Part 1: Kasiah Nan Tumbuah di Bukik Sambuang
Kabut tipis selalu turun lebih cepat di Desa Bukik Sambuang dibandingkan desa-desa lain di sekitarnya. Ketika matahari mulai tenggelam di balik perbukitan, udara berubah dingin dan jalan-jalan tanah yang membelah kampung perlahan diselimuti suasana sunyi.
Warga desa terbiasa dengan keadaan itu.
Namun ada satu hal yang selalu mereka hindari untuk dibicarakan menjelang malam.
Sijundai.
Sebuah nama yang membuat orang tua segera menutup pintu rumah dan menyuruh anak-anak masuk sebelum gelap.
Konon, ilmu itu lahir dari cinta yang berubah menjadi dendam.
Cinta yang ditolak.
Kasiah tak sampai.
Dan akibatnya hanya ada dua.
Gila.
Atau meninggal.
Di ujung Desa Bukik Sambuang berdiri sebuah rumah kayu sederhana milik Dajon.
Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu dikenal sebagai sosok pekerja keras. Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, ia membantu ibunya menggarap sawah dan kebun kecil peninggalan keluarga.
Dajon bukan pemuda yang banyak bicara.
Namun seluruh warga desa tahu satu hal.
Ia sangat mencintai Sari.
Perasaan itu sudah tumbuh sejak mereka masih kecil.
Saat masih bersekolah, mereka sering berjalan bersama melewati jalan setapak menuju sungai.
Ketika remaja, Dajon selalu membantu Sari membawa hasil panen keluarganya ke pasar.
Bahkan saat Sari sakit, Dajon menjadi orang pertama yang datang menjenguk.
Semua orang mengira suatu hari mereka akan menikah.
Termasuk Dajon sendiri.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Sore itu Dajon sedang memperbaiki pagar kebun ketika terdengar suara tawa dari jalan desa.
Tanpa sadar ia menoleh.
Di kejauhan tampak Sari berjalan bersama seorang pria.
Riki.
Pemuda yang baru beberapa bulan kembali ke kampung setelah bekerja di kota.
Tubuhnya tinggi.
Wajahnya tampan.
Pakaiannya selalu rapi.
Dalam waktu singkat, banyak gadis desa mulai memperhatikannya.
Termasuk Sari.
Dajon menatap mereka tanpa berkedip.
Sari tertawa ketika Riki mengatakan sesuatu.
Tatapan yang selama ini diharapkan Dajon ternyata diberikan kepada orang lain.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
Ia mencoba mengabaikannya.
Mungkin mereka hanya berteman.
Mungkin ia terlalu banyak berpikir.
Namun jauh di dalam hatinya, muncul ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Malam harinya, Dajon duduk di beranda rumah.
Ibunya keluar membawa secangkir kopi panas.
"Kau melamun sejak tadi," kata sang ibu.
Dajon tersenyum tipis.
"Tak ada apa-apa."
Ibunya duduk di sampingnya.
"Ibu tahu kau menyukai Sari."
Dajon terdiam.
"Tapi hati manusia tidak bisa dipaksa."
Kalimat itu membuatnya semakin gelisah.
Seolah ibunya mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui.
"Apa maksud Ibu?"
Wanita tua itu menarik napas panjang.
"Kemarin Sari datang ke rumah Mak Eni."
"Lalu?"
"Ia datang bersama Riki."
Jantung Dajon berdetak lebih cepat.
"Mereka katanya sedang merencanakan pertunangan."
Suara jangkrik malam mendadak terasa sangat nyaring.
Dajon membeku.
Seakan dunia berhenti berputar.
Pertunangan.
Satu kata itu cukup untuk menghancurkan semua harapannya.
Keesokan harinya kabar itu menyebar ke seluruh desa.
Sari dan Riki benar-benar akan bertunangan.
Sebagian warga senang.
Mereka menganggap pasangan itu serasi.
Namun bagi Dajon, kabar itu seperti hukuman yang tak pernah ia bayangkan.
Ia tetap tersenyum ketika bertemu orang-orang.
Tetap bekerja seperti biasa.
Tetap menyapa tetangga.
Tetapi setiap malam, ia semakin sulit tidur.
