Malam itu, Jakarta tahun 1998 terasa berbeda. Langit mendung menggantung seperti menyimpan rahasia besar. Jalan-jalan dipenuhi mahasiswa yang berteriak menuntut perubahan. Spanduk-spanduk terbentang di mana-mana.
Di tengah suasana yang penuh ketegangan itu, hiduplah seorang pria bernama Ujang. Ia bukan mahasiswa, bukan pula aktivis. Ujang hanyalah tukang fotokopi yang kiosnya berada dekat kampus.
Namun Ujang memiliki kebiasaan aneh.
Ia percaya bahwa setiap peristiwa besar dalam sejarah selalu didampingi oleh makhluk gaib.
"Kalau kerajaan runtuh ada penunggunya. Kalau gunung meletus ada penjaganya. Nah, kalau reformasi pasti ada malaikat mautnya!" katanya suatu hari.
Temannya, Jono, hanya tertawa.
"Jang, kebanyakan nonton film misteri kau."
Namun Ujang bersikeras.
Menurut cerita seorang kakek tua yang sering nongkrong di kiosnya, pada malam-malam menjelang perubahan besar, akan muncul sosok berjubah hitam yang berjalan di antara kerumunan manusia.
Sosok itu disebut "Malaikat Maut Reformasi."
Konon siapa pun yang melihat wajahnya akan mengetahui rahasia masa depan Indonesia.
Tentu saja cerita itu terdengar seperti dongeng.
Tapi justru karena itulah Ujang menjadi penasaran.
---
Suatu malam, setelah menutup kios, Ujang dan Jono nekat menyelidiki.
Mereka membawa senter, kamera jadul, dan bekal mi instan.
"Apa hubungan mi instan dengan penyelidikan?" tanya Jono.
"Kalau ketemu hantu kan lapar."
Jono menggeleng.
"Kau memang sulit dipahami."
Mereka berjalan menuju sebuah gedung tua yang kabarnya pernah menjadi tempat rapat rahasia para aktivis.
Gedung itu kosong dan sebagian temboknya dipenuhi coretan.
Saat memasuki ruangan utama, mereka menemukan sesuatu yang aneh.
Di atas meja tua terdapat sebuah buku besar berdebu.
Sampulnya bertuliskan:
"Catatan Malaikat Maut Reformasi."
Ujang langsung merinding.
Jono malah tertawa.
"Pasti buku catatan satpam."
Namun ketika dibuka, halaman pertama berisi tulisan tangan yang sudah pudar.
"Aku hadir setiap kali sebuah zaman berakhir dan zaman baru dimulai."
Mereka saling pandang.
Buluk kuduk mulai berdiri.
---
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara itu datang dari lorong gelap.
Ujang menyorotkan senter.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara langkah terus mendekat.
Tok...
Tok...
Tok...
Jono mulai panik.
"Jang, kalau ini hantu, aku lari duluan ya."
"Teman macam apa kau?"
"Teman yang masih ingin hidup."
Langkah kaki semakin dekat.
Lalu muncullah sosok berjubah hitam dari balik kegelapan.
Tinggi.
Kurus.
Wajahnya tidak terlihat.
Ujang hampir pingsan.
Jono langsung membaca semua doa yang ia ingat, termasuk doa makan.
Sosok itu berhenti tepat di depan mereka.
Kemudian mengangkat kepalanya perlahan.
"Siapa kalian?"
Ternyata sosok itu hanyalah penjaga gedung tua.
Ujang dan Jono terdiam.
Penjaga itu malah tertawa.
"Kalian mencari Malaikat Maut Reformasi ya?"
Mereka terkejut.
"Bagaimana Bapak tahu?"
Penjaga itu tersenyum misterius.
"Karena sudah puluhan tahun orang datang mencarinya."
---
Menurut penjaga tua itu, kisah Malaikat Maut Reformasi sebenarnya berawal dari peristiwa-peristiwa menjelang runtuhnya Orde Baru tahun 1998.
Saat itu banyak orang mengaku melihat sosok berjubah hitam muncul di lokasi berbeda.
Ada yang melihatnya di kampus.
Ada yang melihatnya di jalanan.
