Malam itu hujan turun tanpa henti di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan pinus. Jalanan sepi, hanya suara angin yang berdesir di sela-sela pepohonan dan sesekali petir yang menyambar langit gelap.
Raka, seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan penelitian tentang cerita rakyat, memutuskan menginap di rumah tua peninggalan kakeknya yang sudah lama kosong. Rumah itu berada di ujung desa, jauh dari pemukiman warga.
Sejak pertama kali tiba, warga desa sudah memperingatkannya.
"Kalau malam tiba, jangan buka pintu untuk siapa pun," kata seorang lelaki tua dengan wajah serius.
Raka hanya tersenyum. Ia menganggap semua itu hanyalah mitos desa yang diwariskan turun-temurun.
Malam pertama berjalan biasa. Namun tepat pukul 12 malam, ia mendengar suara ketukan pelan dari pintu depan.
Tok... tok... tok...
Raka menghentikan pekerjaannya. Ia melihat jam dinding.
Tengah malam.
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Dengan rasa penasaran, ia mendekati pintu dan mengintip dari jendela kecil di sampingnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya halaman gelap yang diterangi cahaya bulan.
Saat ia kembali ke meja, suara ketukan itu muncul lagi, kali ini lebih keras.
BRAK! BRAK! BRAK!
Jantungnya berdegup kencang.
Namun ketika ia membuka pintu, tidak ada seorang pun di luar.
Hanya udara dingin yang tiba-tiba menyergap masuk.
---
Keesokan paginya, Raka menemukan sesuatu yang aneh.
Di depan pintu terdapat jejak kaki berlumpur.
Jejak itu hanya mengarah ke rumah.
Tidak ada jejak yang meninggalkan rumah.
Seolah seseorang datang... lalu menghilang.
Malam kedua menjadi lebih mengerikan.
Saat sedang membaca catatan lama milik kakeknya, ia menemukan sebuah halaman yang sudah menguning.
Di sana tertulis:
"Jangan pernah menjawab panggilan dari luar setelah tengah malam. Mereka datang mencari jiwa yang terguncang."
Raka merasa merinding.
Tiba-tiba lampu rumah padam.
Seluruh ruangan tenggelam dalam kegelapan.
Lalu terdengar suara seorang perempuan memanggil dari luar.
"Raka..."
Ia membeku.
Suara itu terdengar sangat familiar.
Itu suara ibunya.
Padahal ibunya berada ratusan kilometer dari desa tersebut.
"Raka... buka pintunya..."
Suara itu terdengar lirih dan sedih.
Instingnya mengatakan untuk tetap diam.
Namun rasa penasaran mulai menguasai pikirannya.
"Raka... Ibu kedinginan..."
Air mata hampir jatuh dari matanya.
Ia sangat merindukan ibunya.
Perlahan ia berjalan menuju pintu.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Tetapi tepat sebelum membukanya, ia teringat pesan dalam catatan kakeknya.
Dengan gemetar, ia mundur.
Suara di luar langsung berubah.
Dari suara lembut menjadi jeritan mengerikan.
"BUKA PINTUNYA!"
BRAK!
Pintu bergetar keras seolah ditabrak sesuatu dari luar.
Raka berlari ke kamar dan mengunci diri hingga pagi.
---
Hari berikutnya ia mendatangi rumah kepala desa.
Pria tua itu tampak pucat saat mendengar ceritanya.
"Kau sudah mendengar panggilan mereka."
"Siapa mereka?" tanya Raka.
Kepala desa menarik napas panjang.
"Dulu ada sebuah tragedi di hutan belakang desa. Puluhan orang hilang tanpa jejak setelah mengikuti suara keluarga mereka pada tengah malam."
"Maksud Bapak?"
"Makhluk itu bisa meniru suara orang yang paling kita sayangi."
Raka merasa tenggorokannya kering.
"Lalu apa yang mereka inginkan?"
"Jiwa."
---
Malam ketiga menjadi malam paling mengerikan.
Hujan turun lebih deras dari sebelumnya.
Raka memutuskan tetap bertahan di rumah sambil merekam apa pun yang terjadi.
Tepat pukul 12 malam, suara langkah kaki terdengar mengelilingi rumah.
Krek...
Krek...
Krek...
Seperti seseorang berjalan perlahan di beranda.
Kemudian terdengar suara lain.
Kali ini suara miliknya sendiri.
"Raka..."
Tubuhnya langsung membeku.
Suara itu identik dengan suaranya.
"Raka... aku di luar."
Napasnya menjadi tidak teratur.
"Kalau kau di dalam... lalu siapa aku?"
Suara itu tertawa pelan.
Lalu terdengar suara benturan keras di jendela.
BRAK!
Raka menoleh.
Di balik kaca, sesosok pria berdiri memandangnya.
Wajahnya...
Adalah wajahnya sendiri.
Makhluk itu tersenyum lebar hingga sudut bibirnya robek hampir menyentuh telinga.
"Biarkan aku masuk."
Raka berteriak ketakutan.
Ia menutup mata sejenak.
Namun ketika membukanya kembali, sosok itu sudah hilang.
---
Menjelang subuh, ia menemukan rekaman kamera yang dipasangnya.
Saat memutar video, darahnya terasa membeku.
Tidak ada siapa pun di luar rumah.
Tidak ada sosok yang menyerupainya.
Tetapi pada rekaman terlihat dirinya sendiri berdiri di depan pintu selama hampir satu jam.
Diam.
Menatap ke luar rumah.
Padahal ia merasa sepanjang waktu berada di dalam kamar.
Di akhir rekaman, dirinya yang berada di depan pintu perlahan menoleh ke kamera.
Lalu tersenyum.
Senyuman yang bukan miliknya.
Sejak malam itu, Raka meninggalkan desa dan tidak pernah kembali.
Namun hingga kini, setiap pukul 12 malam, ia masih sering terbangun karena mendengar suara ketukan dari pintu rumahnya.
Tok... tok... tok...
Dan suara itu selalu berbisik pelan:
"Aku masih di luar..."
"Atau mungkin... kau yang sebenarnya berada di luar."
End.