Sunday, June 7, 2026

GASIANG TANGKURAK part lX






Part 9: Malam Penjemputan Tumbal

Angin malam berhembus kencang di Nagari Sungai Patah.

Daun-daun berjatuhan dari pepohonan.

Langit tertutup awan hitam.

Namun bulan purnama masih tampak samar di balik kabut yang menyelimuti kampung.

Malam itu terasa berbeda.

Lebih dingin.

Lebih sunyi.

Dan lebih menyeramkan dari malam-malam sebelumnya.

Di rumah Datuk Sinaro, semua orang berkumpul.

Melisa duduk di sudut ruangan sambil memegangi tangan kirinya.

Tanda hitam yang selama ini menjalar kini telah mencapai bahu.

Rasa panasnya semakin menyiksa.

Seolah ada bara api yang hidup di bawah kulitnya.

Rendy berdiri di dekat jendela.

Tigor mondar-mandir dengan wajah tegang.

Sementara Putra Boneng hanya diam menatap lantai.

Tidak ada yang berbicara.

Karena mereka semua tahu.

Malam penjemputan telah tiba.

---

Tepat pukul sebelas malam.

Tiba-tiba lampu minyak di rumah Datuk padam.

Padahal tidak ada angin yang masuk.

Ruangan langsung gelap gulita.

Kemudian terdengar suara yang sangat mereka kenal.

Nginggg...

Nginggg...

Nginggg...

Suara gasing berputar.

Awalnya terdengar jauh.

Namun perlahan semakin dekat.

Semakin dekat.

Dan semakin dekat.

Hingga terdengar tepat di luar rumah.

Tigor langsung membuka pintu.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Hanya jalanan kosong yang diselimuti kabut.

Lalu dari balik kabut itu muncul sosok-sosok hitam.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Puluhan.

Mereka berjalan perlahan menuju rumah Datuk.

Tubuh mereka menyerupai manusia.

Namun wajah mereka kosong.

Tidak memiliki mata.

Tidak memiliki hidung.

Tidak memiliki mulut.

Hanya kulit putih pucat seperti lilin.

Melisa langsung gemetar.

Karena Rosa pernah menceritakan makhluk yang sama.

Makhluk tanpa wajah yang berputar mengelilinginya di bawah Pohon Kematian.

---

"Jangan keluar!" teriak Datuk.

Ia segera mengambil segenggam garam kasar dan menaburkannya di depan pintu.

Makhluk-makhluk itu berhenti.

Mereka berdiri diam di luar halaman.

Namun suara gasing terus terdengar.

Nginggg...

Nginggg...

Nginggg...

Suara itu membuat kepala semua orang terasa sakit.

Seolah masuk ke dalam pikiran.

Tiba-tiba Melisa berdiri.

Matanya kosong.

Tubuhnya bergerak perlahan menuju pintu.

"Melisa!" teriak Rosa.

Namun Melisa tidak menjawab.

Ia terus berjalan.

Seperti orang yang sedang tidur.

Datuk langsung menyadari sesuatu.

"Mereka memanggil jiwanya!"

Putra berusaha menahan Melisa.

Namun kekuatan gadis itu mendadak menjadi luar biasa.

Ia mendorong Putra hingga terjatuh.

Lalu berjalan keluar rumah.

Melewati garis garam.

Menuju kabut malam.

---

"Kejar dia!" teriak Rendy.

Mereka semua berlari keluar.

Namun makhluk-makhluk tanpa wajah itu perlahan membuka jalan.

Seolah sedang mengantar seseorang menuju tujuan tertentu.

Melisa berjalan di tengah mereka.

Tanpa menoleh sedikit pun.

Tanpa mengucapkan sepatah kata.

Kabut semakin tebal.

Hutan semakin dekat.

Dan suara gasing semakin keras.

---

Perjalanan menuju hutan terasa sangat panjang.

Setiap langkah membawa mereka semakin jauh dari kampung.

Semakin jauh dari dunia yang mereka kenal.

Sesampainya di dekat Pohon Kematian.

Semua orang terhenti.

Pemandangan di depan mereka membuat darah membeku.

Ratusan makhluk tanpa wajah berdiri mengelilingi pohon raksasa itu.

Mereka membentuk lingkaran besar.

Dan di tengah lingkaran...

terdapat Gasiang Tangkurak.

Gasing tengkorak itu berputar sendiri di atas tanah.

Tanpa disentuh siapa pun.

Nginggg...

Nginggg...

Nginggg...

Dari setiap putarannya keluar asap hitam pekat.

Asap yang membentuk sosok raksasa menyerupai manusia.

