Sunday, June 7, 2026

GASIANG TANGKURAK part X









Part 10 (FINAL): Kelahiran Roh Gasiang Tangkurak

Di tengah kabut yang menyelimuti hutan Nagari Sungai Patah, terdengar suara nyanyian tua dari kejauhan. Suara itu melayang bersama angin malam, seakan dinyanyikan oleh roh-roh yang berkumpul di sekitar Pohon Kematian.



                                            Penyanyi Andi Adam




Begini lirik lagunya :
«Indak kayu mak janjang dikapiang, asakan dapek urang den cinto...
Tolong tangkurak namonyo gasiang, namuah disuruah jo disarayo...Gasiang bаtаlі jо kain kapan
Dі раtаng kаmіh malam jumahaik
Gаѕіаng tаngkurаk nаn dеn nyanyikan
Putuіhnуо gаѕіаng рutuіh mаkrіраіk
Lаh mаnggаbubu asok kumауаn
Urang dі dunia banyak kіrаmаіk
Tоoolоoong
Tоlоnglah jіhіn ѕі rаjо hawa
Gаѕіаng tangkurak baoklah раѕаn (baoklah раѕаn)
Jіkоk nуо lаlоk tоlоng jаgоkаn
Jіkоk nуо tаgаk suruah bаjаlаn (suruah bаjаlаn)
Di siko kіnі denai nantikan
Tоlоnglаh japuik jарuіk tаbаоk
Suruаh nуо ѕujuіk dі kаkі denai
Jіkоk tаk namuah tаnggаng matonyo
Tаnggаng salero bia nуо rasai
Dаtаng ѕіjundаі bіа nуо gіlо
Sіаng jо mаlаm nуо саri dеnаі
Baruuuu...
Bаru nуо sanang dek kiro-kiro»

Lantunan itu semakin jelas terdengar. Suaranya lirih, namun mampu membuat bulu kuduk berdiri. Datuk Sinaro langsung mengenali nyanyian tersebut. Itu adalah dendang lama yang konon selalu mengiringi kemunculan Gasiang Tangkurak.

Ketika bait terakhir menghilang ditelan angin, langit mendadak berubah merah. Tangan hitam raksasa muncul dari dalam tanah, sementara Putra Boneng terus diseret menuju kegelapan...


"Terlambat..."

Suara roh tengkorak menggema ke seluruh hutan.

Tangan hitam raksasa yang muncul dari dalam tanah terus menyeret Putra Boneng ke bawah.

Tanah di sekelilingnya retak.

Akar-akar hitam melilit tubuhnya.

Rendy dan Tigor berusaha menariknya.

Namun kekuatan makhluk itu terlalu besar.

"PUTRA!" teriak Rendy.

Putra menoleh.

Wajahnya penuh darah dan tanah.

Namun untuk pertama kalinya sejak semua bencana dimulai, senyum tipis muncul di wajahnya.

Senyum seseorang yang akhirnya menerima akibat dari kesalahannya.

---

Di atas Pohon Kematian, tubuh Melisa masih melayang.

Matanya kini sepenuhnya merah.

Asap hitam memenuhi seluruh tubuhnya.

Suara yang keluar dari mulutnya bukan lagi suara seorang gadis.

Melainkan suara makhluk kuno yang telah lama dikurung.

«"Aku kembali..."»

Langit berubah merah gelap.

Petir menyambar tanpa henti.

Ratusan burung berjatuhan dari udara.

Sementara makhluk-makhluk tanpa wajah kembali muncul dari balik kabut.

Jumlah mereka jauh lebih banyak.

Ribuan.

Mereka berlutut menghadap Melisa.

Seolah sedang menyambut ratu mereka.

---

Datuk Sinaro terlihat putus asa.

Ia tahu jika roh itu sepenuhnya menyatu dengan Melisa.

Maka tidak akan ada lagi cara untuk menghentikannya.

Kutukan Gasiang Tangkurak akan menyebar ke seluruh daerah.

Bahkan mungkin lebih jauh.

Datuk mengangkat tongkatnya.

Membaca doa dengan suara lantang.

Cahaya putih muncul kembali.

Namun kali ini jauh lebih lemah.

Usianya sudah terlalu tua.

Tenaganya hampir habis.

Roh tengkorak hanya tertawa.

«"Kau sudah kalah, Datuk."»

---

Tepat saat harapan hampir hilang.

Putra yang masih diseret ke dalam tanah melihat sesuatu.

Gasiang Tangkurak.

Benda itu terjatuh beberapa meter dari Pohon Kematian.

Masih berputar.

Masih mengeluarkan suara mengerikan.

Nginggg...

Nginggg...

Nginggg...

Putra teringat ucapan Datuk.

"Harus dihancurkan menggunakan darah orang yang pertama kali memutarnya."

Darahnya telah membasahi seluruh permukaan gasing itu.

Artinya ritual belum gagal.

Belum.

Masih ada kesempatan.

Walau hanya satu.

---

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Putra meraih pisau pusaka.

Lalu memotong akar hitam yang melilit tangannya.

Sakitnya luar biasa.

Namun ia berhasil melepaskan satu tangan.

Rendy menyadari apa yang sedang dilakukan sahabatnya.

"PUTRA! JANGAN!"

