Part 1: Tengkorak yang Berputar di Tengah Malam
Kabut tipis menyelimuti Nagari Sungai Patah, sebuah kampung tua di pedalaman Sumatera Barat. Di siang hari, kampung itu tampak damai dengan hamparan sawah hijau dan deretan rumah gadang yang berdiri kokoh. Namun saat malam tiba, suasananya berubah. Orang-orang memilih menutup pintu rapat-rapat sebelum azan Isya berkumandang.
Masyarakat setempat percaya ada satu benda terkutuk yang tidak boleh disebut sembarangan.
Namanya Gasiang Tangkurak.
Konon, gasing itu dibuat dari tengkorak manusia yang meninggal secara tragis. Tengkorak tersebut dikeringkan, diberi rajah hitam, lalu dibentuk menjadi gasing oleh seorang dukun ilmu hitam.
Bukan untuk permainan.
Melainkan untuk menyantet, mengirim penyakit, bahkan memaksa seseorang jatuh cinta.
Tak banyak yang percaya cerita itu lagi.
Termasuk seorang pemuda bernama Rendy.
"Ah, itu cuma cerita orang tua," katanya suatu sore kepada sahabatnya, Tigor, saat mereka duduk di warung kopi.
Tigor menggeleng.
"Jangan sembarangan ngomong. Kakekku pernah bilang ada orang meninggal gara-gara gasiang itu."
Rendy tertawa.
"Kalau memang ada, mana buktinya?"
Belum sempat Tigor menjawab, seseorang datang memasuki warung.
Dia adalah Putra Boneng.
Pria itu dikenal pendiam dan jarang bergaul. Wajahnya tampan, tetapi tatapannya selalu membuat orang merasa tidak nyaman.
Putra langsung duduk di sudut warung tanpa menyapa siapa pun.
Tigor berbisik.
"Itu Putra Boneng."
"Kenapa?" tanya Rendy.
"Kau tidak tahu?"
"Tidak."
"Keluarganya dulu terkenal punya ilmu hitam."
Rendy kembali tertawa.
Namun jauh di dalam dirinya, ia merasa ada sesuatu yang aneh dari Putra Boneng.
Tatapan pria itu seperti menyimpan rahasia besar.
---
Di sisi lain kampung, seorang gadis cantik bernama Melisa sedang berjalan pulang bersama sahabatnya, Rosa.
Mereka baru saja selesai mengikuti kegiatan di balai desa.
"Besok kau jadi ikut lomba?" tanya Rosa.
"Iya. Mudah-mudahan menang."
"Kau pasti menang."
Melisa tersenyum.
Ia memang dikenal sebagai gadis baik hati dan disukai banyak orang.
Namun tidak semua orang menyukainya.
Salah satunya adalah Dina.
Sejak kecil Dina selalu iri kepada Melisa.
Apa pun yang dilakukan Melisa selalu mendapat pujian.
Sedangkan dirinya sering diabaikan.
Rasa iri itu tumbuh menjadi kebencian.
Malam itu Dina berdiri di balik pohon mangga sambil memperhatikan Melisa dan Rosa berjalan pulang.
Tangannya mengepal.
"Suatu hari nanti semua orang akan berhenti memujimu," bisiknya.
---
Sementara itu, di rumah kayu tua yang berada di pinggir hutan, Putra Boneng duduk sendirian.
Lampu minyak menjadi satu-satunya penerangan.
Di depannya terdapat sebuah peti tua berwarna hitam.
Peti itu diwariskan oleh kakeknya.
Selama bertahun-tahun peti tersebut tidak pernah dibuka.
Namun malam itu berbeda.
Putra menarik napas panjang.
Perasaannya gelisah sejak melihat Melisa beberapa bulan terakhir.
Ia menyukai gadis itu.
Sangat menyukainya.
Tetapi Melisa tidak pernah memberikan perhatian khusus kepadanya.
Bahkan nyaris tidak mengenalnya.
Putra menatap peti hitam itu.
Lalu perlahan membuka tutupnya.
Krekk...
Suara kayu tua berderit memenuhi ruangan.
Di dalam peti terdapat kain hitam yang sudah lusuh.
