Di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, berdirilah sebuah rumah tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Rumah itu berada di ujung jalan kecil yang dikelilingi pepohonan besar. Cat dindingnya mulai mengelupas, beberapa jendela tampak kusam, dan bagian lotengnya selalu terlihat gelap meskipun siang hari.
Warga sekitar mengenal rumah itu sebagai rumah yang menyimpan banyak cerita aneh. Namun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang pernah terjadi di sana. Sebagian menganggapnya hanya cerita turun-temurun yang dibesar-besarkan.
Suatu hari, sebuah keluarga kecil memutuskan membeli rumah tersebut karena harganya jauh lebih murah dibandingkan rumah lain di daerah itu.
Keluarga itu terdiri dari seorang ayah bernama Arman, istrinya Rina, dan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun bernama Siska.
Mereka pindah dengan harapan bisa memulai kehidupan baru yang lebih tenang.
Hari-Hari Pertama
Selama beberapa minggu pertama, semuanya berjalan normal.
Arman sibuk bekerja, Rina mengurus rumah, sementara Siska mulai bersekolah di desa tersebut.
Meski beberapa tetangga sempat memberi peringatan tentang rumah itu, Arman tidak terlalu memikirkannya.
Baginya, cerita hantu hanyalah mitos yang sering digunakan untuk menakut-nakuti orang.
Namun suatu malam, sesuatu mulai terjadi.
Ketukan Pertama
Tepat pukul 03.00 dini hari, Arman terbangun karena mendengar suara aneh.
Tok... Tok... Tok...
Suara itu terdengar jelas dari atas plafon.
Arman membuka mata dan mencoba mendengarkan.
Beberapa detik kemudian suasana kembali sunyi.
Ia mengira suara tersebut berasal dari ranting pohon yang menyentuh atap rumah akibat angin malam.
Tanpa banyak berpikir, ia kembali tidur.
Namun malam berikutnya suara yang sama kembali terdengar.
Tok... Tok... Tok...
Kali ini lebih jelas.
Seolah seseorang sedang mengetuk lantai loteng menggunakan benda keras.
Siska Mulai Ketakutan
Beberapa hari kemudian, Siska mulai mengeluh.
Ia mengaku sering mendengar suara langkah kaki di atas kamarnya pada malam hari.
Awalnya Arman dan Rina menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Tetapi suatu pagi, Siska berkata sesuatu yang membuat mereka merinding.
"Ayah... semalam ada orang berdiri di tangga loteng."
Arman mencoba menenangkan putrinya.
Namun dari ekspresi wajah Siska, ia terlihat benar-benar ketakutan.
Loteng yang Selalu Terkunci
Rumah itu memiliki sebuah loteng tua yang berada di bagian tengah bangunan.
Akses menuju loteng menggunakan tangga kayu sempit.
Yang aneh, pintu loteng selalu terasa berat untuk dibuka.
Bahkan terkadang terdengar suara seperti benda bergeser dari dalam ketika pintunya disentuh.
Suatu siang, Arman memutuskan memeriksa loteng.
Dengan membawa senter, ia menaiki tangga perlahan.
Saat pintu terbuka, debu tebal langsung berterbangan.
Loteng itu dipenuhi barang-barang lama.
Ada kursi rusak, lemari tua, bingkai foto, dan berbagai benda yang tampaknya sudah puluhan tahun tidak digunakan.
Tidak ada tanda-tanda seseorang pernah masuk ke sana.
Namun saat hendak turun, Arman menemukan sesuatu.
Di sudut ruangan terdapat sebuah peti kayu tua.
Temuan yang Mengerikan
Peti itu terkunci menggunakan gembok berkarat.
Setelah berusaha membukanya, Arman akhirnya berhasil melihat isi di dalamnya.
Terdapat beberapa foto hitam putih dan sebuah buku harian tua.
Buku itu tampaknya milik penghuni rumah sebelumnya.
Di salah satu halaman tertulis:
"Ketukan itu selalu datang pukul 03.00."
Arman mulai penasaran.
Ia terus membaca.
"Jika mendengar tiga ketukan, jangan pernah membalasnya. Jangan pernah menjawab suara apa pun yang berasal dari loteng."
