Part 10 (TAMAT): Akhir Kutukan Sijundai
Malam itu Desa Bukik Sambuang tidak lagi sama.
Ketakutan telah menguasai seluruh warga.
Kematian Iwan menjadi bukti bahwa kutukan yang selama ini hanya dianggap cerita lama ternyata benar-benar nyata.
Sementara itu, Riki berlari menuju surau dengan napas terengah-engah.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya gemetar.
Pak Jaman yang melihat keadaan itu langsung berdiri.
"Apa yang terjadi?"
Riki berusaha mengatur napasnya.
"Lelaki tua itu benar..."
"Aku melihatnya."
"Makhluk itu ada bersama Dajon."
Suasana di dalam surau langsung sunyi.
Semua orang saling berpandangan.
Ketakutan tampak jelas di wajah mereka.
---
Malam itu juga Pak Jaman mengumpulkan beberapa tetua kampung.
Mereka sepakat bahwa semua ini harus diakhiri.
Apa pun risikonya.
Karena jika tidak, desa akan terus memakan korban.
---
Menjelang tengah malam, Pak Jaman, Riki, dan beberapa warga berangkat menuju hutan Bukik Sambuang.
Hujan kembali turun.
Kabut tebal menyelimuti jalan setapak.
Namun kali ini mereka tidak berniat mundur.
Mereka berjalan menuju tanah lapang tempat ritual terlarang dilakukan.
Tempat semuanya bermula.
---
Ketika tiba di lokasi, mereka melihat cahaya api menyala di tengah lingkaran batu tua.
Dan di sana berdiri Dajon.
Sendirian.
Atau setidaknya tampak sendirian.
Karena di belakangnya berdiri sosok perempuan putih yang selama ini menghantui desa.
---
Dajon terlihat sangat berbeda.
Tubuhnya semakin kurus.
Matanya merah.
Wajahnya pucat seperti mayat.
Namun yang paling mengerikan adalah senyum yang terus menghiasi bibirnya.
"Dajon!" teriak Riki.
Pemuda itu perlahan menoleh.
"Akhirnya kalian datang."
---
Pak Jaman maju beberapa langkah.
"Hentikan semuanya."
"Sebelum terlambat."
Dajon tertawa pelan.
Tawa yang tidak terdengar seperti dirinya.
"Sudah terlambat sejak lama."
"Kalian tidak mengerti bagaimana rasanya kehilangan."
---
Riki mengepalkan tangan.
"Aku tidak pernah berniat merebut Sari darimu."
"Dia memilih sendiri."
Kalimat itu membuat wajah Dajon berubah.
Kemarahan yang selama ini ia pendam meledak.
"Tapi aku mencintainya!"
"Aku mencintainya lebih dari siapa pun!"
"Aku memberikan segalanya!"
Suara Dajon menggema di tengah hutan.
---
Sosok perempuan putih di belakangnya tersenyum semakin lebar.
Seolah menikmati kemarahan tersebut.
Saat itulah Pak Jaman akhirnya mengerti.
Makhluk itu tidak pernah membantu Dajon.
Ia hanya memanfaatkan rasa sakit di hati pemuda itu.
Semakin besar kebencian Dajon.
Semakin kuat pula kekuatan kutukan tersebut.
---
"Dajon!" teriak Pak Jaman.
"Dengar aku!"
"Itu bukan cinta lagi."
"Itu sudah berubah menjadi dendam."
---
Kalimat itu membuat Dajon terdiam.
Untuk sesaat.
Hanya sesaat.
Karena tiba-tiba sosok perempuan itu membisikkan sesuatu ke telinganya.
Dan wajah Dajon kembali berubah.
Lebih gelap.
Lebih menyeramkan.
---
Langit mendadak bergemuruh.
Angin kencang berputar di sekitar lingkaran batu.
Api unggun berkobar semakin besar.
Kabut bergerak seperti hidup.
Warga yang ikut bersama Pak Jaman mulai ketakutan.
---
Lalu sesuatu yang mengerikan terjadi.
Puluhan bayangan hitam muncul dari antara pepohonan.
Mereka berdiri mengelilingi tanah lapang.
Mata mereka menyala merah.
Dan semuanya memandang ke arah Dajon.
---
Riki merasa tubuhnya gemetar.
