Monday, June 8, 2026

CINDAKU: PERJANJIAN BUKIT BARISAN





Part 1: Auman dari Bukit Kabut

> "Selama hutan dijaga, harimau akan tetap menghormati manusia. Namun jika janji leluhur dilupakan, maka Bukit Barisan sendiri yang akan menagihnya."

— Petuah tua Nagari Sungai Lumut



Kabut tebal menggantung di lereng Bukit Barisan ketika bus tua yang ditumpangi Rangga mulai memasuki jalan berkelok menuju kampung halamannya.

Sudah hampir sepuluh tahun ia tidak kembali ke Nagari Sungai Lumut.

Sejak merantau ke kota setelah lulus sekolah, hidupnya berubah. Kesibukan pekerjaan membuatnya jarang pulang. Bahkan saat ibunya meninggal lima tahun lalu, ia hanya sempat tinggal beberapa hari sebelum kembali bekerja.

Kini ia kembali karena satu alasan yang tidak pernah ia bayangkan.

Kakeknya meninggal dunia.

Datuk Sutan, orang yang membesarkannya sejak kecil, menghembuskan napas terakhir dua hari lalu.

Rangga memandang keluar jendela.

Hutan hijau membentang di kiri dan kanan jalan.

Kabut turun perlahan dari puncak Bukit Barisan seperti tirai raksasa yang menutupi rahasia-rahasia lama.

Entah mengapa, sejak memasuki wilayah itu, perasaannya menjadi tidak tenang.

Seolah ada sesuatu yang sedang menunggunya.

Bus berhenti di sebuah persimpangan kecil.

"Sudah sampai, Nak," kata sopir.

Rangga mengangguk.

Ia turun sambil membawa tas ransel hitam.

Udara pegunungan yang dingin langsung menyambut wajahnya.

Tak jauh dari sana, seorang lelaki tua melambaikan tangan.

"Rangga!"

Rangga tersenyum.

"Itu Pak Rasyid."

Lelaki tua itu segera menghampiri.

Tubuhnya kini lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu.

"Sudah besar juga kau sekarang," katanya sambil menepuk bahu Rangga.

Rangga tertawa kecil.

"Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, Pak."

Mereka berjalan menuju kampung.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa berbeda.

Biasanya Nagari Sungai Lumut selalu ramai menjelang sore.

Anak-anak bermain di lapangan.

Warga berkumpul di warung kopi.

Namun kali ini suasana tampak sepi.

Bahkan beberapa rumah menutup pintunya lebih awal.

Rangga memperhatikan hal itu.

"Kampung jadi sepi."

Pak Rasyid hanya mengangguk.

"Belakangan memang begitu."

"Ada apa?"

Lelaki tua itu terlihat ragu.

"Entahlah."

Jawaban itu terdengar aneh.

Seolah ia sengaja menyembunyikan sesuatu.

Tak lama kemudian mereka tiba di rumah gadang milik keluarga Rangga.

Bangunan kayu besar itu masih berdiri megah seperti dulu.

Namun kini terlihat lebih tua.

Beberapa bagian atap mulai lapuk dimakan usia.

Di halaman depan, beberapa warga masih berkumpul setelah acara tahlilan.

Mereka menyambut Rangga dengan ramah.

Meski demikian, Rangga merasa ada sesuatu yang janggal.

Tatapan mereka berbeda.

Seperti sedang mengamatinya.

Atau menunggunya.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Rangga duduk sendirian di beranda rumah.

Langit tampak gelap.

Kabut turun semakin tebal.

Dari kejauhan terdengar suara serangga malam.

Ia memandang foto lama yang dibawanya.

Foto dirinya bersama Datuk Sutan saat masih kecil.

Senyum sang kakek terlihat hangat.

Rangga menghela napas panjang.

Ia menyesal jarang pulang.

Banyak hal yang belum sempat ia tanyakan.

Banyak cerita yang belum sempat ia dengar.

Tiba-tiba suara pintu berderit terdengar dari belakang.

Seorang nenek keluar membawa secangkir kopi.

Itu Mak Uni, adik perempuan Datuk Sutan.

"Minumlah."

"Terima kasih, Mak."

Nenek itu duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka terdiam.

Hingga akhirnya Mak Uni berbicara.

"Datukmu sering menyebut namamu sebelum meninggal."

Rangga menoleh.

"Apa katanya?"

Nenek itu menatap ke arah hutan yang terlihat samar di balik kabut.

"Katanya kau pasti akan pulang."

Rangga tersenyum tipis.

"Mungkin beliau rindu."

Mak Uni menggeleng pelan.

"Bukan itu."

"Lalu?"

Nenek itu tidak langsung menjawab.

Wajahnya tampak serius.

"Datukmu bilang waktunya sudah dekat."

Rangga mengernyit.

"Waktu apa?"

Namun Mak Uni hanya diam.

Seolah menyesali perkataannya sendiri.

Akhirnya ia berdiri.

"Sudahlah. Besok saja kita bicara."

