Part 8: Kutukan Semakin Kuat
Pagi yang biasanya ramai di Desa Bukik Sambuang kini terasa sunyi.
Penemuan puluhan jejak kaki misterius di dekat gerbang desa membuat warga ketakutan. Tidak seorang pun berani mendekati lokasi itu.
Jejak-jejak tersebut terlihat aneh.
Sebagian menyerupai kaki manusia.
Sebagian lainnya terlalu panjang dan kurus.
Yang paling mengerikan, jejak itu muncul dari arah hutan tetapi tidak ada satu pun yang kembali ke sana.
Seolah-olah sesuatu telah keluar dari dalam hutan dan kini berkeliaran di desa.
---
Pak Jaman datang bersama beberapa tetua kampung.
Mereka mengamati jejak tersebut dengan wajah tegang.
"Ini bukan pertanda baik," ucap salah seorang tetua.
Pak Jaman mengangguk pelan.
Seumur hidupnya, ia baru dua kali melihat kejadian seperti itu.
Dan kedua kejadian tersebut berakhir dengan kematian.
---
Di sisi lain desa, keadaan Dajon semakin memburuk.
Tubuhnya terlihat kurus.
Matanya cekung.
Kulitnya pucat seperti orang sakit.
Namun anehnya, ia tidak merasa lemah.
Sebaliknya, ada energi aneh yang membuatnya tetap kuat meski hampir tidak pernah tidur.
Setiap malam, bisikan-bisikan itu datang lagi.
Suara yang sama.
Suara yang menjanjikan balas dendam.
"Sebentar lagi..."
"Mereka akan merasakan sakit yang sama..."
"Jangan berhenti sekarang..."
Semakin sering Dajon mendengarnya, semakin sulit baginya membedakan mana kenyataan dan mana khayalan.
---
Sementara itu, Sari mulai mengalami teror yang lebih nyata.
Suatu malam ia terbangun karena mendengar suara seseorang mengetuk jendela kamarnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Pelan.
Teratur.
Awalnya ia mengira itu ibunya.
Namun saat membuka tirai sedikit, darahnya seakan berhenti mengalir.
Di luar jendela berdiri seorang perempuan.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Tubuhnya mengenakan pakaian putih lusuh.
Perempuan itu diam.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Hanya berdiri memandangi kamar Sari.
Sari langsung berteriak.
Keluarganya berlari masuk.
Namun ketika mereka keluar rumah untuk memeriksa, sosok itu sudah menghilang.
---
Keesokan harinya, kabar serupa muncul dari rumah-rumah lain.
Beberapa warga mengaku melihat perempuan yang sama.
Ada yang melihatnya di dekat sumur.
Ada yang melihatnya berdiri di persimpangan jalan.
Ada pula yang melihatnya berjalan menuju bukit saat menjelang subuh.
Ketakutan mulai berubah menjadi kepanikan.
---
Riki yang selama ini berusaha tetap tenang akhirnya menemui Pak Jaman.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
Pak Jaman menghela napas panjang.
"Kita terlambat."
"Maksudnya?"
"Sesuatu yang dipanggil sudah datang."
Riki terdiam.
Ia tidak mengerti sepenuhnya.
Namun melihat wajah Pak Jaman saja sudah cukup membuatnya takut.
---
Malam berikutnya, kejadian yang lebih mengerikan terjadi.
Seekor sapi milik warga ditemukan mati di kandangnya.
Tidak ada luka besar.
Tidak ada darah.
Tetapi tubuh hewan itu kaku seperti sudah mati berhari-hari.
Mata sapi tersebut terbuka lebar.
Penuh ketakutan.
Dalam waktu dua hari, tiga ternak lain mengalami nasib serupa.
Desa mulai diliputi rumor.
Sebagian orang percaya kutukan sedang menyebar.
Sebagian lagi menyalahkan Dajon secara diam-diam.
---
Dajon sendiri mulai mengalami perubahan yang semakin jelas.
Suatu malam ketika sedang bercermin, ia melihat sesuatu yang membuatnya merinding.
Bayangannya tidak bergerak mengikuti dirinya.
Saat Dajon menoleh ke kiri, bayangan di cermin tetap menatap lurus ke depan.
Dajon membeku.
Lalu bayangan itu perlahan tersenyum.
Senyum yang tidak pernah ia lakukan.
Dajon langsung memecahkan cermin tersebut.
