Saturday, June 6, 2026

GASIANG TANGKURAK part V









Part 5: Pohon Kematian dan Tumbal Kedua

Suara gasing itu masih terdengar di telinga Melisa.

Wuuung...

Wuuung...

Wuuung...

Meski sosok bertengkorak yang berdiri di luar jendelanya telah menghilang, rasa takut belum juga pergi.

Tubuh Melisa gemetar.

Ia memejamkan mata sambil membaca doa yang diingatnya sejak kecil.

Namun tanda hitam yang menjalar dari telapak tangannya semakin terasa panas.

Seolah ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya.

Saat ibunya masuk ke kamar, Melisa buru-buru menutupi tangannya dengan selimut.

Ia belum siap menceritakan semua yang terjadi.

Karena ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang menimpanya.

---

Di rumah Datuk Sinaro, Rendy dan Tigor masih memandangi peta tua yang mereka temukan.

Peta itu menunjukkan lokasi jauh di dalam hutan.

Tepat di wilayah yang selama ini dikenal warga sebagai tempat terlarang.

Kuburan Tuo.

"Besok pagi kita ke sana," kata Rendy.

Tigor terlihat ragu.

"Kau yakin?"

"Kita tidak punya pilihan."

Datuk Sinaro yang duduk di dekat mereka mengangguk pelan.

"Kalau kalian pergi ke sana, jangan datang saat malam."

"Kenapa?"

Wajah Datuk mendadak serius.

"Karena saat bulan purnama, Pohon Kematian akan bangun."

Rendy dan Tigor saling berpandangan.

Meski terdengar mustahil, setelah semua yang mereka alami, mereka tidak lagi berani menganggapnya sekadar cerita.

---

Di tempat lain, Putra Boneng kembali didatangi makhluk dari dalam Gasiang Tangkurak.

Malam itu listrik di rumahnya mati mendadak.

Ruangan menjadi gelap gulita.

Lalu suara itu muncul.

Suara yang kini semakin jelas.

«"Putra..."»

Putra langsung membeku.

"Asal kau tahu, aku tidak ingin ada yang mati," katanya dengan suara gemetar.

Terdengar tawa panjang.

Tawa yang membuat seluruh ruangan terasa dingin.

«"Sudah terlambat."»

«"Perjanjian telah dimulai."»

"Aku hanya ingin Melisa mencintaiku!"

«"Dan kau akan mendapatkannya."»

«"Tetapi setiap cinta membutuhkan pengorbanan."»

Tiba-tiba asap hitam keluar dari peti.

Membentuk sosok bertengkorak yang kini jauh lebih besar.

Retakan pada kepalanya semakin banyak.

Dari dalam retakan itu keluar cahaya merah menyala.

«"Tumbal kedua telah dipilih."»

Putra memberanikan diri bertanya.

"Siapa?"

Makhluk itu tersenyum.

Namun sebelum menjawab, tubuhnya perlahan menghilang.

Meninggalkan satu kalimat yang membuat Putra ketakutan.

«"Seseorang yang dekat dengan Melisa."»

---

Keesokan paginya, Melisa bertemu Rosa.

Sahabatnya itu langsung menyadari ada yang tidak beres.

"Kau sakit?"

Melisa akhirnya menunjukkan tanda hitam di tangannya.

Rosa langsung terkejut.

"Itu apa?"

"Aku tidak tahu."

Melisa lalu menceritakan seluruh kejadian.

Tentang mimpi-mimpi mengerikan.

Tentang sosok bertengkorak.

Dan tentang suara gasing yang terus menghantuinya.

Wajah Rosa semakin pucat.

"Kita harus meminta bantuan seseorang."

Namun sebelum mereka sempat memikirkan solusi, seekor burung gagak hitam tiba-tiba hinggap di pagar rumah.

Burung itu menatap Melisa.

Lalu mengeluarkan suara keras.

Kraaak!

Kraaak!

Kraaak!

Setelah itu terbang menuju arah hutan.

