Part 6: Malam Hilangnya Rosa
Kegelapan menyelimuti Nagari Sungai Patah.
Seluruh lampu kampung padam dalam waktu yang bersamaan.
Tak seorang pun mengerti apa yang terjadi.
Anak-anak menangis di dalam rumah.
Orang-orang dewasa menutup pintu dan jendela rapat-rapat.
Sementara itu, Rosa berlari di jalan setapak dengan napas terengah-engah.
Suara gasing yang berputar masih terdengar di belakangnya.
Wuuung...
Wuuung...
Wuuung...
Suara itu semakin dekat.
Semakin cepat.
Semakin mengerikan.
Rosa tidak berani menoleh.
Ia hanya terus berlari.
Namun tiba-tiba kakinya tersandung batu.
Bruk!
Tubuhnya jatuh ke tanah.
Saat itulah suara putaran itu berhenti.
Sunyi.
Sangat sunyi.
Dengan tubuh gemetar, Rosa perlahan menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Jalanan kosong.
Hanya kabut putih yang bergerak perlahan di antara pepohonan.
Rosa mencoba berdiri.
Tetapi saat mengangkat kepala...
ia melihat sosok tinggi berdiri tepat di hadapannya.
Sosok bertengkorak.
Dengan mata merah menyala.
Dan sebuah gasing tengkorak yang berputar di tangannya.
Rosa menjerit.
Jeritannya menggema ke seluruh jalan.
Lalu semuanya menjadi gelap.
---
Di rumah Melisa, perasaan tidak tenang tiba-tiba muncul.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
Seakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Saat itu juga ponselnya berdering.
Ibunya Rosa menelepon.
Suara perempuan itu terdengar panik.
"Melisa! Rosa ada bersamamu?"
Melisa langsung terkejut.
"Tidak, Tante."
"Dia belum pulang."
Jantung Melisa langsung berdegup keras.
Karena terakhir kali mereka bertemu hanya beberapa jam lalu.
Setelah panggilan berakhir, Melisa segera keluar rumah.
Meski malam sudah larut, ia merasa harus mencari sahabatnya.
---
Di saat yang sama, Rendy dan Tigor masih berada di dekat Pohon Kematian.
Makhluk bertengkorak yang muncul dari balik batang pohon kini berdiri hanya beberapa meter di depan mereka.
Udara terasa sangat dingin.
Napas mereka berubah menjadi embun putih.
Makhluk itu menatap mereka dengan rongga mata merah menyala.
«"Pergilah..."»
«"Atau kalian akan menjadi tumbal berikutnya."»
Tigor hampir kehilangan keberaniannya.
Namun Rendy menggenggam cangkul erat-erat.
"Kami tidak akan pergi."
Makhluk itu tertawa.
Suara tawanya membuat tanah bergetar.
Kemudian akar-akar pohon mulai bergerak.
Seperti ular raksasa yang hidup.
Salah satu akar langsung melesat ke arah Rendy.
Brak!
Rendy terlempar beberapa meter.
Tigor berteriak.
"Rendy!"
Namun sebelum akar berikutnya menyerang, cahaya putih tiba-tiba muncul dari dalam batu hitam di bawah pohon.
Makhluk bertengkorak itu langsung mundur.
Seolah ketakutan.
Untuk pertama kalinya.
Rendy menyadari sesuatu.
Batu itu bukan hanya sumber kutukan.
Tetapi juga segel yang menahan kekuatan tertentu.
---
Sementara itu, Putra Boneng mulai mengalami mimpi buruk yang semakin mengerikan.
Dalam tidurnya, ia melihat dirinya berdiri di tengah lautan darah.
Di depannya berdiri sosok Marajo Hitam.
Pencipta Gasiang Tangkurak.
Wajah dukun itu penuh luka.
Matanya hitam pekat.
«"Kau telah meneruskan warisanku."»
Putra menggeleng.
"Aku tidak mau."
