Part 7: Rosa yang Kembali dari Hutan
Hujan gerimis turun membasahi Nagari Sungai Patah.
Suasana kampung masih dipenuhi ketakutan setelah hilangnya Rosa.
Warga mulai membicarakan kembali legenda-legenda lama yang selama puluhan tahun terkubur.
Tak ada yang berani keluar rumah setelah magrib.
Tak ada yang berani melintas dekat hutan.
Dan tak ada yang berani menyebut nama Gasiang Tangkurak dengan suara keras.
Namun yang tidak diketahui siapa pun, teror itu belum mencapai puncaknya.
---
Pagi hari, Melisa duduk termenung di teras rumah.
Matanya sembab karena semalaman tidak bisa tidur.
Tanda hitam di tangannya kini telah menjalar hingga siku.
Garis-garis gelap itu terlihat seperti akar pohon yang hidup.
Kadang bergerak perlahan di bawah kulit.
Membuat Melisa merasa mual setiap kali melihatnya.
Ibunya mulai menyadari ada sesuatu yang tidak normal.
Tetapi Melisa belum berani menceritakan semuanya.
Karena siapa pun yang mengetahui kutukan itu seakan ikut terseret ke dalamnya.
---
Di rumah Putra Boneng, keadaan jauh lebih buruk.
Sejak tulisan darah muncul di atas peti hitam, ia hampir tidak pernah tidur.
Setiap malam ia mendengar suara langkah kaki mengelilingi rumah.
Krek...
Krek...
Krek...
Seolah ada banyak orang berjalan di luar.
Namun saat diperiksa, tak ada siapa-siapa.
Malam sebelumnya bahkan ia mendengar suara perempuan menangis dari dalam peti.
Tangisan yang terdengar sangat mirip Rosa.
Hal itu membuat Putra semakin dihantui rasa bersalah.
"Aku harus menghentikan semua ini."
Tetapi setiap kali ia berniat membuang Gasiang Tangkurak, tubuhnya terasa lumpuh.
Seolah ada kekuatan yang mencegahnya.
---
Sementara itu, Rendy dan Tigor kembali menemui Datuk Sinaro.
Mereka menceritakan tentang cahaya putih yang keluar dari Batu Kutukan.
Datuk terlihat terkejut.
"Itu berarti segelnya masih utuh."
"Maksud Datuk?" tanya Tigor.
Datuk menarik napas panjang.
"Dahulu para ulama dan ninik mamak tidak mampu menghancurkan roh penjaga Gasiang Tangkurak."
"Lalu?"
"Mereka hanya berhasil mengurungnya."
Rendy langsung mengerti.
"Jadi batu itu bukan sumber kekuatan?"
Datuk mengangguk.
"Itu penjara."
Mendengar jawaban tersebut, tubuh Rendy langsung merinding.
Jika batu itu dihancurkan sembarangan, bisa jadi roh yang lebih mengerikan justru akan bebas.
---
Menjelang sore, kabar mengejutkan datang ke kampung.
Seorang anak kecil berlari sambil berteriak.
"Rosa ditemukan!"
Warga langsung keluar rumah.
Melisa yang mendengar kabar itu segera berlari menuju balai kampung.
Jantungnya berdebar kencang.
Saat tiba di sana, ia melihat Rosa duduk sendirian di sebuah bangku kayu.
Pakaian yang dikenakannya masih sama seperti saat menghilang.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Sangat berbeda.
Kulit Rosa tampak pucat.
Matanya kosong.
Dan sejak ditemukan satu jam lalu, ia belum mengucapkan sepatah kata pun.
"Rosa!"
Melisa langsung memeluk sahabatnya.
Namun tubuh Rosa terasa dingin.
Sangat dingin.
Seperti es.
Rosa perlahan menoleh.
Tatapannya kosong.
Lalu tersenyum.
Senyuman yang membuat Melisa merinding.
Karena itu bukan senyum Rosa yang ia kenal.
---
Malam harinya, Rosa akhirnya dibawa pulang.