Bahkan ada yang melihatnya berdiri di atas gedung sambil memandangi kota.
Cerita itu menyebar cepat.
Semakin lama semakin menyeramkan.
Namun tidak ada bukti yang benar-benar jelas.
Hanya kesaksian dari mulut ke mulut.
"Jadi benar ada?" tanya Ujang.
Penjaga itu mengangkat bahu.
"Mungkin ada. Mungkin juga tidak."
---
Malam semakin larut.
Mereka memutuskan pulang.
Namun sebelum pergi, penjaga tua memberikan sebuah amplop cokelat.
"Ini peninggalan seseorang yang dulu pernah mencari sosok itu."
Di dalam amplop terdapat sebuah foto hitam putih.
Foto kerumunan mahasiswa.
Namun di belakang mereka tampak sosok berjubah hitam.
Samar.
Kabur.
Tetapi jelas ada.
Ujang langsung gemetar.
Jono ikut pucat.
"Jang... itu editan tahun 1998 sudah ada?"
"Belum."
Mereka saling pandang.
---
Rasa penasaran membuat mereka mencari tahu lebih jauh.
Berhari-hari mereka menelusuri arsip koran lama.
Mewawancarai saksi.
Mendatangi tempat-tempat bersejarah.
Semakin banyak mereka mencari, semakin sering nama Malaikat Maut Reformasi muncul.
Tetapi tidak satu pun cerita yang sama.
Ada yang menyebut sosok itu malaikat.
Ada yang menyebutnya arwah penjaga bangsa.
Ada pula yang mengatakan itu hanyalah seseorang yang selalu berada di tempat bersejarah.
---
Puncaknya terjadi ketika mereka bertemu seorang kakek mantan fotografer.
Kakek itu pernah meliput demonstrasi tahun 1998.
Ia menunjukkan puluhan foto lama.
Dan benar saja.
Dalam beberapa foto terdapat sosok berjubah hitam yang sama.
Selalu berada jauh di belakang.
Selalu menghadap ke arah kerumunan.
Dan anehnya...
Wajahnya tidak pernah terlihat.
Padahal posisi kameranya berbeda-beda.
Jono sampai berkeringat dingin.
"Ini mulai tidak lucu."
Ujang mengangguk.
Untuk pertama kalinya ia setuju.
---
Saat hendak pulang, sang fotografer berkata pelan.
"Sebenarnya aku pernah bertemu sosok itu."
Ujang dan Jono langsung mendekat.
"Lalu?"
Kakek itu tersenyum.
"Waktu aku dekati, ternyata dia penjual es teh."
Mereka hampir jatuh dari kursi.
"APA?!"
"Iya. Penjual es teh keliling."
"Lalu bagaimana dengan foto-foto itu?"
"Karena dia selalu lewat di lokasi yang sama."
Jono menepuk jidat.
Ujang memejamkan mata.
Misteri yang mereka kejar selama berminggu-minggu ternyata bisa jadi hanya penjual es teh.
---
Namun ketika mereka hendak meninggalkan rumah sang fotografer, sebuah foto terakhir jatuh dari tumpukan arsip.
Foto itu belum pernah mereka lihat.
Di sana tampak sang penjual es teh.
Tetapi tepat di belakangnya...
Berdiri sosok berjubah hitam yang sama.
Dan kali ini tidak membawa apa pun.
Bukan penjaga gedung.
Bukan mahasiswa.
Bukan penjual es.
Melainkan sosok asing yang menatap lurus ke kamera.
Saat mereka memperbesar gambar itu, tiba-tiba lampu rumah padam.
Gelap gulita.
Dari luar terdengar suara langkah kaki perlahan.
Tok...
Tok...
Tok...
Dan sebuah suara tua berbisik di antara hembusan angin malam.
"Setiap zaman memiliki akhirnya..."
Ujang dan Jono saling berpandang.
Lalu tanpa bicara apa pun...
Mereka berlari sekencang-kencangnya.
Karena menurut mereka, rahasia sejarah memang menarik.
Tapi kalau sudah mulai berjalan sendiri di malam hari...
Lebih baik pulang dan makan mi instan saja.
SELESAI