Thursday, June 4, 2026

Pesanan Terakhir





Malam itu hujan gerimis membasahi jalanan Kota Malang. Ardi, seorang pengemudi ojek online, baru saja menyelesaikan pesanan terakhirnya. Ia sebenarnya ingin pulang, tetapi karena target penghasilannya belum tercapai, ia memutuskan menunggu satu pesanan lagi.

Pukul 22.47 WIB, sebuah pesanan masuk. Lokasi penjemputannya berada di pinggir kota, sementara tujuan pengantarannya menuju kawasan Gunung Kawi.

Sesampainya di lokasi, Ardi menemukan sebuah rumah tua yang tampak terbengkalai. Seorang pria tua berpakaian hitam keluar membawa kotak kayu kecil yang dibungkus kain hitam.

"Antarkan sebelum tengah malam. Jangan dibuka," katanya singkat.

Saat menerima kotak itu, Ardi merasakan kehangatan aneh dari dalamnya. Namun ia memilih berangkat.

Semakin jauh dari kota, jalanan semakin gelap. Kabut turun menutupi jalan. Beberapa kali Ardi merasa melihat sosok berdiri di tepi jalan, tetapi selalu menghilang ketika diperhatikan.

Tiba-tiba sinyal GPS hilang. Tanpa sadar ia memasuki jalan sempit yang dikelilingi hutan.

Di tengah jalan, seorang wanita berambut panjang berdiri diam. Ardi mengerem.

"Bu! Minggir!"

Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya.

Ardi langsung membeku.

Wajah wanita itu hitam gosong seperti terbakar.

Dengan panik ia memutar gas dan melarikan diri.

Tak lama kemudian ia melewati sebuah gapura tua bertuliskan:

"KAWASAN LARANGAN"

Saat itulah terdengar suara dari dalam kotak.

Tok...

Tok...

Tok...

Seperti ada seseorang mengetuk dari dalam.

Karena penasaran, Ardi membuka sedikit tutup kotak tersebut.

Aroma melati langsung menyeruak keluar.

Lalu terdengar suara perempuan berbisik.

"Tolong... keluarkan aku..."

Ardi langsung menutupnya kembali dan melanjutkan perjalanan.

GPS tiba-tiba menyala lagi. Titik tujuan hanya beberapa ratus meter di depan.

Ia tiba di sebuah rumah joglo tua di tengah hutan. Beberapa orang berpakaian hitam sudah menunggu.

Ketika kotak diserahkan, terdengar jeritan perempuan yang sangat keras dari dalamnya.

Namun semua orang di sana hanya tersenyum.

Salah seorang dari mereka memberikan amplop tebal kepada Ardi.

"Terima kasih sudah membantu ritual malam ini."

Ardi segera pergi.

Sesampainya di rumah, ia membuka amplop itu.

Awalnya berisi tumpukan uang jutaan rupiah.

Namun beberapa detik kemudian seluruh uang tersebut berubah menjadi daun-daun kering.

Belum sempat berpikir, ponselnya berdering.

Nomor tak dikenal.

Saat diangkat, terdengar suara perempuan.

"Kenapa kamu tidak membuka kotaknya lebih lama?"

Ardi langsung memutus sambungan.

Keesokan harinya ia kembali ke rumah tempat mengambil pesanan.

Namun rumah itu sudah tidak ada.

Hanya tanah kosong yang dipenuhi ilalang.

Seorang warga mengatakan rumah tersebut telah terbakar puluhan tahun lalu. Seluruh penghuninya tewas dan konon terlibat pesugihan Gunung Kawi.

Sejak saat itu Ardi tidak pernah lagi menerima pesanan malam ke arah Gunung Kawi.

Namun hingga sekarang, setiap pukul 22.47 WIB, aplikasi di ponselnya masih menerima pesanan dari alamat yang sama.

Dan foto profil pemesannya selalu menampilkan seorang wanita berwajah hangus yang tersenyum ke arah kamera.

TAMAT.