Sunday, June 7, 2026

SIJUNDAI: Dendam Cinta dari Bukik Sambuang part lX





Part 9: Korban Pertama Kutukan Sijundai

Malam itu tidak seorang pun di Desa Bukik Sambuang dapat tidur nyenyak.

Hujan terus turun sejak senja.

Petir menyambar tanpa henti di atas bukit.

Sementara suara tangisan perempuan yang berasal dari arah hutan terdengar semakin jelas.

Beberapa warga bahkan mengaku mendengar suara itu tepat di depan rumah mereka.

Padahal saat diperiksa, tidak ada siapa-siapa.

Ketakutan kini benar-benar menguasai desa.


---

Setelah pertemuan di hutan, Pak Jaman dan Riki pulang dengan wajah pucat.

Mereka tidak berani menceritakan semuanya kepada warga.

Karena mereka tahu kepanikan hanya akan bertambah besar.

Namun satu hal kini sudah pasti.

Dajon telah terikat dengan sesuatu yang bukan berasal dari dunia manusia.

Dan ikatan itu semakin kuat setiap harinya.


---

Sementara itu Dajon kembali ke rumahnya.

Langkahnya pelan.

Tatapannya kosong.

Sejak meninggalkan hutan, suara-suara aneh di kepalanya semakin sering muncul.

Kini bukan hanya bisikan.

Ia mulai mendengar percakapan.

Seolah ada seseorang yang berjalan bersamanya.

Seseorang yang tidak terlihat.

"Sebentar lagi."

"Janji akan terpenuhi."

"Mereka tidak akan bahagia."

Dajon mencoba menutup telinganya.

Namun suara itu justru terdengar semakin keras.


---

Ketika sampai di rumah, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.

Di sudut ruangan berdiri perempuan berpakaian putih itu.

Kali ini bukan bayangan.

Bukan mimpi.

Makhluk itu benar-benar ada.

Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah.

Namun senyumnya terlihat jelas.

Senyum yang dingin dan mengerikan.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Dajon dengan suara gemetar.

Makhluk itu tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk ke arah jendela.

Lalu perlahan menghilang.

Seperti kabut yang tertiup angin.


---

Di tempat lain, Sari mulai jatuh sakit.

Tubuhnya demam tinggi.

Setiap malam ia bermimpi berada di tengah hutan.

Dalam mimpi itu, seseorang terus memanggil namanya.

Awalnya suara itu terdengar seperti Dajon.

Namun semakin lama berubah menjadi suara perempuan tua yang menyeramkan.

"Sari..."

"Sari..."

"Ikutlah..."

Setiap kali terbangun, tubuhnya dipenuhi keringat dingin.

Dan yang lebih aneh, di telapak kakinya muncul bekas lumpur.

Seolah ia benar-benar berjalan keluar rumah saat tidur.


---

Ibunya semakin khawatir.

Ia meminta Pak Jaman datang untuk melihat keadaan putrinya.

Ketika Pak Jaman memasuki kamar, wajahnya langsung berubah.

Di dinding dekat tempat tidur terdapat goresan-goresan aneh.

Seperti tulisan.

Namun tidak seorang pun bisa membacanya.

Padahal sehari sebelumnya dinding itu masih bersih.

Pak Jaman segera membaca doa-doa yang ia hafal.

Namun entah mengapa, bulu kuduknya justru semakin meremang.


---

Malam berikutnya, korban pertama akhirnya jatuh.

Namanya Iwan.

Pemuda yang beberapa hari lalu melihat sosok misterius berjalan di belakang Dajon.

Malam itu ia pulang terlambat dari kebun.

Menurut keluarganya, Iwan sempat terlihat baik-baik saja.

Ia makan malam.

Berbincang sebentar.

Lalu masuk kamar untuk tidur.

Namun menjelang subuh, terdengar teriakan keras dari dalam rumah.


---

Keluarganya berlari menuju kamar.

Mereka menemukan Iwan terduduk di sudut ruangan.

Matanya melotot.

Tubuhnya gemetar hebat.

Seolah baru melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

"Iwan!"

Tidak ada jawaban.

Pemuda itu hanya menunjuk ke arah jendela.

Tangannya bergetar.

