Part 3: Tumbal Pertama Saat Bulan Purnama
Angin malam berembus dingin di Nagari Sungai Patah.
Putra Boneng masih berdiri membeku di depan tulisan darah yang muncul di lantai rumahnya.
TUMBAL PERTAMA.
Tulisan itu perlahan menetes seperti darah segar yang baru saja keluar dari tubuh manusia.
Putra mundur beberapa langkah.
"Apa maksudnya?"
Tak ada jawaban.
Namun di sudut ruangan, Gasiang Tangkurak masih berputar perlahan meski tak ada seorang pun yang menyentuhnya.
Wuuung...
Wuuung...
Wuuung...
Suara itu membuat bulu kuduk Putra berdiri.
Dengan cepat ia mengambil kain hitam lalu menutupi gasing tersebut.
Anehnya, suara itu langsung berhenti.
Tetapi rasa takut di dalam dadanya justru semakin besar.
Karena kini ia sadar.
Ia telah membuat kesalahan yang mungkin tidak bisa diperbaiki.
---
Pagi harinya, Melisa bangun dengan tubuh lemas.
Ibunya yang sedang memasak langsung menyadari perubahan itu.
"Kau sakit?"
Melisa menggeleng.
"Tidak, Bu."
Namun sebenarnya ia berbohong.
Sejak dua malam terakhir, dirinya hampir tidak bisa tidur.
Setiap kali memejamkan mata, ia selalu mendengar suara benda berputar.
Dan setiap kali suara itu muncul, wajah Putra Boneng selalu terlihat dalam mimpinya.
Padahal mereka hampir tidak pernah berbicara.
Hal itu membuat Melisa semakin bingung.
Saat bercermin, ia bahkan terkejut melihat bayangan hitam sesaat muncul di belakangnya.
Melisa langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun saat kembali melihat cermin...
bayangan itu telah menghilang.
---
Di warung kopi kampung, Rendy dan Tigor sedang berbincang.
"Kau dengar kabar semalam?" tanya seorang warga.
"Kabar apa?" jawab Rendy.
"Wak Jaman hilang."
Rendy mengernyit.
Wak Jaman adalah petani tua yang tinggal sendirian di dekat hutan.
Orang itu dikenal sehat dan jarang bepergian.
"Hilang ke mana?"
"Tidak ada yang tahu."
Tigor yang sejak tadi diam mendadak terlihat gelisah.
"Wak Jaman tinggal dekat Bukit Kuburan Tuo."
Rendy memandang sahabatnya.
"Memangnya kenapa?"
Tigor menelan ludah.
"Itu tempat yang sering disebut dalam cerita Gasiang Tangkurak."
Suasana langsung terasa tidak nyaman.
---
Menjelang sore, warga kampung mulai melakukan pencarian.
Rendy dan Tigor ikut membantu.
Mereka menyusuri jalan setapak menuju Bukit Kuburan Tuo.
Tempat itu jarang didatangi orang.
Pohon-pohon besar tumbuh rapat.
Udara terasa jauh lebih dingin dibanding daerah lain.
Saat pencarian berlangsung, seekor gagak hitam tiba-tiba terbang rendah di atas kepala mereka.
Kraaak!
Kraaak!
Suaranya terdengar menyeramkan.
Beberapa warga mulai membaca doa.
Kemudian salah seorang pemuda berteriak.
"Di sini!"
Semua orang berlari mendekat.
Dan apa yang mereka lihat membuat tubuh mereka membeku.
Wak Jaman ditemukan.
Namun pria tua itu sudah meninggal.
Tubuhnya terbaring di dekat sebuah batu besar.
Matanya terbuka lebar.
Wajahnya dipenuhi ketakutan.
Seolah ia meninggal setelah melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Yang paling aneh...
di tanah dekat jasadnya terdapat bekas lingkaran seperti jejak gasing raksasa.
Tigor langsung pucat.
Rendy pun mulai kehilangan keberaniannya.
Karena jejak itu terlihat masih baru.
---
Malam harinya, berita kematian Wak Jaman menyebar ke seluruh kampung.
