Part 8: Rahasia Putra Boneng Terbongkar
Tawa mengerikan itu menggema ke seluruh ruangan.
"Hahahahahaha..."
Asap hitam keluar dari dalam peti tua.
Melisa mundur beberapa langkah hingga menabrak dinding rumah.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Sementara Putra Boneng berdiri mematung dengan wajah pucat seperti mayat.
"Melisa, keluar sekarang!" teriak Putra.
Namun sebelum Melisa bergerak, dua mata merah menyala dari dalam peti menatap lurus ke arahnya.
Tatapan itu terasa menusuk hingga ke dalam jiwa.
Membuat tubuhnya mendadak lemas.
Lalu terdengar suara berat dan serak.
«"Anak perempuan itu milikku..."»
Ruangan mendadak menjadi dingin.
Napas Melisa terlihat seperti asap.
Seluruh rumah bergetar perlahan.
Peti hitam itu bergerak sendiri.
Kreeeek...
Kreeeek...
Seolah ada sesuatu yang sedang berusaha keluar.
Dengan cepat Putra mengambil kain putih yang tergantung di dinding lalu melemparkannya ke atas peti.
Asap hitam langsung berkurang.
Tawa itu perlahan menghilang.
Namun suara terakhir masih terdengar.
«"Bulan purnama tinggal tiga malam..."»
Lalu semuanya kembali sunyi.
---
Melisa langsung menarik kerah baju Putra.
"Katakan yang sebenarnya!"
Putra menunduk.
Selama beberapa saat ia hanya diam.
Air matanya perlahan jatuh.
"Aku tidak pernah berniat seperti ini."
Melisa semakin marah.
"Rosa melihatmu di bawah Pohon Kematian!"
Putra menutup wajahnya.
Dan akhirnya rahasia yang selama ini ia sembunyikan mulai terbongkar.
---
Empat bulan sebelumnya.
Putra Boneng adalah pemuda biasa.
Ia diam-diam mencintai Melisa sejak kecil.
Namun Melisa tidak pernah mengetahui perasaannya.
Melisa lebih sering menghabiskan waktu bersama Rendy dan teman-temannya.
Hal itu membuat Putra semakin terpuruk.
Suatu malam ia bertemu seorang lelaki tua misterius di pasar tua yang sudah sepi.
Lelaki itu mengenakan pakaian hitam.
Matanya tajam.
Dan di tangannya terdapat sebuah benda aneh yang dibungkus kain.
"Aku tahu apa yang kau inginkan," kata lelaki itu.
Putra terkejut.
"Apa maksudnya?"
"Kau ingin seseorang mencintaimu."
Putra mencoba pergi.
Namun lelaki itu kembali berbicara.
"Aku bisa membantu."
Kalimat itu menjadi awal dari semuanya.
---
Lelaki misterius tersebut kemudian mengajak Putra ke sebuah gubuk tua di pinggir hutan.
Di sana Putra pertama kali melihat Gasiang Tangkurak.
Gasing yang terbuat dari tengkorak manusia.
Permukaannya dipenuhi ukiran aneh.
Dan saat diputar...
terdengar suara bisikan-bisikan menyeramkan.
Lelaki tua itu menjelaskan bahwa benda tersebut berasal dari ilmu hitam kuno Minangkabau yang telah lama dilarang.
Konon, siapa pun yang menguasainya bisa memengaruhi hati seseorang.
Bahkan menghancurkan kehidupan orang yang dibencinya.
Namun ada syarat.
Gasiang itu harus diberi tumbal.
Awalnya hanya darah.
Lalu jiwa.
Dan akhirnya nyawa.
Putra ketakutan.
Namun rasa cintanya yang obsesif membuatnya tetap menerima benda itu.
Keputusan yang kini sangat ia sesali.
---
"Aku hanya ingin Melisa memperhatikanku," kata Putra sambil menangis.
"Tapi semuanya berubah."
Melisa menatapnya penuh kekecewaan.
"Karena ulahmu Rosa hampir mati."
Putra mengangguk.
"Aku tahu."
"Dan Dina?"
Putra terdiam.
Wajahnya semakin pucat.
"Apa yang terjadi dengan Dina?" tanya Melisa.
Putra menunduk.
"Aku tidak tahu."
Namun nada suaranya membuat Melisa sadar bahwa Putra sedang menyembunyikan sesuatu.
---
Malam itu Rendy dan Tigor datang ke rumah Putra.
