Part 4: Rahasia Kuburan Tuo dan Tanda Kutukan
Pagi itu, Melisa terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih lemah dibanding hari-hari sebelumnya.
Tanda merah berbentuk lingkaran di telapak tangannya masih ada.
Bahkan kini warnanya semakin gelap.
Seperti bekas luka bakar.
Melisa mencoba mencucinya berkali-kali.
Namun tanda itu tidak hilang.
Justru saat ia menyentuhnya, rasa nyeri menusuk hingga ke lengan.
"Aduh!"
Ibunya segera menghampiri.
"Ada apa?"
Melisa buru-buru menyembunyikan tangannya.
"Tak apa-apa, Bu."
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Namun jauh di dalam hati, Melisa tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi.
---
Di sisi lain kampung, kematian Wak Jaman masih menjadi pembicaraan utama.
Rendy dan Tigor tidak bisa melupakan jejak lingkaran aneh yang mereka lihat di dekat jasad pria tua itu.
"Menurutku ini bukan kematian biasa," kata Tigor.
Rendy mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia mulai percaya pada cerita-cerita mistis yang selama ini dianggapnya dongeng.
"Kita harus mencari tahu."
"Mencari tahu apa?"
"Asal-usul Gasiang Tangkurak."
Tigor langsung terdiam.
Nama itu jarang disebut orang kampung.
Bahkan para tetua lebih memilih menghindarinya.
Namun rasa penasaran mereka kini lebih besar daripada rasa takut.
---
Sore harinya, mereka mendatangi rumah seorang tetua kampung bernama Pak Datuk Sinaro.
Usianya hampir delapan puluh tahun.
Rambutnya putih seluruhnya.
Konon, ia adalah orang terakhir yang mengetahui sejarah asli Kuburan Tuo.
Saat mendengar tujuan kedatangan mereka, wajah Datuk langsung berubah.
"Siapa yang menyuruh kalian mencari tahu tentang itu?"
"Tidak ada," jawab Rendy.
"Kami hanya ingin mengetahui kebenarannya."
Datuk menghela napas panjang.
Lalu mempersilakan mereka masuk.
Beberapa saat kemudian, pria tua itu mulai bercerita.
"Lebih dari lima puluh tahun lalu, ada seorang dukun hitam bernama Marajo Hitam."
Rendy dan Tigor saling berpandangan.
"Dia sangat sakti," lanjut Datuk.
"Tetapi ilmunya berasal dari jalan yang sesat."
Marajo Hitam memiliki seorang putri yang sangat dicintainya.
Suatu hari putrinya meninggal karena penyakit misterius.
Karena tidak bisa menerima kenyataan itu, Marajo Hitam mencoba membangkitkan anaknya menggunakan ilmu terlarang.
Ia menggali kuburan manusia yang meninggal tragis.
Mengambil tengkoraknya.
Lalu membuat sebuah gasing.
Gasing itulah yang kemudian dikenal sebagai Gasiang Tangkurak.
Tigor merinding.
"Lalu apa yang terjadi?"
Datuk menatap mereka dengan wajah serius.
"Setelah ritual itu selesai, puluhan orang mati secara misterius."
"Dan putrinya?"
"Tidak pernah hidup kembali."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Datuk lalu menambahkan sesuatu yang membuat mereka semakin takut.
"Namun roh jahat yang dipanggil Marajo Hitam tidak pernah benar-benar pergi."
---
Sementara itu, Putra Boneng mulai kehilangan ketenangan.
Sejak kematian Wak Jaman, dirinya tidak bisa tidur.
Setiap malam ia selalu mendengar suara ketukan dari dalam peti hitam.
Tok...
Tok...
Tok...
Seolah ada seseorang terjebak di dalamnya.
Malam itu suara tersebut terdengar lebih keras.
Tok!
Tok!
Tok!
Putra akhirnya memberanikan diri membuka peti.
Saat tutup peti terangkat, napasnya langsung tercekat.
Gasiang Tangkurak telah berubah.
Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan tengkorak.
Dari celah retakan itu keluar asap hitam pekat.
Dan yang paling mengerikan...
sepasang mata merah kini terlihat di dalam rongga tengkoraknya.
Putra langsung menutup peti.
Tubuhnya gemetar hebat.
Ia mulai sadar bahwa makhluk itu semakin kuat.
---
Malam menjelang.
Bulan purnama akhirnya muncul sempurna di langit.
Cahayanya menyinari seluruh Nagari Sungai Patah.
Namun tidak ada yang mengetahui bahwa malam itu akan menjadi awal petaka baru.
Melisa kembali bermimpi.
Kali ini ia melihat Kuburan Tuo.
Kabut putih menyelimuti seluruh area.
Di tengah kuburan berdiri sebuah pohon besar yang sudah mati.
Dari batang pohon itu tergantung puluhan tengkorak manusia.
Masing-masing berputar seperti gasing.
Wuuung...
Wuuung...
Wuuung...
Suara putaran mereka memenuhi udara.
Tiba-tiba sebuah suara perempuan terdengar.
"Carilah akar pohon itu..."
Melisa menoleh.
Di hadapannya berdiri seorang gadis kecil berpakaian putih.
Wajahnya pucat.
Matanya kosong.
"Siapa kamu?" tanya Melisa.
Gadis itu tersenyum sedih.
"Aku korban pertama."
Belum sempat Melisa bertanya lagi, gadis itu menunjuk ke bawah pohon.
Di sana terdapat sebuah batu hitam besar.
Pada permukaannya terukir simbol yang sama dengan tanda merah di tangan Melisa.
Lalu gadis itu berkata:
«"Jika batu itu hancur, kutukan akan melemah."»
«"Tetapi jika terlambat..."»
Tiba-tiba kepalanya terputus sendiri.
Darah menyembur ke segala arah.
Melisa menjerit.
Dan terbangun dari tidurnya.
---
Saat terbangun, sesuatu yang lebih mengerikan telah menunggunya.
Tanda merah di telapak tangannya kini telah menjalar ke pergelangan.
Membentuk garis-garis hitam seperti akar pohon.
Melisa mulai panik.
Namun sebelum sempat memanggil ibunya, terdengar suara ketukan dari jendela.
Tok...
Tok...
Tok...
Melisa menoleh perlahan.
Jantungnya hampir berhenti.
Di luar jendela berdiri sosok tinggi kurus dengan kepala tengkorak retak.
Makhluk yang sama dari mimpinya.
Matanya merah menyala.
Dan di tangannya berputar sebuah gasing dari tengkorak manusia.
Makhluk itu tersenyum.
Lalu mengangkat satu jari.
Menunjuk langsung ke arah Melisa.
Kemudian berbisik.
«"Tumbal kedua telah dipilih."»
Sesaat kemudian sosok itu menghilang.
Namun suara gasing masih terdengar dari luar rumah.
Wuuung...
Wuuung...
Wuuung...
Sementara di tempat lain, Rendy dan Tigor baru saja menemukan sebuah peta tua peninggalan Datuk Sinaro.
Di pojok peta itu terdapat tulisan yang hampir pudar:
"Di bawah Pohon Kematian tersimpan rahasia yang dapat menghancurkan Gasiang Tangkurak."
Mereka belum menyadari bahwa waktu mereka semakin sedikit.
Karena tumbal kedua sudah ditentukan.
Dan makhluk di dalam Gasiang Tangkurak mulai bangkit sepenuhnya.
Bersambung ke Part 5: Pohon Kematian dan Tumbal Kedua