Marajo tertawa.
«"Kau sudah memilih."»
«"Dan kini tidak ada jalan kembali."»
Tiba-tiba di belakang Marajo muncul puluhan sosok tanpa kepala.
Mereka berjalan perlahan menuju Putra.
Sambil membawa gasing-gasing dari tengkorak manusia.
Putra menjerit.
Dan terbangun.
Namun saat membuka mata, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Di lantai kamarnya terdapat jejak kaki berlumpur.
Padahal semua pintu terkunci.
Jejak itu mengarah ke peti hitam.
Dan di atas peti terdapat tulisan baru yang dibuat dari darah.
TUMBAL KEDUA TELAH DIAMBIL.
---
Menjelang subuh, warga kampung mulai mencari Rosa.
Mereka menyusuri jalan-jalan kecil.
Sawah.
Tepi sungai.
Hingga jalur menuju hutan.
Namun Rosa tidak ditemukan.
Yang ditemukan hanya satu benda.
Sebuah gelang milik Rosa.
Tergeletak di tengah jalan.
Tepat di lokasi tempat terakhir kali terdengar jeritannya.
Melisa yang melihat gelang itu langsung menangis.
Karena ia tahu sahabatnya tidak mungkin melepaskan gelang tersebut.
Gelang itu adalah hadiah ulang tahun dari almarhum ayahnya.
---
Pagi harinya, Datuk Sinaro datang menemui Melisa.
Wajah lelaki tua itu terlihat sangat serius.
"Ada sesuatu yang harus kau ketahui."
Melisa mengangguk.
Datuk lalu menunjukkan tanda tua yang tergambar di sebuah lembaran kulit.
Simbol itu sama persis dengan tanda yang ada di tangan Melisa.
Wajah Melisa langsung pucat.
"Apa artinya?"
Datuk menarik napas panjang.
"Itu tanda calon tumbal utama."
Tubuh Melisa seketika lemas.
"Tumbal?"
Datuk mengangguk pelan.
"Dalam legenda Gasiang Tangkurak, selalu ada satu korban utama."
"Korban yang akan digunakan untuk membangkitkan kekuatan penuh roh penjaga."
Melisa mulai menangis.
Ia merasa semua mimpi buruknya kini menjadi kenyataan.
---
Sore harinya, Rendy dan Tigor akhirnya kembali dari hutan.
Mereka langsung menemui Melisa.
Di sana, untuk pertama kalinya, mereka menceritakan semua yang mereka ketahui.
Tentang Pohon Kematian.
Tentang Batu Kutukan.
Tentang Marajo Hitam.
Dan tentang Gasiang Tangkurak.
Namun ada satu hal yang membuat Melisa terdiam.
Rendy mengatakan bahwa seseorang dari kampung kemungkinan besar telah memutar Gasiang Tangkurak.
Karena benda itu tidak mungkin aktif sendiri.
Saat itulah wajah Putra Boneng muncul dalam ingatan Melisa.
Sosok yang terus muncul dalam mimpinya.
Sosok yang selalu berada di dekat setiap kejadian aneh.
Dan tiba-tiba Melisa teringat sesuatu.
Malam sebelum semua teror dimulai.
Ia pernah melihat Putra memungut sapu tangannya yang jatuh di pasar.
Namun sapu tangan itu tidak pernah kembali.
Jantung Melisa berdegup kencang.
Untuk pertama kalinya.
Ia mulai mencurigai Putra Boneng.
Sementara jauh di dalam hutan, di bawah Pohon Kematian...
sepasang mata perlahan terbuka dari balik akar-akar tua.
Mata seorang gadis.
Gadis yang selama ini dianggap hilang.
Rosa.
Namun tatapannya kini kosong.
Kulitnya pucat.
Dan di telapak tangannya telah muncul tanda lingkaran hitam yang sama seperti milik Melisa.
Bersambung ke Part 7: Rosa yang Kembali dari Hutan