Jantung Arman berdegup lebih cepat.
Ia mencoba berpikir logis.
Mungkin penghuni sebelumnya hanya memiliki gangguan psikologis.
Namun entah mengapa, tulisan tersebut terasa sangat serius.
Teror Semakin Dekat
Malam itu keluarga Arman kembali mendengar ketukan.
Tok... Tok... Tok...
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Setelah ketukan berhenti, terdengar suara langkah kaki.
Duk...
Duk...
Duk...
Langkah itu bergerak perlahan dari arah loteng menuju bagian tengah rumah.
Rina yang terbangun langsung menggenggam tangan suaminya.
Suasana rumah terasa sangat dingin.
Mereka hanya bisa diam sambil mendengarkan.
Beberapa saat kemudian suara itu menghilang.
Bayangan di Lorong
Keesokan malam, kejadian yang lebih menyeramkan terjadi.
Saat hendak ke kamar mandi, Rina melihat sosok hitam berdiri di ujung lorong.
Tinggi dan kurus.
Wajahnya tidak terlihat jelas karena gelap.
Saat lampu dinyalakan, sosok itu langsung menghilang.
Rina berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya salah lihat.
Namun ketakutan mulai menyelimuti seluruh penghuni rumah.
Malam Paling Menyeramkan
Arman memutuskan untuk tetap terjaga hingga pukul 03.00.
Ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan suara tersebut.
Ketika jam menunjukkan pukul 03.00 tepat, ketukan itu kembali terdengar.
Tok... Tok... Tok...
Namun kali ini suara tersebut terdengar lebih keras daripada sebelumnya.
Lalu terdengar suara pelan dari atas loteng.
Suara itu seperti seseorang sedang berbisik.
Arman tidak dapat memahami apa yang dikatakan.
Beberapa detik kemudian terdengar suara lagi.
Kali ini lebih jelas.
"Apakah ada orang di bawah?"
Arman membeku.
Ia teringat tulisan dalam buku harian.
"Jangan pernah menjawab."
Tetapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya.
Dengan suara pelan ia berkata:
"Siapa kamu?"
Sesaat setelah itu seluruh rumah menjadi sunyi.
Tidak ada suara apa pun.
Bahkan suara jangkrik di luar rumah ikut menghilang.
Kemudian terdengar suara langkah kaki.
Bukan dari atas loteng.
Melainkan dari tangga menuju kamar mereka.
Duk...
Duk...
Duk...
Langkah itu semakin dekat.
Semakin dekat.
Hingga berhenti tepat di depan pintu kamar.
Pintu yang Bergerak Sendiri
Pegangan pintu mulai bergerak perlahan.
Kriet...
Kriet...
Rina memeluk Siska yang menangis ketakutan.
Arman berdiri memegang tongkat kayu.
Namun sebelum pintu terbuka, semua suara tiba-tiba berhenti.
Suasana kembali normal.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Mereka bertahan hingga pagi tanpa tidur sedikit pun.
Misteri yang Belum Terungkap
Keesokan harinya keluarga tersebut memutuskan meninggalkan rumah itu.
Mereka tidak pernah kembali tinggal di sana.
Beberapa tahun kemudian, rumah itu kembali kosong.
Meski demikian, cerita tentang suara ketukan di atas loteng masih terus beredar di desa tersebut.
Beberapa warga mengaku pernah mendengar suara tiga ketukan saat melewati rumah itu pada malam hari.
Ada pula yang mengatakan melihat bayangan berdiri di jendela loteng.
Hingga sekarang tidak ada yang tahu apa sebenarnya sumber suara tersebut.
Apakah hanya bunyi kayu tua yang memuai?
Ataukah ada sesuatu yang memang menunggu di loteng itu?
Satu hal yang pasti, menurut cerita yang beredar di desa tersebut, siapa pun yang pernah menjawab ketukan dari loteng tidak akan pernah melupakan malam ketika suara itu datang mencari mereka.
---
Disclaimer: Cerita ini adalah karya fiksi untuk hiburan dan bacaan bertema horor. Tidak berdasarkan kejadian nyata dan tidak dimaksudkan sebagai fakta.