Namun berkepala tengkorak.

Matanya menyala merah seperti bara api.

---

"Itu dia..." bisik Datuk.

Roh penjaga Gasiang Tangkurak.

Makhluk yang selama puluhan tahun hanya menjadi legenda.

Kini berdiri di hadapan mereka.

Sosok itu menatap Melisa.

Lalu tersenyum.

Senyum yang membuat seluruh hutan terasa membeku.

«"Wadahku telah datang."»

Melisa berjalan menuju pohon.

Tubuhnya mulai terangkat perlahan dari tanah.

Rosa menangis histeris.

Rendy dan Tigor mencoba mendekat.

Namun angin hitam melempar mereka hingga beberapa meter.

Tak ada yang mampu menghentikannya.

---

Saat itulah Putra Boneng maju.

Untuk pertama kalinya sejak semua teror dimulai.

Ia tidak lagi terlihat takut.

Ia tidak lagi berusaha lari dari kesalahannya.

Putra menggenggam erat Gasiang Tangkurak yang selama ini menjadi sumber petaka.

Meski tangannya langsung berdarah karena permukaan tengkorak itu terasa seperti pisau tajam.

"Aku yang membangunkanmu!"

teriaknya.

Roh tengkorak menoleh.

"Aku juga yang akan mengakhiri semuanya!"

Makhluk itu tertawa.

Suara tawanya mengguncang seluruh hutan.

«"Kau pikir bisa menghentikanku?"»

Putra menatap Datuk.

Datuk mengangguk perlahan.

Mereka sama-sama tahu apa yang harus dilakukan.

Namun ritual itu memiliki harga yang sangat mahal.

---

Putra mengambil pisau pusaka yang diberikan Datuk.

Tanpa ragu ia menggores telapak tangannya.

Darah mengalir deras.

Lalu ia meneteskan darah itu ke atas Gasiang Tangkurak.

Seketika gasing tersebut bergetar hebat.

Ngingggggggg!!!

Suara putarannya berubah menjadi jeritan mengerikan.

Makhluk tengkorak itu langsung berteriak marah.

«"BERHENTI!"»

Namun Putra terus melangkah menuju Pohon Kematian.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Sementara tubuhnya mulai melemah.

Karena darah yang mengalir dari tangannya tidak berhenti.

---

Tiba-tiba tanah bergetar hebat.

Akar-akar pohon keluar dari dalam tanah.

Mencoba menangkap Putra.

Rendy dan Tigor segera membantu.

Mereka menebas akar-akar itu menggunakan parang.

Namun jumlahnya semakin banyak.

Di sisi lain, Melisa masih melayang di udara.

Asap hitam mulai masuk ke tubuhnya.

Roh penjaga hampir berhasil mengambil alih dirinya.

Wajah Melisa berubah pucat.

Matanya perlahan berubah merah.

Jika terlambat sedikit saja...

semuanya akan berakhir.

---

Datuk Sinaro mengangkat tongkat kayunya.

Lalu membaca doa-doa dengan suara lantang.

Cahaya putih muncul dari tubuhnya.

Menyinari seluruh area Pohon Kematian.

Makhluk-makhluk tanpa wajah mulai berteriak kesakitan.

Satu per satu menghilang menjadi abu.

Namun roh tengkorak itu masih bertahan.

Bahkan semakin marah.

Langit mendadak berubah merah.

Petir menyambar tanpa henti.

Dan dari dalam awan terdengar suara ribuan orang menjerit bersamaan.

---

Putra akhirnya sampai di depan batang Pohon Kematian.

Ia mengangkat Gasiang Tangkurak tinggi-tinggi.

Tangannya gemetar.

Tubuhnya hampir roboh.

Namun ia tetap berdiri.

Lalu ia menatap Melisa untuk terakhir kalinya.

Air mata mengalir di pipinya.

"Aku minta maaf..."

bisiknya.

Kemudian Putra mengayunkan tangannya.

Siap menghancurkan Gasiang Tangkurak di batang Pohon Kematian.

Namun tepat sebelum benda itu menghantam pohon...

sebuah tangan hitam raksasa muncul dari dalam tanah.

Dan menangkap Putra.

Makhluk tengkorak tertawa keras.

«"Terlambat!"»

Tangan raksasa itu mulai menyeret Putra ke dalam bumi.

Sementara tubuh Melisa perlahan membuka mata merahnya.

Dan dari mulutnya keluar suara yang bukan miliknya.

«"Aku telah lahir..."»

BERSAMBUNG KE PART 10 : KELAHIRAN ROH GASIANG TANGKURAK