Saturday, June 6, 2026

GASIANG TANGKURAK part ll









Part 2: Harga Sebuah Cinta Terlarang

Malam itu hujan turun perlahan di Nagari Sungai Patah.

Putra Boneng masih berdiri gemetar di dalam rumah kayunya. Gasiang Tangkurak yang tadi berputar kini telah berhenti. Namun suara makhluk yang muncul dari dalamnya masih terngiang jelas di telinganya.

«"Aku bisa membuat Melisa mencintaimu..."»

Tetapi ada satu kalimat yang membuat darahnya membeku.

«"Setiap permintaan memiliki harga."»

Putra menatap gasing itu.

Permukaannya yang menyerupai tengkorak manusia terlihat semakin mengerikan. Rajah-rajah merah yang sebelumnya menyala kini perlahan menghilang.

"Apa harga yang harus kubayar?" bisiknya.

Tak ada jawaban.

Hanya suara hujan yang semakin deras.

Namun saat ia hendak menutup peti hitam, tiba-tiba sebuah benda jatuh dari dalamnya.

Sebuah gulungan kain tua.

Dengan tangan gemetar, Putra membukanya.

Di dalam kain terdapat tulisan kuno beraksara Arab-Melayu yang sudah memudar.

Ia berusaha membacanya.

Semakin dibaca, wajahnya semakin pucat.

Karena tulisan itu berisi petunjuk penggunaan Gasiang Tangkurak.

Dan syarat pertama yang tertulis sangat mengerikan.

"Untuk mengikat hati seseorang, ambillah benda yang paling sering disentuhnya."

Putra langsung teringat Melisa.

---

Di rumahnya, Melisa belum bisa tidur.

Sejak bertemu Nenek Suraya kemarin, pikirannya terus merasa tidak tenang.

Entah mengapa malam itu ia merasa seperti sedang diperhatikan.

Padahal semua jendela telah tertutup rapat.

Ia mencoba memejamkan mata.

Namun tidak lama kemudian, dirinya tertidur.

Dan mimpi buruk itu pun datang.

Dalam mimpinya, Melisa berada di tengah sawah yang diselimuti kabut tebal.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya suara sesuatu yang berputar.

Wuuung...

Wuuung...

Wuuung...

Suara itu semakin dekat.

Melisa menoleh ke belakang.

Dan jantungnya hampir berhenti.

Sebuah gasing besar terbuat dari tengkorak manusia sedang berputar sendiri di atas tanah.

Di baliknya berdiri sosok hitam tanpa wajah.

Makhluk itu menunjuk ke arah Melisa.

Lalu berkata dengan suara yang membuat seluruh tubuhnya membeku.

«"Kau akan menjadi milikku..."»

Melisa menjerit.

Dan terbangun dengan napas memburu.

Tubuhnya dipenuhi keringat dingin.

Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari.

Waktu yang oleh orang-orang tua disebut sebagai jam paling sunyi.

Dan paling dekat dengan dunia lain.

---

Keesokan paginya, Rosa datang ke rumah Melisa.

"Kau kenapa? Wajahmu pucat sekali."

Melisa menceritakan mimpinya.

Namun Rosa mencoba menenangkan.

"Mungkin kau cuma kecapekan."

Melisa mengangguk.

Meski dalam hatinya ia merasa mimpi itu terasa terlalu nyata.

Sangat nyata.

---

Sementara itu Dina sedang duduk sendirian di belakang sekolah lama yang sudah lama tidak digunakan.

Tatapannya kosong.

Pikirannya dipenuhi rasa iri kepada Melisa.

Apalagi setelah mengetahui Melisa menjadi kandidat utama untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten.

Semua orang kembali memuji Melisa.

Semua orang kembali membicarakan Melisa.

Dan itu membuat Dina semakin membencinya.

Saat sedang melamun, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.

Seorang perempuan tua berpakaian hitam.

Wajahnya tertutup kerudung kusam.

"Kau membenci seseorang?" tanya perempuan itu.

Dina terkejut.

"Apa urusanmu?"

Perempuan tua itu tersenyum.

"Aku hanya melihat api kemarahan di matamu."

Dina terdiam.

Entah mengapa perempuan itu seolah mengetahui isi hatinya.

"Seseorang bernama Melisa, bukan?"

Mata Dina membelalak.

"Bagaimana kau tahu?"

Perempuan itu tertawa pelan.

Lalu menyerahkan sebuah kantong kecil berisi tanah hitam.

"Jika kau ingin seseorang menderita, taburkan ini di depan rumahnya."

Dina memandang benda itu.

Perasaannya campur aduk.

Antara takut dan penasaran.

Saat ia kembali mengangkat kepala...

perempuan tua itu sudah menghilang.

Seolah tidak pernah ada.