Ibunya menangis bahagia karena putrinya telah kembali.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Tepat pukul dua belas malam.
Rosa tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya.
Matanya terbuka lebar.
Tetapi masih kosong.
Perlahan ia berjalan keluar rumah.
Melewati ruang tamu.
Membuka pintu.
Dan menuju halaman belakang.
Ibunya yang terbangun langsung mengikuti.
"Rosa!"
Namun Rosa tidak menjawab.
Ia terus berjalan menuju sumur tua di belakang rumah.
Lalu berdiri di tepinya.
Kepalanya menunduk.
Tubuhnya diam.
Beberapa detik kemudian terdengar suara lain keluar dari mulutnya.
Suara yang bukan miliknya.
Suara berat dan serak.
«"Tumbal utama hampir siap."»
Ibunya menjerit ketakutan.
Tetangga berdatangan.
Namun saat mereka tiba, Rosa langsung pingsan.
Dan ketika sadar beberapa menit kemudian, ia tidak mengingat apa pun.
---
Keesokan harinya, Melisa datang menjenguk Rosa.
Mereka duduk berdua di kamar.
Awalnya Rosa hanya diam.
Namun perlahan air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku takut, Melisa."
Melisa menggenggam tangannya.
"Apa yang terjadi?"
Tubuh Rosa gemetar.
"Aku ingat sedikit."
"Ingat apa?"
Rosa menunduk.
Lalu berbisik.
"Aku dibawa ke bawah Pohon Kematian."
Wajah Melisa langsung pucat.
"Ada banyak orang di sana."
"Siapa?"
"Bukan manusia."
Rosa mulai menangis.
"Mereka tidak punya wajah."
"Mereka terus berputar mengelilingiku seperti gasing."
Melisa merasakan bulu kuduknya berdiri.
Rosa kemudian mengatakan sesuatu yang membuat darahnya membeku.
"Aku melihat Putra Boneng."
Melisa terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Aku melihat dia berdiri di dekat makhluk bertengkorak itu."
"Dia membawa Gasiang Tangkurak."
Ruangan mendadak sunyi.
Selama ini Melisa hanya curiga.
Tetapi kini ada orang lain yang melihatnya.
---
Sore harinya, Melisa memutuskan menemui Putra.
Untuk pertama kalinya sejak semua teror dimulai.
Saat tiba di rumah kayu itu, suasana terlihat sepi.
Pintu sedikit terbuka.
Melisa memanggil.
"Putra?"
Tidak ada jawaban.
Ia masuk perlahan.
Dan saat melewati sebuah ruangan kecil...
ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku.
Sebuah peti hitam tua.
Tutupnya terbuka sedikit.
Dari dalamnya keluar asap hitam tipis.
Dan di sela-sela tutup peti tampak sebuah benda menyerupai tengkorak manusia.
Tepat saat Melisa mendekat...
sebuah suara berbisik dari dalam peti.
«"Akhirnya kau datang..."»
Melisa langsung mundur ketakutan.
Namun sebelum sempat keluar rumah, terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Putra Boneng telah pulang.
Wajahnya pucat.
Matanya dipenuhi ketakutan.
Dan saat melihat Melisa berada di dekat peti itu...
Putra langsung berteriak.
"JANGAN DIBUKA!"
Teriakannya menggema ke seluruh rumah.
Namun semuanya sudah terlambat.
Karena tutup peti perlahan bergerak sendiri.
Kreeeek...
Dan dari dalamnya terdengar suara tawa mengerikan yang selama ini menghantui kampung.
Hahahahahaha...
Asap hitam mulai memenuhi ruangan.
Sementara di dasar peti, dua mata merah menyala perlahan terbuka.
Bersambung ke Part 8: Rahasia Putra Boneng TerbongkarPada Part 8 nanti, Melisa akhirnya mengetahui peran Putra dalam kebangkitan Gasiang Tangkurak, sementara roh penjaga mulai menunjukkan wujud aslinya dan menuntut tumbal utama sebelum bulan purnama berakhir.