Namun ia tetap melangkah maju.
"Dajon."
"Kau masih sahabatku."
"Kau masih bisa kembali."
---
Dajon menunduk.
Tangannya bergetar.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, air mata jatuh dari matanya.
"Aku hanya ingin dia mencintaiku."
Suara itu terdengar lemah.
Penuh kesedihan.
Bukan kemarahan.
---
Saat itulah sosok perempuan putih menjerit.
Jeritan panjang yang membuat seluruh hutan bergetar.
Makhluk itu sadar pengaruhnya terhadap Dajon mulai melemah.
Ia segera merangkul tubuh pemuda itu dari belakang.
Seolah tidak ingin kehilangan mangsanya.
---
Namun Dajon kini mulai mengingat semuanya.
Persahabatan mereka.
Masa kecil di desa.
Kebaikan Sari.
Dan kesalahan yang telah ia lakukan.
Air mata semakin deras mengalir.
"Aku salah..."
"Aku salah..."
---
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang.
Api unggun padam.
Langit seakan pecah oleh suara petir.
Dan untuk pertama kalinya, Dajon berteriak sekuat tenaga.
"AKU LEPASKAN SEMUANYA!"
---
Jeritan itu menggema ke seluruh hutan.
Sosok perempuan putih langsung menjerit histeris.
Tubuhnya mulai berubah menjadi asap hitam.
Wajahnya yang mengerikan tampak dipenuhi kemarahan.
---
Namun semuanya sudah terlambat.
Ikatan yang selama ini menghubungkan mereka mulai terputus.
Makhluk itu kehilangan kekuatannya.
Satu per satu bayangan hitam di sekitar hutan menghilang.
Kabut mulai menipis.
Angin perlahan mereda.
---
Warga mengira semuanya telah berakhir.
Namun Pak Jaman justru terlihat semakin cemas.
Karena ia tahu satu aturan lama tentang Sijundai.
Setiap perjanjian memiliki harga.
Dan harga itu harus dibayar.
---
Dajon tampaknya juga menyadari hal tersebut.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang akhirnya kembali seperti dirinya dahulu.
"Dari awal aku seharusnya tidak melakukan ini."
Riki mendekatinya.
"Kita pulang."
Namun Dajon menggeleng.
---
Tubuhnya mulai melemah.
Dari hidungnya mengalir darah.
Kemudian dari sudut bibirnya.
Kakinya tak lagi mampu berdiri tegak.
---
Pak Jaman menunduk.
Ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
Kekuatan yang selama ini digunakan Dajon telah mengambil terlalu banyak dari hidupnya.
Dan kini saatnya menagih seluruh harga itu sekaligus.
---
Riki menangkap tubuh sahabatnya sebelum terjatuh.
"Dajon!"
Jangan tinggalkan kami!"
Air mata mengalir di wajah Riki.
---
Dajon tersenyum lemah.
Lalu menatap ke arah langit.
"Sampaikan maafku pada Sari."
"Itu saja."
---
Beberapa saat kemudian napasnya mulai melambat.
Semakin pelan.
Semakin pelan.
Hingga akhirnya berhenti.
---
Dajon meninggal di pelukan sahabatnya sendiri.
Di tengah hutan Bukik Sambuang.
Di tempat yang menjadi awal sekaligus akhir kutukan tersebut.
---
Beberapa hari kemudian, Desa Bukik Sambuang kembali tenang.
Tidak ada lagi tangisan perempuan dari hutan.
Tidak ada lagi penampakan.
Tidak ada lagi kematian misterius.
---
Warga akhirnya dapat menjalani hidup seperti biasa.
Namun kisah Dajon tidak pernah dilupakan.
Cerita tentang seorang pemuda yang membiarkan cinta berubah menjadi dendam.
Dan bagaimana dendam itu hampir menghancurkan seluruh desa.
---
Hingga kini, orang-orang tua di Bukik Sambuang masih sering mengingatkan generasi muda:
"Jangan bermain dengan Sijundai."
"Karena ketika dendam dipanggil untuk membantu cinta, yang datang bukanlah kebahagiaan."
"Melainkan kehancuran."
TAMAT
Pesan moral: Cinta yang tidak terbalas memang menyakitkan, tetapi membiarkan rasa sakit berubah menjadi kebencian hanya akan menghancurkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