---

Menjelang sore, Putra akhirnya memberanikan diri pergi ke pasar tempat Melisa membantu ibunya berjualan.

Ia berdiri dari kejauhan.

Memperhatikan gadis itu.

Melisa terlihat sedang menyusun barang dagangan.

Saat itulah sebuah sapu tangan jatuh dari sakunya.

Melisa tidak menyadarinya.

Putra melihat kesempatan.

Dengan cepat ia mengambil sapu tangan tersebut.

Lalu menyembunyikannya.

Jantungnya berdebar keras.

Karena ia tahu benda itulah yang dibutuhkan oleh Gasiang Tangkurak.

---

Malam berikutnya.

Bulan mulai terlihat semakin bulat.

Pertanda malam purnama semakin dekat.

Putra kembali memasuki ruangan tempat peti hitam disimpan.

Ia membawa sapu tangan milik Melisa.

Tangannya gemetar.

Di dalam gulungan kain tua tertulis syarat kedua.

"Putarkan gasiang pada tengah malam sambil menyebut nama orang yang diinginkan tujuh kali."

Putra menatap jam.

Jarum menunjukkan pukul 23.59.

Satu menit lagi.

Satu menit yang akan mengubah segalanya.

Tak lama kemudian...

Ting...

Jam tua berbunyi.

Tengah malam.

Putra menarik napas panjang.

Lalu mulai memutar Gasiang Tangkurak.
Sambil membaca mantra
Sretttt...sretttt.
Gаѕіаng tangkurak baoklah раѕаn (bawalah рeѕаn)
Jіkоk nуо lаlоk tоlоng jаgоkаn
Jіkоk nуо tаgаk suruah bаjаlаn (suruh berjаlаn)
Di siko kіnі denai nantikan
Tоlоnglаh japuik jарuіk tаbаоk
Suruаh nуо ѕujuіk dі kаkі denai
Jіkоk tаk namuah tаnggаng matonyo
Tаnggаng salero bia nуо rasai
Dаtаng ѕіjundаі bіа nуо gіlо
Sіаng jо mаlаm nуо саri dеnаі

Gasing itu berputar.

Lebih cepat daripada sebelumnya.

Rajah merah kembali menyala.

Ruangan menjadi dingin.

Sangat dingin.

Putra menggenggam sapu tangan Melisa.

"Melisa..."

Sekali.

"Melisa..."

Dua kali.

Semakin lama suara bisikan memenuhi ruangan.

Seolah ada ratusan orang ikut mengucapkan nama itu.

"Melisa..."

Tiga kali.

Empat kali.

Lima kali.

Enam kali.

Saat penyebutan ketujuh...

gasing itu tiba-tiba melayang dari lantai.

Putra terjatuh ke belakang.

Matanya membelalak.

Karena di atas gasing muncul sosok yang lebih jelas dari sebelumnya.

Tubuhnya tinggi.

Kurus.

Kepalanya berupa tengkorak manusia yang retak.

Dari rongga matanya keluar asap hitam.

Makhluk itu tersenyum.

Lalu berkata:

«"Ikatan telah dimulai."»

Tiba-tiba dari dalam rongga tengkoraknya keluar sesuatu.

Seekor kelabang hitam.

Lalu dua.

Lalu puluhan.

Kelabang-kelabang itu merayap menuju sapu tangan Melisa.

Kemudian menghilang ke dalam kain tersebut.

Putra hampir muntah melihatnya.

"Apakah ini akan berhasil?" tanyanya.

Makhluk itu tertawa.

Suara tawanya menggema ke seluruh ruangan.

«"Dia akan mulai memikirkanmu."»

«"Dia akan mulai memimpikanmu."»

«"Dia akan mulai kehilangan dirinya."»

Putra menelan ludah.

Namun sebelum makhluk itu menghilang, ia kembali berbicara.

Kali ini dengan suara yang jauh lebih mengerikan.

«"Dan jangan lupa..."»

«"Harga itu akan segera datang."»

Lampu minyak meledak.

Brak!

Ruangan langsung gelap gulita.

Saat Putra menyalakan kembali lampunya beberapa menit kemudian...

makhluk itu sudah menghilang.

Namun ada sesuatu yang tertinggal di lantai.

Bercak darah segar.

Membentuk tulisan.

TUMBAL PERTAMA.

Putra mematung.

Karena ia tidak pernah membaca syarat tentang tumbal di dalam gulungan kain tua.

Lalu jika benar harus ada tumbal...

siapa yang akan menjadi korban pertama?

Bersambung ke Part 3: Tumbal Pertama Saat Bulan Purnama Pada Part 3 nanti, pengaruh Gasiang Tangkurak mulai menyerang Melisa secara nyata, sementara Rendy dan Tigor mulai menyelidiki rahasia gelap keluarga Putra Boneng.