Lalu ia berteriak sekuat tenaga.

"Jangan dekati aku!"

"Pergi!"

"Pergi!"


---

Keluarganya mencoba menenangkan.

Tetapi Iwan semakin histeris.

Ia menjerit.

Menangis.

Dan terus menunjuk ke arah jendela yang kosong.

Beberapa menit kemudian tubuhnya mendadak kaku.

Napasnya berhenti.

Dan Iwan meninggal di tempat.


---

Kabar kematian itu menyebar cepat ke seluruh desa.

Warga mulai benar-benar panik.

Karena sebelum meninggal, Iwan sempat mengucapkan satu kalimat yang didengar semua orang di rumah.

"Ada perempuan di luar..."

"Matanya hitam..."

"Itu dia..."

"Itu dia..."


---

Pak Jaman segera datang ke rumah duka.

Setelah melihat kondisi Iwan, hatinya semakin berat.

Ia tahu kematian itu bukan kebetulan.

Kutukan telah mulai mengambil korban.

Dan biasanya setelah korban pertama jatuh, korban berikutnya akan datang lebih cepat.


---

Malam itu seluruh desa mengadakan doa bersama di surau.

Semua warga hadir.

Kecuali satu orang.

Dajon.


---

Riki yang melihat ketidakhadiran sahabat lamanya merasa semakin marah.

Ia memutuskan mencari Dajon.

Meski Pak Jaman mencoba melarang.

Namun Riki sudah tidak bisa menahan diri.

Ia ingin mengetahui kebenaran.

Sekali dan untuk selamanya.


---

Dengan membawa senter, Riki menuju rumah Dajon.

Tetapi rumah itu kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Pintu terbuka.

Lampu mati.

Dan suasana di dalam terasa sangat dingin.

Seolah rumah itu sudah lama ditinggalkan.


---

Ketika sedang memeriksa ruangan belakang, Riki menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Di bawah tempat tidur terdapat sebuah kotak kayu tua.

Kotak itu terkunci.

Namun karena kayunya sudah lapuk, Riki berhasil membukanya.

Dan isi kotak tersebut membuat jantungnya berdegup kencang.

Di dalamnya terdapat foto lama milik Dajon dan Sari.

Beberapa helai rambut.

Potongan kain.

Bunga-bunga kering.

Serta secarik kertas tua yang dipenuhi tulisan aneh.

Tulisan yang sama seperti goresan di dinding kamar Sari.


---

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar rumah.

Riki langsung mematikan senter.

Jantungnya berdetak kencang.

Langkah itu semakin mendekat.

Pelan.

Teratur.

Krek...

Pintu depan terbuka.

Seseorang masuk.


---

Melalui celah ruangan, Riki melihat sosok itu.

Dajon.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Sangat berbeda.

Dajon tidak berjalan seperti manusia normal.

Kepalanya menunduk.

Langkahnya kaku.

Seolah tubuhnya sedang dikendalikan oleh sesuatu.


---

Lalu dari belakang Dajon muncul sosok perempuan berpakaian putih.

Makhluk yang selama ini menghantui desa.

Kali ini terlihat jauh lebih jelas.

Dan yang membuat Riki hampir berteriak ketakutan adalah wajah makhluk tersebut.

Karena wajah itu perlahan berubah.

Menyerupai wajah Sari.


---

Perempuan itu tersenyum.

Kemudian menoleh tepat ke arah tempat Riki bersembunyi.

Matanya hitam pekat.

Tanpa bagian putih sedikit pun.

Dan bibirnya bergerak perlahan.

"Akan ada korban berikutnya..."


---

Riki langsung berlari keluar rumah tanpa menoleh lagi.

Napasnya terengah-engah.

Tubuhnya gemetar hebat.

Kini ia sadar bahwa keadaan jauh lebih buruk dari yang mereka bayangkan.

Karena kutukan itu tidak hanya mengincar Dajon.

Tidak hanya mengincar Sari.

Melainkan seluruh Desa Bukik Sambuang.

Dan korban berikutnya mungkin akan jatuh sebelum matahari terbit.

BERSAMBUNG KE PART 10 (TAMAT): AKHIR KUTUKAN SIJUNDAI.