Rosa merinding.

Entah kenapa ia merasa itu bukan kebetulan.

---

Sementara itu, Rendy dan Tigor mulai memasuki kawasan Kuburan Tuo.

Semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin menyeramkan.

Pohon-pohon besar menutupi cahaya matahari.

Udara terasa lembap dan dingin.

Tak lama kemudian mereka menemukan sesuatu.

Sebuah pohon raksasa yang sangat tua.

Batangnya berwarna hitam pekat.

Akar-akarnya menjulur seperti ular raksasa.

Dan yang paling mengerikan...

puluhan tengkorak manusia tergantung di cabang-cabangnya.

Tigor langsung mundur.

"Itu Pohon Kematian..."

Rendy menelan ludah.

Pemandangan itu jauh lebih menyeramkan daripada yang mereka bayangkan.

Saat mereka mendekat, tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil.

Mereka menoleh ke segala arah.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Tangisan itu justru terdengar berasal dari bawah tanah.

Rendy memberanikan diri menggali salah satu bagian akar pohon.

Beberapa menit kemudian, cangkulnya membentur sesuatu yang keras.

Klang!

Mereka membersihkan tanah di sekitarnya.

Dan menemukan sebuah batu hitam besar.

Persis seperti yang muncul dalam mimpi Melisa.

Pada permukaannya terdapat simbol berbentuk lingkaran berputar.

Simbol Gasiang Tangkurak.

---

Saat tangan Rendy menyentuh batu itu, sebuah penglihatan tiba-tiba muncul.

Ia melihat masa lalu.

Melihat seorang pria berjubah hitam berdiri di depan pohon tersebut.

Marajo Hitam.

Dukun yang menciptakan Gasiang Tangkurak.

Di sekelilingnya terbaring banyak mayat.

Sementara di tangannya terdapat sebuah tengkorak manusia yang sedang dipahat menjadi gasing.

Marajo Hitam tertawa.

Lalu berkata:

«"Selama batu ini tetap utuh, roh penjaga akan terus hidup."»

Penglihatan itu menghilang.

Rendy jatuh terduduk.

Tubuhnya dipenuhi keringat dingin.

"Kita harus menghancurkan batu ini," katanya.

Namun saat itu juga tanah di sekitar pohon mulai bergetar.

Duk...

Duk...

Duk...

Duk...

Akar-akar pohon bergerak sendiri.

Seolah hidup.

Dan dari balik batang pohon muncul sosok yang membuat mereka membeku.

Makhluk bertengkorak dari Gasiang Tangkurak.

Matanya menyala merah.

Jauh lebih besar daripada yang pernah terlihat sebelumnya.

Makhluk itu menatap mereka.

Lalu berkata dengan suara berat:

«"Kalian terlambat."»

Pada saat yang sama, jauh di kampung, Rosa sedang berjalan pulang seorang diri.

Langit mulai gelap.

Jalanan sepi.

Tiba-tiba ia mendengar suara sesuatu berputar di belakangnya.

Wuuung...

Wuuung...

Wuuung...

Rosa menoleh.

Tak ada siapa-siapa.

Namun bayangan hitam terlihat mengikuti dari kejauhan.

Langkah Rosa semakin cepat.

Begitu pula suara itu.

Wuuung...

Wuuung...

Wuuung...

Hingga akhirnya sebuah suara berbisik tepat di telinganya.

«"Tumbal kedua..."»

Rosa menjerit.

Dan di saat yang sama seluruh lampu kampung padam secara bersamaan.

Kegelapan menyelimuti Nagari Sungai Patah.

Sementara dari arah hutan terdengar suara tawa mengerikan yang menggema hingga ke seluruh penjuru kampung.

Bersambung ke Part 6: Malam Hilangnya RosaPada Part 6 nanti, Rosa menghilang secara misterius, Melisa mulai mengetahui keterlibatan Putra Boneng, dan Rendy serta Tigor berusaha menghancurkan Batu Kutukan di bawah Pohon Kematian.