Namun sebelum kaca itu pecah sepenuhnya, ia sempat mendengar suara pelan.
"Aku sudah dekat."
---
Pada malam yang sama, hujan turun sangat deras.
Petir menyambar berkali-kali di sekitar Bukik Sambuang.
Pak Jaman yang sedang berada di surau tiba-tiba merasakan sesuatu.
Perasaan yang selama ini ia takuti.
Ia segera mengambil lampu minyak dan berjalan menuju rumah Riki.
"Kita harus pergi sekarang."
"Kemana?"
"Ke hutan."
Riki terkejut.
"Malam-malam begini?"
"Kalau menunggu sampai besok, mungkin sudah terlambat."
---
Meski takut, Riki akhirnya ikut.
Mereka berjalan menembus hujan menuju hutan yang selama ini menjadi pusat semua kejadian.
Semakin jauh mereka masuk, udara semakin dingin.
Kabut turun perlahan.
Dan suara hutan mendadak menghilang.
Tidak ada serangga.
Tidak ada burung malam.
Tidak ada suara apa pun.
Hanya langkah kaki mereka.
---
Setelah hampir satu jam berjalan, mereka tiba di sebuah tempat yang membuat jantung Riki berdegup kencang.
Di tengah hutan terdapat tanah lapang kecil.
Di sana berdiri beberapa batu tua yang tersusun melingkar.
Dan tepat di tengah lingkaran itu terdapat bekas api unggun.
Masih baru.
Masih hangat.
Artinya seseorang baru saja berada di sana.
---
Pak Jaman memeriksa tanah di sekitar lokasi.
Wajahnya langsung berubah pucat.
"Astaga..."
"Ada apa?"
Pak Jaman menunjuk tanah.
Riki melihat beberapa benda yang terkubur sebagian.
Bunga layu.
Benang merah.
Dan selembar kain yang dikenalnya.
Itu milik Dajon.
---
Kini tidak ada lagi keraguan.
Dajon memang terlibat.
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun, suara tawa pelan terdengar dari balik kabut.
Hihihihi...
Suara perempuan.
Pelan.
Tetapi jelas.
Riki merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Siapa itu?"
Tidak ada jawaban.
Hanya tawa yang semakin dekat.
---
Kabut bergerak perlahan.
Lalu mereka melihat sosok perempuan berpakaian putih berdiri di antara pepohonan.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya menjuntai panjang.
Kepalanya sedikit miring.
Dan matanya...
Matanya hitam pekat.
Bukan seperti mata manusia.
Makhluk itu tersenyum.
Senyuman yang membuat darah Riki terasa membeku.
---
Tiba-tiba sosok itu menghilang.
Begitu saja.
Dalam satu kedipan mata.
Dan saat itulah terdengar suara Dajon dari belakang mereka.
"Kalian tidak seharusnya datang ke sini."
Pak Jaman dan Riki langsung berbalik.
Dajon berdiri beberapa meter di belakang mereka.
Tubuhnya basah oleh hujan.
Namun wajahnya terlihat sangat berbeda.
Tatapannya kosong.
Seperti bukan dirinya lagi.
---
"Dajon, hentikan ini!" teriak Riki.
Dajon hanya tersenyum.
Senyum yang sama seperti bayangan di cermin.
"Sekarang sudah tidak bisa dihentikan."
"Apa yang kau lakukan?"
Dajon memandang ke arah hutan gelap di belakangnya.
Kemudian menjawab dengan suara pelan.
"Aku hanya meminta bantuan."
Petir menyambar tepat di atas bukit.
Cahaya terang sesaat memperlihatkan sesuatu di belakang Dajon.
Sosok perempuan putih itu berdiri sangat dekat.
Hampir menempel di punggungnya.
Seolah sedang mengawasi mereka.
---
Dan saat petir berikutnya menyambar, sosok itu sudah menghilang.
Namun suara tangis perempuan kembali terdengar dari seluruh penjuru hutan.
Lebih keras.
Lebih dekat.
Lebih mengerikan dari sebelumnya.
Pak Jaman tahu satu hal.
Kutukan Sijundai telah mencapai tahap yang paling berbahaya.
Dan jika tidak segera dihentikan, korban pertama manusia akan segera jatuh.
BERSAMBUNG KE PART 9: KORBAN PERTAMA KUTUKAN SIJUNDAI.