Mereka terkejut mendengar pengakuan tersebut.
Tigor hampir memukul Putra.
Beruntung Rendy berhasil menahannya.
"Kita tidak punya waktu."
"Kenapa?" tanya Melisa.
Rendy mengeluarkan secarik kertas tua yang diberikan Datuk Sinaro.
Di dalamnya terdapat tulisan kuno.
Datuk berhasil menerjemahkannya.
Isi tulisan itu membuat semua orang terdiam.
«Saat bulan purnama ketiga tiba,
roh penjaga akan bangkit sepenuhnya.
Ia akan mengambil tubuh manusia
sebagai wadah baru.»
Melisa langsung merasa ngeri.
"Siapa yang akan menjadi wadahnya?"
Rendy menelan ludah.
"Orang yang diberi tanda pertama."
Semua mata langsung tertuju ke tangan Melisa.
Tanda hitam itu kini hampir mencapai bahunya.
---
Di saat yang sama.
Jauh di dalam hutan.
Dina ternyata masih hidup.
Namun keadaannya sangat mengerikan.
Ia terjebak di sebuah tempat yang tidak dikenal.
Kabut hitam menutupi seluruh area.
Pohon-pohon tampak mati.
Tak ada suara burung.
Tak ada suara serangga.
Hanya keheningan.
Sudah berhari-hari Dina berjalan tanpa arah.
Namun ia tidak pernah menemukan jalan keluar.
Malam itu ia melihat sebuah cahaya merah di kejauhan.
Karena putus asa, ia mendekatinya.
Semakin dekat.
Semakin jelas bentuknya.
Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah bangunan tua.
Bangunan yang menyerupai surau kuno.
Tetapi seluruh dindingnya terbuat dari tulang manusia.
Dina gemetar ketakutan.
Lalu pintu bangunan itu terbuka sendiri.
Dan seseorang keluar dari dalam.
Sosok perempuan tua berambut panjang.
Wajahnya penuh luka.
Matanya hitam pekat.
Namun yang paling mengerikan...
kepalanya berputar perlahan seperti gasing.
Perempuan itu tersenyum.
«"Akhirnya kau sampai juga..."»
Dina berteriak dan berusaha lari.
Tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.
Seolah tanah menahannya.
Lalu perempuan itu menunjuk ke arah bulan.
"Ketika bulan penuh tiba..."
"Majikan kami akan lahir kembali."
---
Keesokan paginya.
Datuk Sinaro memanggil Putra, Rendy, Tigor, dan Melisa.
Wajah Datuk terlihat lebih serius dari biasanya.
"Aku sudah menemukan cara menghancurkan Gasiang Tangkurak."
Semua langsung memperhatikannya.
"Bagaimana caranya?"
Datuk menarik napas panjang.
"Harus dibakar di bawah Pohon Kematian."
"Itu saja?"
Datuk menggeleng.
"Api biasa tidak akan berhasil."
"Lalu?"
Datuk menatap Putra.
"Harus menggunakan darah orang yang pertama kali memutarnya."
Ruangan langsung sunyi.
Karena semua tahu siapa orang itu.
Putra Boneng.
Dan ritual itu kemungkinan besar akan mengorbankan nyawanya.
---
Malam mulai turun.
Di luar rumah Datuk.
Angin bertiup semakin kencang.
Tiba-tiba terdengar suara gasing berputar.
Nginggg...
Nginggg...
Nginggg...
Padahal tidak ada siapa pun di luar.
Datuk langsung berdiri.
Wajahnya pucat.
Ia melihat ke arah hutan.
Di kejauhan tampak ratusan cahaya merah menyala di antara pepohonan.
Seperti mata-mata yang sedang mengawasi kampung.
Lalu terdengar suara yang sama seperti di dalam peti.
«"Tumbal utama akan kami jemput malam ini..."»
Melisa langsung memegang tangannya yang bertanda hitam.
Karena untuk pertama kalinya tanda itu terasa panas seperti terbakar.
Dan perlahan muncul tulisan baru di kulitnya.
Tulisan yang terbentuk dari darah.
"MENUJU POHON KEMATIAN."
Bersambung ke Part 9: Malam Penjemputan TumbalPada Part 9, Melisa mulai kehilangan kendali atas tubuhnya dan dipaksa berjalan menuju Pohon Kematian, sementara Putra harus memilih antara mengorbankan dirinya atau membiarkan roh Gasiang Tangkurak lahir kembali.