Namun Putra sudah mengambil keputusan.

Ia tidak ingin ada lagi korban.

Tidak ingin Rosa menderita.

Tidak ingin Melisa kehilangan hidupnya.

Dan tidak ingin kampung itu hancur karena kesalahannya.

---

Dengan tenaga terakhir.

Putra melemparkan dirinya ke arah Gasiang Tangkurak.

Tubuhnya menghantam tanah.

Tulang bahunya terasa patah.

Namun ia berhasil menggenggam gasing tengkorak itu.

Seketika suara jeritan terdengar dari seluruh penjuru hutan.

Roh tengkorak langsung menoleh.

Matanya menyala semakin terang.

«"JANGAN!"»

Untuk pertama kalinya.

Makhluk itu terlihat takut.

---

Putra berdiri.

Tubuhnya hampir roboh.

Darah terus mengalir.

Namun ia tetap melangkah menuju Pohon Kematian.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Setiap langkah terasa seperti berjalan menuju kematian.

Di atasnya, Melisa menjerit kesakitan.

Asap hitam mulai keluar dari mata dan mulutnya.

Karena roh itu menyadari apa yang akan terjadi.

---

"Melisa..."

bisik Putra.

Melisa perlahan membuka mata.

Untuk sesaat.

Hanya sesaat.

Kesadarannya kembali.

Air mata mengalir di pipinya.

"Putra..."

Ia akhirnya mengetahui semuanya.

Perasaan Putra.

Penyesalannya.

Dan pengorbanannya.

Namun semuanya sudah terlambat.

---

Putra tersenyum.

Lalu mengangkat Gasiang Tangkurak setinggi mungkin.

"Berakhir sudah."

BRAAAKKK!!

Ia menghantamkan gasing itu ke batang Pohon Kematian.

Ledakan cahaya putih memenuhi seluruh hutan.

Suara menggelegar terdengar hingga ke kampung.

Roh tengkorak menjerit.

Jeritan yang begitu mengerikan hingga membuat tanah bergetar.

«"TIDAAAAAAAK!"»

Retakan muncul di seluruh permukaan tengkorak.

Semakin besar.

Semakin besar.

Lalu...

DUAAARRR!!

Gasiang Tangkurak hancur berkeping-keping.

---

Saat itu juga.

Seluruh asap hitam tersedot ke dalam tanah.

Makhluk tanpa wajah berubah menjadi debu.

Langit merah kembali normal.

Petir berhenti.

Kabut menghilang.

Dan Pohon Kematian mulai runtuh.

Akar-akarnya membusuk dalam hitungan detik.

Seolah kekuatan yang menopangnya selama ratusan tahun telah lenyap.

Roh tengkorak berteriak untuk terakhir kalinya.

Lalu menghilang.

---

Tubuh Melisa jatuh dari udara.

Rendy dan Rosa berhasil menangkapnya.

Melisa pingsan.

Namun tanda hitam di tangannya perlahan memudar.

Kutukan itu telah berakhir.

Datuk Sinaro tersenyum lega.

Meski tubuhnya hampir kehabisan tenaga.

Mereka berhasil.

Namun ketika semua orang mencari Putra...

mereka tidak menemukannya.

---

Di dekat batang Pohon Kematian yang telah roboh.

Hanya ada tanah retak.

Dan sebuah pisau pusaka yang tertancap.

Putra Boneng telah menghilang.

Tak ada jasad.

Tak ada jejak.

Seolah bumi menelannya bersama kutukan tersebut.

Malam itu seluruh kampung menangis.

Karena mereka tahu.

Putra telah mengorbankan dirinya.

---

Enam bulan kemudian.

Nagari Sungai Patah kembali damai.

Tidak ada lagi suara gasing di malam hari.

Tidak ada lagi orang hilang.

Tidak ada lagi teror dari hutan.

Melisa, Rosa, Rendy, dan Tigor sering datang ke makam simbolis yang dibuat untuk Putra.

Meski jasadnya tidak pernah ditemukan.

Mereka tetap menganggapnya sebagai pahlawan.

---

Namun...

suatu malam.

Seorang pemburu liar tersesat di hutan yang telah lama ditinggalkan.

Di antara akar pohon yang membusuk.

Ia menemukan sebuah benda kecil.

Setengah tertanam di tanah.

Benda itu tampak seperti pecahan tulang.

Saat diangkat.

Bentuknya menyerupai bagian dari sebuah gasing.

Di permukaannya terdapat ukiran kuno.

Dan ketika pemburu itu menyentuhnya...

terdengar suara sangat pelan.

Nginggg...

Nginggg...

Nginggg...

Pemburu itu langsung menoleh.

Karena dari balik pepohonan.

Seolah ada seseorang yang sedang mengawasinya.

Dua mata merah menyala di kegelapan.

Dan sebuah bisikan terdengar.

«"Permainan baru akan dimulai..."»

TAMAT

Epilog

Kutukan Gasiang Tangkurak memang telah dihentikan.

Namun tidak ada yang tahu apakah seluruh bagian gasing itu benar-benar hancur.

Karena benda yang lahir dari dendam, obsesi, dan ilmu hitam sering kali tidak pernah benar-benar lenyap.

Ia hanya menunggu seseorang yang cukup nekat untuk membangunkannya kembali.Selesai.