Part 2: Rahasia Rumah Gadang
> "Ada rahasia yang tidak ditulis dalam kitab, tidak diukir pada batu, dan tidak diwariskan kepada semua keturunan. Rahasia itu hanya diberikan kepada mereka yang dipilih oleh waktu."
Auman harimau yang menggema dari arah Bukit Barisan masih terngiang di telinga Rangga.
Ia berdiri terpaku di dalam gudang tua sambil memegang surat peninggalan Datuk Sutan.
Kalimat terakhir dalam surat itu terus berputar di pikirannya.
"Karena darah Cindaku mengalir di dalam tubuhmu."
Rangga menarik napas panjang.
Baginya semua itu terdengar tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin dirinya yang selama ini hidup sebagai orang biasa tiba-tiba disebut sebagai pewaris suatu rahasia kuno?
Dan apa sebenarnya Cindaku itu?
Mak Uni berdiri di dekat pintu
gudang.
gudang.
Tatapannya terlihat sedih sekaligus khawatir.
"Mak..." kata Rangga pelan.
"Apa sebenarnya Cindaku itu?"
Nenek tua itu tidak langsung menjawab.
Ia justru melihat ke arah hutan yang tampak gelap di kejauhan.
Seakan memastikan sesuatu.
Barulah kemudian ia berbicara.
"Pertanyaan itu seharusnya dijawab oleh Datukmu."
"Tapi beliau sudah tidak ada."
Mak Uni mengangguk.
"Itulah yang paling beliau takutkan."
Rangga semakin bingung.
"Kenapa takut?"
Karena menurut Datuk Sutan, suatu hari akan datang masa ketika perjanjian lama mulai goyah.
Dan ketika itu terjadi, seorang pewaris harus mengetahui semuanya.
"Perjanjian apa?"
Mak Uni menatap Rangga cukup lama.
"Perjanjian antara manusia dan harimau."
---
Menjelang siang, hujan tipis mulai turun di Nagari Sungai Lumut.
Kabut turun lebih rendah dari biasanya.
Rangga duduk di ruang tengah rumah gadang sambil memandangi kalung taring harimau yang ditemukan di dalam kotak.
Benda itu terasa aneh.
Tua.
Namun tetap terawat.
Di bagian belakang liontin terdapat ukiran kecil yang hampir tidak terlihat.
Seekor harimau yang sedang menghadap gunung.
Rangga memperhatikannya dengan saksama.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari belakang.
Seorang lelaki tua memasuki rumah.
Tubuhnya tinggi dan kurus.
Janggut putih menghiasi wajahnya.
Rangga mengenal orang itu.
Datuk Mahyudin.
Salah satu tetua adat di kampung.
"Jadi kau sudah membukanya."
Tatapan Datuk Mahyudin tertuju pada kalung di tangan Rangga.
Rangga mengangguk.
"Datuk tahu benda ini?"
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
"Tentu."
Ia duduk perlahan.
Kemudian memandang kalung itu cukup lama.
"Dulu kalung itu milik leluhurmu."
"Leluhur saya?"
"Ya."
"Siapa dia?"
Datuk Mahyudin menarik napas panjang.
"Namanya Datuk Gindo Alam."
Nama itu terdengar asing.
Namun entah mengapa, saat mendengarnya, Rangga merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Seolah nama itu pernah ia dengar sebelumnya.
"Beliau adalah penjaga pertama perjanjian Bukit Barisan."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.
"Perjanjian apa sebenarnya?" tanya Rangga.
Datuk Mahyudin memandangnya.
Lalu mulai bercerita.
---
Ratusan tahun yang lalu...
Ketika wilayah Bukit Barisan masih berupa hutan belantara, nenek moyang mereka datang mencari tempat tinggal baru.
Mereka membuka ladang.
Mendirikan rumah.
Membentuk nagari kecil.
Namun kehidupan saat itu tidak mudah.
Hutan adalah wilayah para harimau.
Setiap kali manusia membuka lahan baru, konflik selalu terjadi.
Banyak pemburu hilang.
Banyak harimau terbunuh.
Permusuhan semakin membesar.
Hingga akhirnya muncul seorang pemimpin bijaksana bernama Datuk Gindo Alam.
Menurut cerita turun-temurun, suatu malam ia naik ke Bukit Kabut seorang diri.
Di sana ia bertemu Raja Harimau.
Seekor harimau tua berwarna putih yang dipercaya sebagai penguasa seluruh wilayah hutan.
Pertemuan itu berlangsung semalam suntuk.
Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan.
Namun ketika Datuk Gindo Alam turun dari bukit keesokan paginya, sebuah perjanjian telah dibuat.
Sejak saat itu manusia dan harimau hidup berdampingan.
Perang berhenti.
Pembunuhan berhenti.
Dan Bukit Barisan kembali tenang.
"Apakah itu benar-benar terjadi?" tanya Rangga.
Datuk Mahyudin tersenyum.
"Legenda selalu memiliki bagian yang sulit dibuktikan."