Lalu ia masuk kembali ke dalam rumah.

Meninggalkan Rangga sendirian di beranda.

Malam semakin larut.

Angin dingin berembus dari arah pegunungan.

Rangga memutuskan masuk ke kamar lamanya.

Kamar itu masih sama seperti dulu.

Lemari kayu tua.

Meja belajar kecil.

Dan jendela yang menghadap langsung ke arah hutan.

Ia merebahkan diri.

Tak butuh waktu lama sebelum rasa kantuk datang.

Namun sekitar tengah malam...

Ia terbangun.

Matanya langsung terbuka.

Jantungnya berdetak cepat.

Entah mengapa.

Seolah ada sesuatu yang membangunkannya.

Lalu ia mendengarnya.

Auuummm...

Suara itu menggema dari kejauhan.

Rangga membeku.

Auman harimau.

Suara itu terdengar jelas dari arah Bukit Kabut.

Ia bangkit dari tempat tidur.

Perlahan mendekati jendela.

Kabut putih menyelimuti seluruh halaman rumah.

Tak ada apa pun yang terlihat.

Lalu...

Auuummm...

Auman kedua terdengar lebih dekat.

Kali ini membuat bulu kuduknya meremang.

Rangga mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Mungkin hanya harimau liar.

Bukankah wilayah Bukit Barisan memang masih menjadi habitat harimau?

Namun ada sesuatu yang terasa aneh.

Auman itu terdengar berbeda.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Seolah bukan suara binatang biasa.

Kemudian...

Dari balik kabut, ia melihat sesuatu.

Sebuah bayangan besar.

Berjalan perlahan di depan rumah.

Rangga memicingkan mata.

Bayangan itu berhenti.

Tinggi.

Besar.

Lalu perlahan menoleh ke arah jendelanya.

Jantung Rangga hampir berhenti berdetak.

Dua mata kuning menyala muncul dari balik kabut.

Mengawasinya.

Tepat ke arahnya.

Rangga mundur selangkah.

Saat ia berkedip...

Bayangan itu menghilang.

Begitu saja.

Kabut kembali kosong.

Tak ada apa pun.

Keesokan paginya, Rangga menceritakan kejadian itu kepada Mak Uni.

Namun wajah sang nenek langsung pucat.

"Kau yakin melihatnya?"

"Ya."

"Apa yang kau lihat?"

"Seekor harimau."

Mak Uni terdiam.

Tangannya terlihat gemetar.

Lalu ia berbisik pelan.

"Sudah dimulai..."

Rangga semakin bingung.

"Dimulai apa?"

Nenek itu tidak menjawab.

Sebaliknya, ia menyuruh Rangga ikut ke halaman belakang rumah.

Di sana terdapat sebuah gudang tua yang sudah lama tidak digunakan.

Mak Uni membuka pintunya.

Debu beterbangan ke udara.

Di dalam terdapat berbagai barang peninggalan keluarga.

Peti kayu.

Peralatan bertani.

Dan sebuah lemari tua yang terkunci.

Dengan tangan gemetar, Mak Uni menyerahkan sebuah kunci kuno.

"Datukmu berpesan, jika kau kembali, buka lemari itu."

Rangga menerima kunci tersebut.

Perasaannya semakin tidak menentu.

Perlahan ia membuka pintu lemari.

Kriiieeet...

Pintu kayu tua itu terbuka.

Di dalamnya hanya ada satu benda.

Sebuah kotak kayu berukir kepala harimau.

Ukirannya sangat detail.

Seolah dibuat oleh pengrajin hebat.

Rangga membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah kalung tua.

Kalung dengan liontin berbentuk taring harimau.

Selain itu ada sebuah gulungan kain usang.

Ketika dibuka, terlihat tulisan tangan yang sudah menguning dimakan usia.

Tulisan pertama berbunyi:

> "Untuk pewaris berikutnya."



Rangga menelan ludah.

Lalu membaca baris berikutnya.

> "Jika surat ini telah sampai kepadamu, maka perjanjian Bukit Barisan sedang berada dalam bahaya."



Angin tiba-tiba berembus dari luar gudang.

Membuat pintu kayu bergoyang perlahan.

Rangga melanjutkan membaca.

> "Dan jika kau telah mendengar auman dari Bukit Kabut, maka para penjaga hutan telah mengetahui kepulanganmu."



Tubuh Rangga mendadak dingin.

Ia mengingat suara auman semalam.

Tangannya mulai gemetar.

Lalu pandangannya jatuh pada kalimat terakhir.

Kalimat yang membuat napasnya tertahan.

> "Karena darah Cindaku mengalir di dalam tubuhmu."



Di saat yang sama...

Dari arah hutan Bukit Barisan terdengar sebuah auman panjang yang menggema ke seluruh nagari.

Auuummmmm...

Dan untuk pertama kalinya, Rangga merasa bahwa kepulangannya ke kampung bukanlah sebuah kebetulan.

Bersambung ke Part 2: Rahasia Rumah Gadang.