Orang-orang mulai berbisik.
Mereka teringat kembali legenda lama yang hampir terlupakan.
Legenda tentang tumbal pertama Gasiang Tangkurak.
Sementara itu, di rumahnya, Putra Boneng mendengar kabar tersebut dari seorang tetangga.
Jantungnya langsung berdegup keras.
Karena ia teringat tulisan darah yang muncul semalam.
TUMBAL PERTAMA.
"Jangan-jangan..."
Putra tidak sanggup melanjutkan pikirannya.
Ia mulai merasa bersalah.
Namun semuanya sudah terlambat.
---
Pada malam yang sama, Dina membuka kantong tanah hitam yang diberikan perempuan misterius beberapa hari lalu.
Ia masih menyimpannya diam-diam.
Rasa benci kepada Melisa membuatnya kehilangan akal sehat.
Perlahan ia berjalan menuju rumah Melisa.
Langit malam terlihat suram.
Bulan hampir sempurna.
Saat tiba di depan rumah Melisa, Dina menaburkan tanah hitam itu.
Angin tiba-tiba bertiup kencang.
Daun-daun berputar di sekelilingnya.
Dan dari dalam tanah terdengar suara lirih.
Seperti seseorang sedang tertawa.
Dina langsung ketakutan.
Namun sebelum sempat lari, ia melihat sosok perempuan tua yang dulu memberinya kantong itu.
Perempuan itu berdiri di bawah pohon mangga.
Tersenyum.
Senyuman yang sangat mengerikan.
"Permainan baru saja dimulai," katanya.
Lalu menghilang begitu saja.
Dina berlari pulang sambil menangis.
---
Tengah malam.
Melisa kembali bermimpi.
Kali ini mimpi itu lebih buruk.
Ia melihat dirinya berdiri di tengah kuburan tua.
Kabut tebal menyelimuti seluruh area.
Di kejauhan terdengar suara gasing berputar.
Semakin lama semakin keras.
Wuuung...
Wuuung...
Wuuung...
Lalu tanah di bawah kakinya mulai bergerak.
Satu per satu tangan manusia keluar dari dalam kubur.
Tangan-tangan pucat yang membusuk.
Mereka mencoba meraih kaki Melisa.
Melisa menjerit dan berusaha lari.
Namun tiba-tiba sosok tinggi bertengkorak muncul di hadapannya.
Makhluk yang sama seperti yang dilihat Putra.
Matanya berupa rongga hitam yang mengeluarkan asap.
Makhluk itu membawa sebuah gasing besar dari tengkorak manusia.
Kemudian berkata:
«"Tumbal pertama telah diterima."»
«"Kini saatnya memilih tumbal berikutnya."»
Melisa ketakutan.
"Siapa kau?"
Makhluk itu tertawa.
Lalu menunjuk ke arah belakang Melisa.
Saat Melisa menoleh...
ia melihat seseorang berdiri di antara kabut.
Seseorang yang sangat dikenalnya.
Putra Boneng.
Namun wajah Putra dipenuhi darah.
Dan di tangannya terdapat Gasiang Tangkurak yang terus berputar.
Melisa menjerit sekuat tenaga.
Lalu terbangun.
Napasnya memburu.
Tubuhnya gemetar.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di telapak tangannya muncul sebuah tanda merah berbentuk lingkaran.
Persis seperti bekas putaran gasing.
Tanda itu tidak ada sebelum ia tidur.
Dan pada saat yang sama...
di dalam peti hitam milik Putra Boneng, Gasiang Tangkurak mulai berputar sendiri.
Lebih cepat.
Lebih cepat.
Lebih cepat.
Sampai akhirnya terdengar suara retakan dari dalam tengkorak itu.
Krek...
Krek...
Krek...
Seolah sesuatu sedang berusaha keluar dari dalamnya.
Bersambung ke Part 4: Rahasia Kuburan Tuo dan Tanda KutukanPada Part 4 nanti, Rendy dan Tigor menemukan rahasia mengerikan tentang asal-usul Gasiang Tangkurak di Kuburan Tuo, sementara tanda kutukan di tangan Melisa mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