Saat kain itu disingkap, tampak sebuah benda mengerikan.
Sebuah gasing berwarna putih kusam.
Permukaannya menyerupai tulang manusia.
Dipenuhi tulisan-tulisan aneh berwarna merah tua.
Putra menelan ludah.
Ia mengenali benda itu.
Karena kakeknya pernah menceritakan rahasianya.
"Itulah Gasiang Tangkurak."
Tangannya gemetar.
Namun rasa cintanya kepada Melisa lebih kuat daripada rasa takut.
"Aku hanya ingin dia mencintaiku."
Suara angin tiba-tiba bertiup dari luar.
Lampu minyak berkedip.
Dan sesaat kemudian...
Putra mendengar suara bisikan.
Lirih.
Sangat lirih.
Namun jelas.
"Putarkan aku..."
Putra langsung berdiri.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia melihat ke seluruh ruangan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya dirinya seorang.
"Siapa?"
Tak ada jawaban.
Namun suara itu kembali terdengar.
"Putarkan aku..."
Keringat dingin mulai mengalir di dahinya.
---
Keesokan harinya, kehidupan kampung berjalan seperti biasa.
Melisa membantu ibunya berjualan.
Rosa datang menemaninya.
Sedangkan Dina terus memperhatikan dari kejauhan.
Saat itulah seorang nenek tua mendekati Melisa.
Rambutnya putih seluruhnya.
Matanya terlihat keruh.
"Melisa..." panggil nenek itu.
"Iya, Nek?"
Nenek tersebut memegang tangan Melisa.
Wajahnya mendadak pucat.
"Jangan keluar rumah saat bulan purnama tiga malam lagi."
Melisa bingung.
"Kenapa?"
Nenek itu tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah hutan.
Lalu pergi begitu saja.
Rosa merinding.
"Nenek Suraya itu aneh."
Melisa mengangguk.
Namun entah mengapa kata-kata nenek itu terus terngiang dalam pikirannya.
---
Malam kedua.
Putra Boneng kembali membuka peti hitam.
Gasiang Tangkurak berada di hadapannya.
Bisikan itu muncul lagi.
Lebih jelas.
Lebih kuat.
"Putarkan aku..."
Kali ini Putra tidak menolak.
Ia mengambil gasing tersebut.
Lalu meletakkannya di lantai.
Tangannya gemetar saat memegang tali pemutar.
Dalam hati ia mengingat wajah Melisa.
Wajah gadis yang dicintainya.
Kemudian...
Srettt!
Tali ditarik.
Gasing itu berputar.
Semakin cepat.
Semakin cepat.
Hingga menghasilkan suara yang tidak wajar.
Bukan suara kayu.
Bukan suara logam.
Melainkan suara seperti ratusan orang sedang berbisik bersamaan.
Putra membelalak.
Rajah merah di permukaan gasing mulai menyala.
Ruangan berubah dingin.
Sangat dingin.
Lalu sesuatu muncul di atas gasing yang berputar.
Bayangan kepala manusia.
Tanpa mata.
Tanpa hidung.
Hanya rongga hitam yang menganga.
Makhluk itu menatap Putra.
Kemudian berkata dengan suara menyeramkan.
"Aku bisa membuat Melisa mencintaimu..."
Putra mundur ketakutan.
"Tapi..."
Bayangan itu tersenyum.
"...setiap permintaan memiliki harga."
Tiba-tiba seluruh lampu padam.
Dan dari luar rumah terdengar suara tawa panjang yang menggema dari arah hutan.
Hahahahahaha...
Putra berdiri terpaku.
Karena saat itu ia sadar.
Dirinya telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Sesuatu yang selama puluhan tahun tidur di dalam Gasiang Tangkurak.
Dan kini...
makhluk itu telah bebas.
Bersambung ke Part 2: Harga Sebuah Cinta TerlarangJika lanjut ke Part 2,Putra mulai menjalankan syarat makhluk Gasiang Tangkurak, sementara Melisa mulai mengalami mimpi-mimpi mengerikan dan Dina diam-diam memiliki rencana balas dendam yang lebih gelap.
