman memutuskan menemui Dajon secara langsung.

Ia menemukan pemuda itu duduk sendirian di tepi sungai.

Tatapannya kosong.

Seolah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.

"Dajon."

Pemuda itu menoleh perlahan.

Pak Jaman terkejut.

Karena mata Dajon tampak berbeda.

Merah.

Dan dipenuhi kelelahan.

"Kau sedang apa di sini?"

"Duduk saja."

Pak Jaman duduk di sampingnya.

"Kau masih bisa berhenti."

Dajon tersenyum tipis.

"Berhenti dari apa?"

"Kau tahu maksudku."

Beberapa saat suasana menjadi sunyi.

Lalu Dajon berkata pelan.

"Kalau seseorang mengambil segalanya darimu, apakah kau akan diam?"

"Sari bukan milik siapa pun."

Jawaban itu membuat wajah Dajon berubah.

Untuk sesaat kemarahan terlihat jelas.

Namun kemudian ia kembali tenang.

Terlalu tenang.

Dan ketenangan itulah yang justru membuat Pak Jaman semakin takut.


---

Ketika pulang dari pertemuan itu, Pak Jaman yakin bahwa firasatnya benar.

Dajon sedang berjalan menuju jalan yang sama seperti ayahnya dahulu.

Jalan yang penuh kegelapan.

Jalan yang jarang memiliki akhir yang baik.

Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah waktu mereka semakin sedikit.

Karena malam itu, untuk pertama kalinya, terdengar suara tangisan perempuan dari arah hutan.

Tangisan panjang.

Menusuk.

Membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.

Dan keesokan paginya, warga menemukan sesuatu yang mengerikan.

Di tanah dekat gerbang desa terdapat jejak kaki.

Bukan satu pasang.

Bukan dua.

Melainkan puluhan.

Jejak kaki yang muncul dari arah hutan.

Namun tidak ada satu pun yang kembali ke sana.

Seolah sesuatu telah keluar dari hutan Bukik Sambuang.

Dan kini berada di tengah-tengah desa.

BERSAMBUNG KE PART 8: KUTUKAN SEMAKIN KUAT.