Wajah Sari terus muncul dalam pikirannya.
Kenangan masa kecil mereka menghantuinya.
Dan perlahan rasa sedih mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Sesuatu yang bahkan tidak ia kenali.
Seminggu kemudian pesta pertunangan sederhana diadakan.
Seluruh warga desa hadir.
Rumah keluarga Sari dipenuhi tenda dan lampu.
Suara musik tradisional terdengar hingga ke jalan.
Dajon berdiri jauh di balik pohon mangga.
Ia tidak diundang.
Atau mungkin sebenarnya diundang, tetapi ia memilih tidak datang.
Dari kejauhan ia melihat Sari mengenakan pakaian terbaiknya.
Wajah gadis itu tampak bahagia.
Di sampingnya berdiri Riki.
Tersenyum bangga.
Dajon merasakan sesuatu patah di dalam dirinya.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Malam itu untuk pertama kalinya ia menyadari kenyataan yang selama ini ia tolak.
Sari bukan miliknya.
Dan mungkin tidak akan pernah menjadi miliknya.
Setelah pesta selesai, Dajon berjalan sendirian menuju bukit di belakang desa.
Angin malam bertiup dingin.
Kabut turun semakin tebal.
Di puncak bukit terdapat sebuah pohon tua yang sudah berusia ratusan tahun.
Tempat itu jarang didatangi warga.
Konon banyak kejadian aneh pernah terjadi di sana.
Dajon duduk di bawah pohon sambil menatap langit.
"Aku hanya ingin dia bahagia bersamaku..."
Suara itu nyaris seperti bisikan.
Tak lama kemudian terdengar suara lain.
Pelan.
Sangat pelan.
Seakan berasal dari balik kabut.
"Kalau kau benar-benar menginginkannya..."
Dajon langsung berdiri.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara dedaunan yang bergoyang.
Ia menoleh ke segala arah.
Tak seorang pun terlihat.
Mungkin hanya perasaannya.
Mungkin pikirannya sedang kacau.
Namun sebelum pergi, ia kembali mendengar suara itu.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
"Cinta yang hilang bisa dipanggil kembali..."
Tubuh Dajon merinding.
Ia berlari meninggalkan bukit tanpa menoleh sedikit pun.
Sesampainya di rumah, ia mencoba melupakan kejadian tersebut.
Namun malam demi malam, suara itu terus muncul dalam mimpinya.
Kadang terdengar dari balik kabut.
Kadang terdengar dari bawah pohon tua.
Kadang terdengar tepat di samping telinganya.
"Cinta yang hilang bisa dipanggil kembali..."
"Cinta yang hilang bisa dipanggil kembali..."
"Cinta yang hilang bisa dipanggil kembali..."
Dajon mulai kehilangan ketenangan.
Wajahnya semakin pucat.
Matanya sering merah karena kurang tidur.
Bahkan ibunya mulai khawatir melihat perubahan itu.
Namun Dajon tidak pernah menceritakan apa yang dialaminya.
Sebab jauh di dalam hatinya, ia mulai penasaran.
Siapa yang memanggilnya?
Dan apa sebenarnya maksud suara itu?
Sementara itu, di tempat lain, seorang lelaki tua sedang duduk sendirian di sebuah pondok tua di pinggir hutan.
Matanya menatap ke arah Desa Bukik Sambuang yang terlihat samar di kejauhan.
Di depannya terdapat sebuah mangkuk tanah liat berisi air keruh.
Permukaan air tiba-tiba beriak sendiri.
Lalu muncul bayangan wajah Dajon.
Lelaki tua itu tersenyum.
Senyum yang membuat bulu kuduk meremang.
"Akhirnya..."
"Satu hati yang patah telah memilih jalannya."
Api lampu minyak di sampingnya berkedip keras.
Angin dingin berembus dari celah dinding pondok.
Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, nama yang selama ini hanya menjadi bisikan kembali disebut.
Sijundai.
Sebuah ilmu yang lahir dari air mata, dendam, dan cinta yang tak pernah sampai.
Dan tanpa disadari Dajon, langkah pertamanya menuju kegelapan telah dimulai.
BERSAMBUNG KE PART 2: SARI MEMILIH RIKI