"Tapi?"
"Tapi ada sesuatu yang nyata."
"Apa itu?"
"Cindaku."
Rangga terdiam.
Lelaki tua itu melanjutkan.
"Cindaku adalah penjaga perjanjian."
"Penjaga?"
"Ya."
"Manusia?"
"Manusia."
Rangga mengernyit.
"Tapi warga bilang Cindaku bisa berubah menjadi harimau."
Datuk Mahyudin tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Senyum yang justru membuat bulu kuduk Rangga merinding.
---
Malam tiba lebih cepat karena cuaca buruk.
Hujan belum berhenti.
Kabut menyelimuti seluruh kampung.
Setelah makan malam, Rangga memutuskan memeriksa rumah gadang lebih jauh.
Sudah lama bangunan itu tidak dihuni banyak anggota keluarga.
Sebagian besar ruangan bahkan jarang dibuka.
Ia membawa lampu minyak kecil.
Perlahan berjalan melewati lorong-lorong kayu yang panjang.
Lantai rumah sesekali berderit.
Suasananya terasa sepi.
Namun bukan sepi yang nyaman.
Melainkan sepi yang membuat seseorang merasa sedang diawasi.
Rangga membuka beberapa pintu kamar tua.
Kosong.
Berdebu.
Tidak ada yang menarik.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ruangan kecil di bagian belakang rumah.
Pintu ruangan itu berbeda.
Lebih tua.
Lebih tebal.
Dan terkunci.
Rangga memperhatikan kuncinya.
Bentuknya mirip dengan ukiran pada kalung taring harimau.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Perlahan ia memasukkan liontin ke lubang kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Rangga membeku.
Ruangan itu ternyata bukan kamar.
Melainkan perpustakaan kecil.
Rak-rak kayu tua memenuhi dinding.
Dipenuhi buku-buku dan naskah kuno.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja besar.
Di atasnya terbentang peta tua Bukit Barisan.
Rangga mendekat.
Matanya membelalak.
Pada peta itu terdapat garis-garis merah yang membagi wilayah tertentu.
Di bagian atas tertulis:
"Wilayah Perjanjian."
Di salah satu sudut terdapat simbol harimau.
Dan tepat di bawahnya terdapat tulisan yang mulai pudar.
"Rimbo Larangan."
Tiba-tiba angin dingin berembus.
Padahal semua jendela tertutup.
Lampu minyak di tangan Rangga bergoyang pelan.
Lalu...
Brak!
Sebuah buku jatuh sendiri dari rak.
Rangga terkejut.
Ia segera mengambil buku itu.
Sampulnya sudah sangat tua.
Ketika dibuka, terdapat tulisan tangan yang mulai memudar.
Namun satu halaman langsung menarik perhatiannya.
Karena terdapat gambar seseorang.
Seorang pria mengenakan pakaian adat lama.
Di sampingnya berdiri seekor harimau besar.
Di bawah gambar tertulis:
"Datuk Gindo Alam dan Raja Harimau, tahun pertama Perjanjian Bukit Barisan."
Rangga menelan ludah.
Kemudian membalik halaman berikutnya.
Dan menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam.
Sebuah silsilah keluarga.
Nama demi nama tercantum di sana.
Dari generasi ke generasi.
Semuanya terhubung.
Matanya bergerak perlahan menelusuri daftar itu.
Hingga akhirnya berhenti pada nama paling bawah.
RANGGA.
Jantungnya berdetak keras.
Di samping namanya terdapat sebuah catatan pendek.
"Pewaris berikutnya."
Tangan Rangga mulai gemetar.
Ia membalik halaman selanjutnya.
Namun halaman itu telah robek.
Dan bukan hanya satu.
Beberapa halaman penting hilang.
Seolah sengaja diambil seseorang.
Tepat saat ia sedang mencoba memahami semuanya...
Terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan.
Tok...
Tok...
Tok...
Rangga menoleh cepat.
Lorong rumah tampak kosong.
Namun suara itu masih terdengar.
Pelan.
Berat.
Seperti seseorang sedang berjalan mengelilingi rumah gadang.
Tok...
Tok...
Tok...
Lalu suara itu berhenti.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Rangga memberanikan diri keluar dari ruangan.
Ia menyinari lorong dengan lampu minyak.
Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Namun saat melewati jendela besar yang menghadap ke arah hutan...
Tubuhnya langsung membeku.
Di halaman belakang rumah.
Di tengah kabut.
Berdiri seekor harimau besar.
Matanya menyala kuning.
Tatapannya lurus ke arah Rangga.
Seolah sudah lama menunggu.
Dan sebelum Rangga sempat bergerak...
Harimau itu perlahan berbalik.
Lalu berjalan menuju arah hutan.
Namun sebelum menghilang ke balik kabut, ia menoleh sekali lagi.
Seakan memberi isyarat.
Mengajak Rangga mengikutinya.
Bersambung ke Part 3: Jejak di Batang Sumpah.
